Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #25

Kesedihan Melanda

Lorong jalan RSIA Sayang Bunda tampak sepi, hampir semua pintu tertutup. Langkah jalan tidak semangat terasa malas di langkahkan dua kaki Intan. Siang itu dirinya ditemani Ayla selalu memaksakan agar mengecek kandungannya yang sudah memasuki 4 bulan. Artinya kandungan Intan menginjak usia muda, tapi bukan berarti Intan hanya cuek dan tidak periksakan kandungan pada Dokter.

"Intan! Ayo Intan!" kesal Ayla menarik paksa jalan Intan yang malahan berhenti ditengah jalan. Lalu lalang Suster dan Dokter hanya melempar senyuman pada Intan semakin malas untuk bertemu Dokter kandungan.

"Ngak! Aku malas, Ayla! Kamu saja sana yang nemuin Dokternya!" dua tangan Ayla di hentakan sempat terdorong mundur hampir tertubruk Dokter yang lewat.

"Maaf, maaf Dokter." menahan kesal Alya hampir dirinya menubruk kembali cepat berjalan lagi setelah melemparkan senyuman.

"Hampir aku tubruk Dokter itu, Ntan! Ayo ahh!" kesal Alya tarik lagi tangan kanan Intan terpaksa ikut berjalan lagi.

"Kamu'kan sudah janji sama Abah dan Tetehmu, Ntan. Bila kamu harus tetap menjaga dan melahirkan bayi yang ada dalam perutmu itu!" sambil berjalan mulut Alya terus menasehati Intan makin malas mendengarnya.

"Loh kamu kenapa menangis dan ngak mau jalan lagi? Ayo Ntan, kamu sudah ditunggu Dokter Carles!" makin kesal gedek Alya semakin menarik jalan Intan seakan dua kakinya terpasang rem dengan kanpas baru sehinggah pakem sekali.

"Aku malas, Ayla! Kamu saja ahh temuin Dokter Carles!" didorong lagi Ayla hampir terjatuh oleh Intan yang menolak tidak ingin bertemu dengan Dokter Carles.

"Kamu yang lagi hamil, masa aku yang nemuin Dokter Carles!" kilah kesal sontak dua tangan Ayla menarik jalan lagi Intan.

Antara Intan dan Ayla, siang itu mereka berdua memakai dress panjang warna hitam dan dan biru tua, dibalut dengan hijab dengan warna yang sama, warna putih. "Prug ... Prug ..." kompak suara sepatu teplek warna hitam yang membungkus sepasang kaki Intan dan Alya, tapi cuman beda model saja.

"Sirosis hati yang sekarang diderita Renol, mungkin dulunya terlalu banyak tertekan, dia jadinya stres dan banyak minum-minuman alkohol berkadar tinggi, yang jadi pelampiasannya. Ya, walau ada orangpun yang mau mendonorkan hatinya, semua itu kita kembalikan lagi pada Allah," tutur Mirah SpPD-KGEH.

Mirah beranjak bangun hanya bisa tersenyum saja kalah dirinya seakan dipaksa dengan sejumlah uang banyak oleh Lilis. Lilis menarik cek yang tadi ada dihadapan Mirah.

"Lis, sebanyak apapun uang kamu itu, kamu berikan pada saya. Tetap saya tidak bisa menerimanya, karena obat yang paling jago dan hebat. Adalah obatnya milik Allah saja. Lagian'kan sekarang Renol ada di London sedang berobat juga. Kan' tidak mungkin juga Renol balik lagi kesini. Kamu sendiri yang bersikeras mau kirim berobat Renol kesana. Padahal sejak dari awal, rumah sakit dan Dokter sini juga hebat-hebat. Kamu si keras kepala bangat!" sambil menasehati Mirah berdiri disamping Lilis menahan gusarnya.

"Di sana juga tidak ada perkembangannya, Mirah. Barangkali saja kamu mau menerima mengobati lagi Renol di sini!" kesal Lilis masukan cek tunai kedalam tasnya lagi. Raut wajahnya makin menahan emosi.

"Lagian kamu dengan Renol sama-sama terlalu keras kepala juga. Dan kamu terlalu egois. Jadi Renol tertekan stres. Ya, pelampiasannya Renol jadi cuman minum saja," kembali lagi terduduk Mirah berhadapan dengan Lilis makin jengkel, wajahnya di palingkan kesudut kanan ruangan praktek. Makin sebal Lilis tidak mau melihat Mirah, Lilis beranjak bangun dari duduk.

"Lis! Lilis! Sudah kamu percayakan saja Renol pada Dokter di London. Dan kamu juga banyak berdoa dong dan terus kurangin tuh egois kamu. Kamu kasih deh kebebasan Renol buat nentuin hatinya. Semoga saja Renol bisa sembuh," tertahan langkah Lilis tidak jadi keluar, saat Mirah menasehatinya.

"Ahhh! Kamu tahu apa tentang Renol, Mir! Aku ini Maminya! Yang melahirkan Renol! Kamu jangan menasehatiku terus deh! Sudah bilang saja kalau kamu tidak sanggup buat ngobatin Renol lagi!" sahut Lilis makin dongkol.

"Brak" pintu ditutup Lilis cepat Mirah tarik handle pintu tidak jadi mengejar Lilis yang sudah beranjak jalan cepat sekali. Mirah hanya tersenyum, stetoskop masih setia mengalungi lehernya dengan balutan seragam putih Dokternya.

"Huhhh! Semua gara-gara gadis itu! Kalau saja Renol tidak mengenal gadis itu, tentu saya tidak bersikap keras mengekang Renol! Orang tua mana, yang anaknya tidak ingin mendapatkan calon istri yang baik!" gerutu Lilis sambil berjalan susuri lorong sepi

"Prug ... Prug ..." terasa suara sepatunya makin berpijak kencang saat ujung high hells terus di pijakan pada lantai keramik putih.

"Kamu sedang apa di sini?!" terhenti langkah Lilis saat berpapasan dengan Intan dan Ayla sinis perhatikan raut wajah Lilis membuka kaca mata hitamnya yang di sangkutkan pada sela rambut ikalnya keatas.

Lihat selengkapnya