Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #21

Nyaman Tapi Gelisah

Hotel Renaissance London Heathrow hanya berjarak 8 menit saja bila berjalan kaki dari Bandara Heathrow London, dan terasa dekat sekali bila dua pasang mata ingin di manjakan dengan Kastil Windsor, kastil kebanggaan warga Inggris, yang berjarak hanya 13 kilo meter saja dari hotel.

Kamar dan suite modern bernuansa hangat jadi pilihan singgah Atika tentu saja semua itu di dapatinya dari fasilitas perusahan tempatnya bekerja. Beberapa kamar memiliki minibar dan terlihat dari sekat kaca besar kamar.

Pemandangan landasan pacu runway pesawat sungguh indah dengan jutaan kerla-kerlip cahaya lampu kiri kanan menerangi sepanjang landasan terlihat pada malam hari. Tentu kamar yang di singgahi Atika, kamar suite selama dirinya berada di London.

Kini giliran Salwa yang merasa suntuk dan bete, sinar cahaya bulan malam saja seakan malas buat mencolek menerangi wajah yang semakin tidak karuan gesturnya.

Berapa kali dirinya menahan kesal melihat Atika tertelungkup tidur pulas diatas dipan king bed, serasa memanggil nyaman dan empuk baringan kasur memanggil Salwa tetap saja tidak mau hanya berdiri didepan jendela kamar.

"Nyaman sekali hotel ini, tapi kenapa hatiku semakin gelisah terus. Kalau tahu begini aku tidak mau diajak Atika kesini. Kalau tahu begini tadi aku pergi saja sendiri mencari, Renol!" gerutu kesal Salwa masih berdiri perhatikan dari kejauhan tebaran lampu bercahaya Kastil Windsor dan tingginya Big Ben.

Sinar cahaya rembulan malam padahal sejak dari mengajaknya tersenyum, tapi karena cuman di cuekin Salwa, sinar cahaya rembulan malam malahan mengajak berkedipan dengan jutaan kedipan bintang makin menghiasi Kota London indah pada malam hari.

Berapa kali kursi di tariknya lalu di dudukinya, seperti ada bisul dipantat Salwa berapa kali dirinya terbangun lalu terduduk karena saking gelisah dan menahan marahnya pada Atika masih enak-enaknya tidur.

"Hihhh! Atika bangun ...!" kesal Salwa berteriak bangunkan Atika, dirinya masih berdiri membelakangi kaca besar sambil melipat dua tangannya didada tentu wajahnya masih menahan marah.

Fasilitas kamar suite, tentu bikin orang pasti di buatnya nyaman, tapi kenapa hati perasaan Salwa tidak sedikitpun bersabar dan menikmati fasilitas gratis.

"Atika bangun! Kapan kamu mau anterin aku!" terduduk disamping Atika, Salwa tidak enak hati saat tangan kirinya akan mencolek kaki kirinya Atika terbaring tidur dengan kenakan celana pendek dan kaos merah tua.

"Huhhh!" menehan marah Salwa beranjak bangun berdiri disamping dipan.

"Nih tv juga dari tadi tidak ada yang nonton!" kesal jempol kiri tangan Salwa menekan tombol merah power remot, karena sejak dari tadi dirinya terasa terganggu dengan suara siaran berita tv.

Kesal menarik lagi kursi di dekatkan pada dipan, masih terlihat kini terbaring memeluk bantal guling dalam dekapan hangatnya Atika. Sedikit mulai tersenyum raut wajah Salwa pandangai Atika, sebentar dirinya beranjak bangun meraih selimut putih kemudian sambil tersenyum Salwa menyelimuti Atika tidurnya semakin hangat terbaring dalam hembusan semilir sejuknya angin ac.

"Kenapa aku harus marah-marah dan tidak sabaran sama Atika? Kan' dia yang sudah berbaik hati samaku?" guman dalam hati Salwa melirik jam tangannya sudah pukul jam 12 siang waktu Bandung, jawa Barat. Lebih cepat 6 jam dari waktu di London, yang kini sudah menunjukan pukul 6 sore waktu setempat saat lirikan dua mata lintik Salwa melirik jam dinding.

"Astagfirullah, aku hampir lupa Sholat Magrib," rada terkejut Salwa teringat Sholat.

"Ya Allah, sungguh tiada taranya rasa ungkapan syukur dan terima kasihku selalu kupanjatkan padaMu. Maaf'kan aku, Ya Allah segala ketidak kuatnya hati ini untuk menjaga kepercayaanMu dengan segala rahmat dan nikmatMu berlimpah yang aku rasa'kan. Bibir ini seakan tidak pernah lelah untuk mengingatkan dirinya, tetapi kenapa balasan perlakuannya terhadapku sungguh jauh dari harapan relung membuka keyakinanku, Ya Allah. Aku berusaha untuk tidak mengelak segala rahmat dan nikmatMu yang kurasakan, tapi kenapa hati ini semakin terundung rasa gelisah berwadah ketidak yakinan terhadap dia, Ya Allah." cucuran linangan air mata semakin bermain asyik terjun bebas merosot kepipi dari dua mata Salwa semakin merona memerah berbalut mukenah putih.

Sedikit dua mata mengintip dari balik bantal yang menindih wajahnya Atika tidak sengaja menuping doa dan isakan tangisan Salwa masih terduduk Sholat.

"Kenapa Salwa?" guman bertanya dalam hatinya Atika masih mengintip dari balik bantal masih menutup sedikit wajahnya.

"Seakan hati ini semakin gelisah dan tidak yakin lagi dengan dia, Ya Allah. Tapi disisi lain keinginan hati dari Abah sangat ingin sekali, bila saya harus segera menikah dengan, Firman? Tapi? Tapi apa yang saya rasakan selama menjalin hubungan dengan, Firman. Hanya ketidak yakinan dan gelisah hati saya sepanjang hari, Ya Allah. Aku yakin, Kau marah kecewa padaku, Ya Allah. Bila aku selalu mengelak, bila Firman bukanlah jodoh pilihanMu." makin terjun bebas derain air mata basahi pipi cantik Salwa dengan dua matanya makin merona berkaca memrah makin tidak kuat menahan bendungan derasnya air mata.

Lihat selengkapnya