Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #22

Cerita Bercampur Sedih

"Padahal selama aku menjalin hubungan dengan, Firman. Hampir setiap hari aku selalu mengingatkan dirinya, mungkin Firman capek kali dengan kebawelan aku. Tapi hanya itu yang aku jadikan perhatian dan kasih sayangku pada Friman. Tapi seiring waktu terus berjalan, balasan Firman seakan membuat cinta ini semakin goyah. Padahal alaminya seorang wanita seperti aku hanya menunggu kapan dirinya akan dilamar oleh lelaki yang selama ini di impikannya menjadi suaminya. Tapi semuanya seakan sirna mimpi bahagiaku itu terasa tenggelam bersama penantian yang tidak berujung kepastian. Sampai sering aku mengelak dan tidak percaya pada Allah. Mungkin saja karena terdorong keinginan Abahku dan mungkin Ambu dan Abahnya Firman juga sama ingin sekali agar aku bisa berada dikursi pelaminan. Sekarang saja aku bermimpi indah itu bersama Firman aku tidak mau. Apalagi semakin berharap Firman adalah jodoh pilihan Allah." panjang lebar dan singkatnya Salwa menceritakan tapi tidak terlalu detil pada Atika.

Tapi'kan kamu juga harus sabar menunggu Firman, Salwa. Kali saja Firman sedang sibuk dengan kerjaannya," ditimplai Atika terbawa prihatin juga dengan cerita Salwa makin sedih. Salwa beranjak bangun dirinya lalu berdiri didepan cermin meja rias tampak raut wajahnya makin sedih tidak karuan.

"Aku sudah sabar, Atika menunggu Firman. Tapi sampai kapan Firman tidak memberikan kepastiannya padaku! Bahagianya seorang wanita dengan nalurinya tumbuh secara alami, ketika dirinya di hadapkan oleh lelaki yang dicintai terduduk bersimpu akan menyematkan cincin dijari manis ini hanya untuk melamarku! Itu yang aku nanti dari Firman, Atika!" makin sedih tidak karuan cucuran air mata semakin tidak terbendung keluar dari dua liang matanya dan terjun bebas basahi pipinya.

"Oke, oke Salwa kamu tahan emosi kamu agar tidak terus-terusan menangis. Oke, sekarang kamu lupakan Firman buat sesaat deh. Nah sekarang ini yang terpenting kedatangan kamu kesini'kan katanya mau mencari Renol?" di tariknya Salwa oleh Atika lantas di dudukinya diatas dipan. Semakin prihatin Atika melihat keadaan Salwa yang sebegitu banyak masalah mendera hidupnya.

"Aku janji, akan bantu kamu temanin kamu mencari Renol," tangan kanannya Atika memberikan selembar tissue yang di ambilnya dari meja.

Mereka berdua terduduk diatas dipan terlihat dari cermin meja rias, sedangkan sinar cahaya rembulan malam diluar sana semakin terang menerangi Kota London.

Sementara Intan masih berselimut dari kubangan dosa rasa bersalahnya. Hawa dingin makin membalut lereng perbukitan Gunung Burangrang begitu setianya kabut putih pekat masih menyelimuti sekitar.

Terduduk sedih Intan dikursi teras depan beranda rumah bercahaya samar penerangan lampu yang menggantung diatas plapon. Biasanya diselasar halaman depan rumah bila jam masih sore, masih ramai dengan santriwati yang lalu lalang, tapi kini terasa sepi mencekam sanubari hatinya makin terkurung rasa bersalah tidak termaafkan.

Terbungkus hijap putih dengan dress tunik panjang sampai menyentuh dua mata kiri kanan kaki Intan terduduk, tatapan dua matanya kosong melihat gelap bersalut kabut putih.

"Intan kamu belum tidur?" tanya Kyai Abdulah sudah berdiri dihadapan Intan tersenyum bercampur sedih sebentar menatap Kyai Abdulah sudah terduduk di hadapannya.

Kursi dan meja berbahan rotan hutan, di duduki anak dan Abahnya yang berusaha ingin meneguhkan sikap keras Intan ingin sekali menghilangkan jabang bayi yang sedang di kandungnya itu.

"Abah mau kamu tetap kandung jabang bayi itu, Ntan. Jangan'kan Allah yang menciptakan jabang bayi itu dalam rahimmu. Abah juga tidak mau, kalau kamu sampai hilangkan jabang bayi itu, yang dia itu adalah cucu Abah," tersenyum penuh tersirat makna terucap pesan mendalam dari mulutnya Kyai Abdulah.

"Tapi Abah? Aku malu mengandung bayi ini!" jawab Intan sedikit kesal.

"Siapa bilang Abah malu punya cucu yang sedang terkandung dalam rahimmu itu, Ntan? Sabarlah sedikit, sekarang ini'kan Abahnya sedang dicari sama Teteh Salwa. Abah tidak mau, Intan. Itu cucu Abah, anak kamu, anak titipan Allah," semakin berusaha Kyai Abdulah meyakinkan keinginan Intan untuk menghilangkan bayi yang sedang di kandungnya.

"Lihat itu Abah, sekarang hanya sepi. Biasanya bila menjelang malam terdengar santriwati sedang membacakan Ayat-ayat Suci Alquran, yang suaranya bikin terpancing setiap hambanya untuk selalu tepekur dalam itikap ikut segera mengumandangkan namaNya. Tapi sekarang hanya sepi, semua hanya gara-gara aku, mereka jadi pergi!" makin sedih sedikit bercerita Intan tentang semuanya karena gara-garanya.

"Intan, sudah berapa kali aku kasih tahu kamu. Kamu tidak boleh terus menyalahkan diri kamu dan jabang bayi yang sedang kamu kandung itu. Dia itu titipan Allah, tahu!" disela Ayla sambil meletakan secangkir teh hangat di hadapan Kyai Abdulah melempar senyuman pada Ayla terduduk disamping Intan.

"Kalau kamu masih terus menyesal dan menyalahkan diri kamu terus dan mau masih pikiran macam-macam kamu dengan jabang bayi itu! Lebih baik aku pindah saja tidurnya diasrama saja lagi!" merajuk ngambek Ayla sontak menggeser duduknya kesisi kanan Intan.

Lihat selengkapnya