Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #26

Amarah Melunaknya Hati

Padahal masih pagi, belum terlalu siang dan mata kuliah masih cukup lumayan banyak. Sisi kanan kiri pintu berwarna bitu juga masih tertutup rapat, artinya mata kuliah satuan pelajaran yang belum selesai di ajarkan. Lorong jalan sangat terang sekali dengan pencahayaan yang menempel diatas plapon berdasar warna putih, lihat saja keramik lantai yang begitu bersih berwarna crem terang.

Tabung apar warna merah berselimut kotak segi empat berjejer menggantung disetiap dinding depan ruangan kelas, pastinya antisipasi kebakaran sangat di perhatikan sekali.

"Prug ... Prug ..." makin cepat terdengar suara langkah jalan Firman susuri lorong jalan sepi. Raut wajahnya pucat serasa menahan sakit, pastinya sakit maagnya sedang kambuh lagi.

"Huhh! Kenapa bisa kambuh lagi?" guman dalam hatinya kesal berjalan sambil menahan sakit. Tas ransel biru tua talinya menyangkut pada bahu kanannya Firman makin merasa sakit di perutnya.

"Aduh" terasa makin melilit dan tidak enak terasa langkahnya mengajak terdiam sesaat. Bulir peluh makin lincah bermain diwajah tampannya, terus terjun bebas turun menjuntai basahi wajah tampannya Firman. Makin pucat, makin menahan sakit bercampur kesal.

Tas ransel lalu di turunkan dari bahu kanannya, terduduk sesaat disamping lorong. Tangan kanan Firman mulai menaraik membuka reseleting tas ransel, lalu dua tangannya mencari sesuatu didalam.

"Hahh! Kenapa tidak dibawa obatnya!" gerutu disertai bulir perluh terjun bebas dari wajah Firman

"Srek ..." menarik tutup reseleting tas kopernya.

Makin pucat menahan sakit pandangannya hanya menoleh kiri dan kanan lorong sepi, pintu biru masih tertutup, artinya mata kuliah masih di ajarkan pada setiap kelas. Mau berdiri saja menahan sakit, hampir jatuh Firman karena makin terasa sakit perutnya akibat sakit maagnya terasa makin melilit.

"Ya Allah?" terdiam sesaat serasa teringat Salwa, Firman terduduk senderan dinding tembok ruangan kelas, tas ranselnya dipangku pada sela bagian dua kakinya melonjor kedepan. Berapa kali lengan panjang kemeja kotak-kotak biru di jadikan sebagai terhentinya bulir peluh agar tidak terujun bebas dari wajahnya.

Lalu dua kakinya ditarik dan di jadikan alas mendaratnya wajah tampannya diatas dua tumit kakinya. Celana jeans warna hitam, seakan menjadi basah lepek peluh karena saking menahan sakit maagnya, banyak bulir peluh mendarat bebas pada dua tumit beralas celana jeans hitam.

"Mungkin ini? Selama ini gua selalu mengabai'kan nasehat Salwa. Nyatanya setelah gua jauh dari Salwa, sakit ini makin menyiksa gua," ada rasa sesal tergurat di wajah Firman yang makin menahan sakit.

"Kenapa saat gua masih dekat dengan Salwa? Hati gua seakan keras ngak mau peduli dengan semua nasehat Salwa yang selalu mengingatkan gua agar tidak lupa sarapan dan sebagainya," serasa melunak hatinya Firman ketika sakit maagnya kambuh dan teringat dengan Salwa.

Lihat selengkapnya