Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #20

Terduduk Melamun Dalam Keheningan

Padahal waktunya untuk buang air kecil tidak memakan waktu lama, tapi Salwa malahan keasyikan duduk diatas closet yang begitu bersih dan myaman sekali.

Sampai-sampai dirinya lupa, bila Atika sampai ketiduran menunggu dirinya masih asyik terduduk diatas closet, yang awalnya hanya untuk buang air kecil saja.

Terduduk melamun dalam keheningan, raut wajah seakan memaksakan kehendak hatinya untuk mengajaknya mengingat sepasang sepatu yang tadi baru saja di lihatnya.

"Sepatu itu sepertinya aku kenal. Seperti sepatu?" padahal sejak dari berapa menit tadi Salwa sudah pipis dan sudah berapa kali terdengar bibirnya mengucapkan mengenal sepatu yang di lihatnya tadi saat berada di lounges.

"Maaf'in aku, Fir. Kenapa perasaan ini seperti semakin tidak yakin lagi denganmu. Padahal aku tahu sebegitu yakinnya pada kedua orang tua kita dan pada kita berdua. Bila kita berdua ini adalah pasangan jodoh, jodoh pilihan Allah. Tapi kenapa seiring waktu berjalan, hati ini semakin tidak lagi ingin mengecap menanti kapan kamu akan segera melamarku. Apa aku bersalah untuk mengelak rencana Allah? Apa aku salah bila, aku tidak percaya dengan pilihan Allah?" terdiam raut wajahnya makin layu seraya bunga tujuh hari tidak tersirami air surga.

Ternyata disebelah toilet wanita, terduduk dalam keheningan penuh raut wajah tampan tapi bercampur kegelisahan terpapar di wajahnya Firman. Bila dilihat dari depan pintu closet tertutup rapat, masih rapi dan terikat gesper celana jeans hitam yang dikenakan Firman dengan setelan kaos putih berkerah.

Berkali-kali sepasang sepatu kets biru berlogo brand terkenal selalu di lihatnya, sedikit membungkuk kebawah kepalanya lalu di tegakan lagi melihat pintu closet tertutup ada di hadapannya.

"Diri ini seakan terbaring tidur dalam berselimutan keegoisan, serasa aku jadi manusia teregois sedunia. Sampai-sampai aku pergi meninggalkan kerinduan pengharapan Abah dan Ambu yang ingin sekali momong cucu dariku dan Salwa. Serasa relung hati ini makin terhempas jauh dari otak dan benak pikiran ini, yang tadinya aku sebegitu ingin sekali menancapkan bendera cinta ini diujung Gunung Burangrang sebagai bukti bila aku sangat mencintai Salwa. Tapi apa? Semua kehendak Allah, pelan-pelan aku singkirkan, seraya aku mengelak dan tidak jadi menancapkan bendera cinta itu diujung Gunung Burangrang. Ya Allah, maaf'kanku bila hati ini secara halus mengelak dari kehendakmu, bila Salwa itu bukanlah jodoh pilihanMu." ada keyakinan makin tergambar jelas diraut wajah Firman yang sebegitu menyatakan bila Salwa, bukanlah jodoh pilihan Allah. Padahal Abah dan Ambunya sering menggadang-gadangkan bila Salwa adalah jodoh pilihan Allah, untuk Firman.

"Tapi aku tahu, Ya Allah. Serasa berdosanya bila aku mengelak kenyataan yang sedang aku hadapi ini tanpa kepastian yang jelas. Padahal aku tahu, Kau begitu sayang padaku, dengan segala kemurahanMu selalu merapatkan dan mantapkan hati ini pada Firman. Tapi, Ya Allah? Tetap saja hati ini sekian lama hanya ada perasaan keraguan kegamangan yang selalu menghantui hati ini, bila Firman itu adalah jodoh bukan pilihanMu, ya Allah." beranjak bangun dari keheningan lamunan Salwa sambil tangan kirinya menekan knop splash closet.

"Burrrr ..." terdengar air turun dari dalam tengki putih berbentuk oval terjun kemudian turun kedalam liang closet terlihat riak airnya berputra-putar.

Lantas Salwa menarik grendel pintu ketepian sisi kiri pintu. "Krek" suara grendel di pentokan, lalu keluar Salwa tapi tidak lantas keluar.

Salwa berdiri didepan cermin, yang terlihat dari pantulan cermin masih tertutup pintu closet tapi tidak ada orangnya didalam. "Yang terpenting saat ini, aku harus menemukan Renol," guman dalam hati Salwa tidak yakin tergambar raut wajahnya didepan cermin besar persegi empat.

"Krek" pintu ditutup sambil tangan kirinya menarik handle tas koper yang sejak tadi disuruh menunggu didepan pintu toilet dan langkah jalan keluar Firman dari dalam toilet mulai mengajak menapaki lorong jalan pintu kedatangan.

Cahaya kilauan lampu penerangan yang berbaris sepanjang lorong atas plapon menerangi langkah jalan Firman.

"Prug, prug ..." suara jejak telapak sepatu semakin cepat berjalan.

Kedua kakinya mulai berjalan pelan, ketika dua matanya melihat sesorang yang di kenalnya terduduk tidur diatas tas kopernya hanya ditemani tas koper ada di hadapannya. "Itu'kan Atika? Atika?" panggil pelan terlontar dari bibir basah Firman masih setianya kumis kecil halus memayunginya.

"Atika?" sekali lagi panggilan halus seraya menghasut sukma hati sanubari Atika perlahan dua matanya terjaga, terbayang samar wajah tampan sudah berdiri di hadapannya hanya tersenyum seraya memanggil dan mengetuk hatinya Atika.

"Atika kenapa kamu tiduran di sini?" sontak sadar malu cepat Atika beranjak bangun dari duduknya dan kaki kanannya mendorong kebalakang tas kopernya terpentok dinding tembok, sungguh terlalu Atika yang tadi tas koper di pakainya sebagai alas untuknya tidur, kini tas koper itu ditendang terpentok dinding tembok.

"Itu, itu lagi nunggu teman," cuman asal-asalan doang telunjuk jari tangan kanan Atika menunjuk tanpa arah. Padahal cuman mau mengalihkan bibirnya masih tersisa iler saat diseka dengan tangan kirinya sontak Firman menahan tersenyum, padahal mau tertawa tapi takut dosa.

"Teman kamu?" sedikit melirik Firman kesisi kanan lorong jalan sepi.

Lihat selengkapnya