"Kerusakan hati kronis dari berbagai penyebab yang mengarah kejaringan perut dan kemungkin bisa mengarah pada gagal hati dan hepatitis, semua itu karena penyalahgunaan alkohol berkadar tinggi. Kerusakan hati karena sirosis tidak bisa di pulihkan, tetapi kerusakan lebih lanjut dapat dicegah," beber rinci Sabat, dr Sp. PD-KGEH, masih orang Indonesia yang praktek di St. Thomas Hospital.
Ustad Hamzah berapa kali hanya menoleh pada Renol hanya terduduk, raut wajahnya semakin terasuki rasa sesal yang mendalam saat duduk berhadapan dengan dr. Sabat beranjak bangun hanya untuk berdiri disamping kanan Renol sedikit tersenyum lalu bahu kanannya ditepuk halus.
"Kamu jangan putus asa begitu, Ren. Segala penyakit pasti ada obatnya. Hanya kamu harus yakin pada setiap terapi dan obat-obatan, pastinya kamu juga harus yakin pada Allah, karena Dia adalah maha segalanya. Saya yakin, derita sakit yang sedang kamu alami saat ini, kamu sering sekali mengalami kelelahan, lemas, dan penurunan berat badan. Lihat itu sebagain kulit kamu mulai menguning. Selanjutnya akan ada pendarahan gastrointestinal, pembengkakan perut, dan pastinya kamu akan mengalami kebingungan. Tapi semua itu kamu jangan yakut atau putus ada, Ren. Pasrahkan segala nikmat yang sekarang kamu rasakan padaNya." tersenyum sesaat dr. Sabat perhatikan raut wajah penuh sesal, lalu kembali terduduk lagi berhadapan dengan Renol dan Ustad Hamzah.
"Saya juga sudah dapat banyak info tentang rekam medis dari dr. Mirah, rekan sejawat saya yang di RSIA Sayang Bunda. Saya akan tetap berusaha untuk membantu kamu, Renol. Tapi saya juga minta pada kamu agar kamu tidak lagi mengkonsumsi minuman alkohol lagi, paling tidak kamu tidak lagi minum deh. Dan saya yakin, disamping kamu sekarang ini ada Ustad Hamzah. Saya yakin dia bisa membimbing kamu kearah yang semakin benar." tidak lelahnya Sabat sebegitu baik menasehati Renol tetap saja raut wajahnya makin murung, makin terasa sesal.
Hari cerah tapi awan kelabu masih nakal menghalangi laju sinar terik matahari. Terasa sendu langit Kota London siang hari, serasa menyayat hati dengan penjelasan dr. Sabat tentang sakit yang diderita Renol. Pandangan dua matanya sendu beratap langit mendung, sesaat hanya dilirik Ustad Hamzah yang ketika itu mereka berdua hanya terduduk dikursi pada tepian Sungai Thames London.
Dari kejauhan terbentang mega jembatan menara Tower Bridge, adalah jembatan yang membentang diatas Sungai Thames London. Jembatan ini menggabungkan dua desain jembatan angkat dan gantung, letaknya yang berdekatan dengan London Tower membuat jembatan ini diberi nama Tower Bridge, Jembatan ini selesai dibangun tahun 1894, dan merupakan salah satu ikon keren kota London.
Jembatan ini terdiri dari dua bangunan menara yang di hubungkan pada tingkat atas oleh dua koridor untuk pejalan kaki. Dari koridor untuk pejalan kaki yang berada 42 meter diatas Sungai Thames, pengunjung dapat menikmati keindahan kota London dari atas. Pemandangan yang bisa dilihat termasuk di antaranya Katedral St. Paul, pusat bisnis dan belanja Canary Wharf, dan London Eye.
"Semua ini gara-gara Mami, Paman!" kesal beranjak bangun Renol terasa kesal dengan Lilis. Dua tangan Renol lalu menggapai besi peyangga Sungai Thames, padangan dua matanya di manjakan dengan hamparan riak tenang permukaan Sungai Thames. Banyak perahu besar besar, yang sebentar lagi akan berjalan mengantar turis menyusuri Sungai Thames.
"Andai saja Mami tidak melarangku berhubungan dengan Intan, tentunya minuman itu tidak akan menjadi sahabat setiaku, Paman. Sekarang ini makin terasa sesal dan marah berkecamuk tidak terima dengan segala kondisi yang aku rasakan saat ini. Terlebih berdosa sekali aku, ketika saat ini anak yang sedang dikandung Intan, aku campakan begitu saja. Semua karena Mami yang tidak suka, bila aku masih berbuhungan dengan Intan!" perlahan Ustad Hamzah beranjak bangun setelah kuping kiri kanannya mendengar keluh kesah bercampur amarahnya Renol.
Hembusan semilir angin yang menghempas riak permukaan Sungai Thames terasa sejuk saat menerpa wajah dan pepohonan disekitar tepian sungai.
"Ya sudah, sudahlah Renol. Jangan kamu ingat kembali, karena akan membuat kamu semakin sakit dan kesal saja. Yang terpenting sekarang ini, bagaimana untuk mengobati sakit kamu itu agar bisa sembuh. Benar kata dr. Sabat, hanya kamu yakin pada setiap terapi dan obat-obatan, pastinya kamu juga harus yakin pada Allah, karena Dia adalah maha segalanya. Itu adalah obat paling tiada tandingnya di dunia ini." beber Ustad Hamzah sudah berdiri disamping Renol sempat melirik kewajah Ustad Hamzah, Pamannya yang diutus Lilis untuk menjaga Renaol selama berada di London.
Terduduk Renol dan Ustad Hamzah dikursi bis double-decker warna merah. Senyuman raut wajah Ustad Hamzah terpatri ketika dua matanya di manjakan sepanjang jalan dengan pemadangan indah bangunan tua, Buckingham Palace istananya sang Ratu Elizabeth, Tower Bridge dan Big Ben. Tapi tidak pada Renol, hatinys seakan nelangsa rindu merindukan Intan dan calon anaknya, yang kini dirinya terpisah jauh oleh jarak dan waktu.