Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #24

Kenapa Hati Ini?

"Hubunganku dengan Firman, sudah cukup lama juga berjalan. Tapi semakin kemari kenapa hati ini semakin menemui tebing terjal yang akan menghambat cita-cita indahku dengan Firman, Atika." terang lagi sembari dua matanya melirik sezadah masih nyaman tersangkut pada sandaran kursi hotel.

Kali-kali saja Atika mau melirik sazadah itu, tapi dirinya malahan terduduk lagi. Kelihatan bangat body mulusnya terlihat dari cermin yang berhadapan dengan dipan.

"Kok, kenapa hati ini seakan teringat dengan Firman, saat Salwa baru saja bercerita tentang pacarnya. Namanya sama dengan Firman?" terdiam sesaat Atika akan tertelungkup lagi rasanya tubuhnya masih ingin di manjakan lagi diatas dipan berkasur busa empuk.

"Atika, kamu tidak Sholat?" tanya Salwa sambil ambilkan sazadah dari sandaran kursi. Berapa saat Salwa cuman berdiri saja seperti tidak di pedulikan Atika dengan ajakannya itu.

"Aduh!" sahut Atika sembari nungging dua tangannya pegangin perutnya. Kayaknya Atika pura-pura sakit, sontak Salwa panik kembalikan lagi sazadah pada sandaran kursi.

"Kamu sakit, Atika?" respect Salwa terduduk minggir diatas dipan, dua kakinya menyamping menyentuh lantai.

"Atika?" makin panik Salwa saat Atika makin menahan sakit masih menungging.

"Iya, Salwa. Maag aku kambuh lagi," sahut Atika kelihatan bangat pura-pura sakit kalau Atika memang tidak pernah Sholat. Cepat Salwa beranjak bangun lalu menarik reseleting tas kopernya, semua isi dalam tas di keluarkannya.

"Untung aku bawa obat maag. Ini minum dulu, Atika." begitu paniknya Salwa sampai masa bodoh dengan pakaiannya yang berantakan berserakan dilantai.

"Atika minum ini." obat maag sudah di sodorkan pada wajah Atika masih mendarat diatas kasur empuk.

"Ayo Atika cepat diminum obat maagnya. Kamu persis sama seperti Firman. Dia juga sering sakit maag, makanya aku mungkin terlalu bawel sering, bah'kan hampir tiap hari aku ingat'kan Firman agar tidak telat makan," sedikit teringat lagi Salwa sambil pegang obat maag tangan kanannya. Tapi lagi-lagi obat maag cuman di diamkan saja samping wajah kiri Atika masih nungging.

"Firman? Aduh kenapa hati ini semakin keingatan Firman kalau Salwa mengatakan nama Firman?" guman dalam hati Atika sontak terduduk dan tangan kirinya mengambil obat maag dari tangan kanan Salwa sedikit tersenyum.

"Ya sudah kalau kamu masih sakit, nanti saja kamu Sholatnya." sambil jongkok dua tangan Salwa memasukan kembali pakaian yang berserakan di lantai.

"Loh kamu kenapa, Atika?" tidak jadi lagi Salwa masukin pakaiannya kedalam koper ketika melihat Atika malahan sedih.

"Maaf'kan aku, Salwa. Aku sudah bohongin kamu. Kalau aku cuman pura-pura sakit maag. Karena aku memang tidak pernah Sholat lagi," akui Atika turun dari atas dipan dan terduduk dikursi berhadapan dengan cermin.

"Sejak aku di tinggal'kan calon suamiku dan dia sudah menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Hancur hidupku, yang dulu ketika kami berdua pacaran. Kami berdua selalu rajin Sholat dan dia yang selalu mengingat'kan padaku agar aku tidak lupa Sholat. Setelah dia mengkhianatiku, aku jadi malas Sholat. Takut keingatan dia lagi," sekelumit cerita terpapar dari bibir seksi ranum merah jambunya Atika.

"Maaf, bukan maksudku ingin mengembalikan cerita dan mengingatkan memory kembali tentang calon suamimu itu, Atika. Tapi Sholat itu harus dan kewajiban kita sebagai wanita muslimah. Sholat itu tidak harus di jauh'kan, malahan Sholat itu harus melekat dan jadi santapan rohani buat mempertebal iman kita. Yakin saja Atika, bila calon suamimu yang meningglkan kamu dan dia menikah dengan gadis pilihan orang tuanya. Bila dia bukan jodoh terbaikmu. Kamu harus yakin, bila Allah akan memilihkan jodoh terbaik buatmu. Tapi Sholat itu tidak lagi kamu tinggal'kan," panjang lebar Salwa menasehati Atika dua matanya terpancing sedih.

Lihat selengkapnya