"Pada saat tubuh kamu terasa sakit dan lemah, itu di karenakan Allah sedang mengampuni dosa-dosa kamu, Renol. Dosa-dosa perbuatanmu sekarang ini telah dihapus Allah, Renol dengan segala nikmat rasa sakit yang sepanjang ini kamu rasakan," ada rasa kasihan diraut wajah Ustad Hamzah perhatikan Renol hanya terbaring tidur lemas di uangan vip St. Thomas Hospital.
Husapan lembut telapak tangan Ustad Hamzah selalu mendarat diwajah Renol tersenyum namun tersirat wajah sesal mendalam serasa dirinya makin terjerembab dalam kubangan dosa. Ustad Hamzah, adalah pamannya Renol, adik kandung dari Lilis Atmaja.
"Allah sedang menghukumku, Paman. Begitu nikmat sakit saat ini yang kurasakan sekarang." tersenyum seraya mengakui bila Renol merasa bersalah.
Hanya tersenyum Ustad Hamzah, wajahnya sumringah perhatikan Renol masih terbaring tidur diatas bangsal berkasur nyaman, tapi tidak senyaman hatinya saat ini. Serasa ada sesuatu yang menganjal beban pikirannya, mulai perlahan dua matanya seakan ingin terpejam tapi tidak bisa.
"Andai saja Mami tidak terus mengekang saya, mungkin semua ini tidak terjadi. Saya mengerti dan paham dengan sikap keras Mami pada saya, Paman. Tapi nyata sikap keras Mami, malahan membuat saya tidak tahan dan malahan sekarang ini sampai membuat saya menyesal. Iya, menyesal seumur hidup saya tidak tahu sampai kapan semua ini berakhir," terduduk Renol ingin turun dari bangsal tapi ditahan Ustad Hamzah seraya melarangnya.
Flash Back
Aneka bentuk merk minuman beralkohol terlihat tergeletak berceceran dilantai kamar tidur Renol. Renol terkapar tidak sadarkan dirinya dilantai hanya kenakan celana pendek bertelanjang dada, hampir tiap hari Renol selalu minuman beralkohol dan juga hampir tiap hari dirinya selalu mabok dan selalu tidak sadarkan diri.
"Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi padaku. Hampir setiap hari tubuh ini terasa nikmat, tapi terasa berdosa sekali. Apa yang harus kukatakan pada Abah dan Teteh tentang semua kebohonganku selama ini?" terisak sedih terduduk diatas closet.
Dua matanya makin sedih, makin bercucuran air mata penuh dosa semakin membasahi terjun bebas pada pipi cantiknya Intan. Tubuhnya terbalut kain sprei putih, makin risau terselimuti kecemasan ketika dua mata Intan hanya menatap test pack menunjukan tanda positif.
"Prug" test dilempar kelantai.
"Tidak! Gua ngak boleh bodoh seperti ini!" gerutu tidak terima Intan, nyatanya dirinya hamil.
Toilet bernuansa putih dengan seluruh dindingnya juga berbalut keramik putih. Seakan cahaya penerangan tidak terlalu terang, seakan ikut sedih terasa dengan apa yang sedang di rasakan Intan.
"Hahhh!" sedikit teriak tidak terima.
"Bukk ... Bukkk ..." kesal Intan sambil dua tangannya memukul perutnya berapa kali sambil beranjak berdiri lantas tidak keluar dari dalam toilet.
"Pasti Abah dan Teteh akan sangat marah. Mereka berdua pasti akan sangat kecewa sekali," sambil membungkuk mengambil test pack terucap sedih dari bibir bergetar seakan ikut terasa menyesal. Langkah Intan terhenti tidak jadi melangkah keluar dari dalam toilet.
Pandangannya hanya melihat kearah Renol masih terbaring tidur dilantai, rasanya tidur lelapnya Renol tidak terasa dengan dosa yang sekarang di rasakan Intan.
"Hanya karena cinta ini tidak ingin terus berujung jurang terjal dan mendapatkan restu, gua terpaksa selalu memberikan segala keinginan Renol. Tapi nyatanya semakin hari, semakin gua memberikan segala kenikmatan dosa itu, semakin gua berada dibawah jurang gelap terjal penuh kubangan dosa," perlahan dua kaki Intan menghampiri Renol, tangan kanannya memegang test pack seraya ingin di tunjukan pada Renol.
"Hahh!" menahan terasa sakit didada Renol terjaga bangun, seraya duduk berdeku dengan tangan kanannya menempal pada dada kirinya.
"Renol?" terpancing bingung Intan tidak jadi menunjukan test pack pada Renol wajahnya pucat, hampir setiap hari itu yang selalu di rasakan Renol.
"Kamu sakit lagi?" tanya Intan duduk berdeku, untung saja lipatan sprei putih kencang sekali membungkus tubuhnya.
"Aku antar kedokter?" ada rasa kasihan Intan, tidak jadi dirinya ingin menunjukan test pack pada Renol bila dirinya sudah hamil berapa bulan ini.
"Tidak apa-apa, Intan. Mungkin aku hanya terlalu banyak minum. Aku hanya mabok saja barangkali," sahut Renol tapi tetap menahan sakit tangan kanannya masih menempel di dadanya sejak dari tadi.