Baru saja berlari, dua kakinya Salwa sudah pegel-pegel dan napasnya makin tersengal-sengal. Hijab warna kuning salem makin tersamar dengan bunga-bunga ditaman, tapi mirip dengan kelopak mekar bunga-bunga terhampar di sepanjang St James Park, yang tidak jauh dari kawasan Buckingham Palace. Pepohonan teduh, dedauannya tampak bergerak menari karena hempasan semilir angin sejuk.
"Salwa ..." panggilan teriak Atika sambil mengejar.
"Hihhh kenapa lagi Salwa?! Kok tiba-tiba turun dari bis dan sekarang dia lari. Itu lagi kenapa dua lelaki yang tadi di bis sekarang juga ikut mengejar juga?" gerutu kesal Atika smepat menoleh kebelakang Renol dan Utad Hamzah masih beralri mengejar.
"Salwa ..." teriak Renol tapi kayaknya tidak bisa mengejar Salwa, dua pandangan matanya mulai kabur dan larinya mulai gontai sempoyangan.
"Renol! Renol ...!" teriak terhenti larinya Ustad Hamzah ketika melihat Renol terjatuh didepan.
"Itu kenapa lagi dia bisa jatuh? Salwa itu lihat ...!" menoleh sebentar kebelakang Salwa.
"Salwa lihat dia, kenapa dia bisa jatuh?" makin bingung Atika seraya penasaran menunggu jawaban Salwa perlahan dua langkah kakinya menghampiri Renol yang masih terbaring diatas rumput hijau.
Terasa lemas dan tidak berdaya, napasnya tersengal-sengal. Dua matanya berkaca-kaca tapi memerah, wajahnya makin terlihat tampan saat colekan sinar matahari tetap berada di wajah Renol paksakan tersenyum.
"Dia Renol, lelaki yang sudah menghamili Intan!" tatapan mata sendu sambil berucap bergetar dari bibirnya Salwa memberitahukan pada Atika hanya diam mengangguk saja.
Ingin rasanya marah Salwa, dua tangannya berkepal serasa ingin sekali memukul bertubi-tubi wajah Renol. Atika rada bingung sedikit ketika melihat Salwa malahan terduduk, dua tumit kakinya tertahan diatas rumput.
"Salwa?" ucap pelan Atika melirik dua tangan Ustad Hamzah seraya menahan Atika agar diam saja.
Begitu bergetar bibir Salwa seraya ingin meluapkan emosinya, lihat saja dua tangannya makin mengepal tanda makin marah. "Atika tinggalkan aku berdua saja dengan Renol" pinta Salwa melirik Atika mengangguk diam dan Ustad Hamzah hanya menoleh pada Atika lantas berjalan pergi.
Hanya senyumam penuh keyakinan termbar dari raut wajah Ustad Hamzah, yakin apa yang akan diperbuat Salwa. Lantas Ustad Hamzah berjalan susuri jalan setapak St James Park, mengejar Atika sesaat menoleh kebelakang Salwa menaik pelan tangan kanan Renol beranjak bangun dan terduduk.
"Atika ayo" sahut Ustad Hamzah sebentar ikut menoleh pada Salwa dan Renol terduduk, dua kakinya di lonjorkan memanjang dengan menatap sendu penuh kesalahan tergurat jelas di wajahnya Renol perhatikan wajahnya Salwa.
"Kenapa aku tidak berani marah? Kenapa aku tidak berani untuk memukul atau menggampar pipi Renol dengan segala perbuatannya pada Intan? Seakan kemarahan hati ini luluh lantah dengan keadaan Renol sekarang. Padahal kemarahan amukan marah makin meletup dalam dirinya ingin mengamuk? Tapi kenapa tidak bisa?" guman dalam hati Salwa, dua tangannya tidak lagi mengepal dan bibirnya tidak lagi bergetar karena menahan emosi.
"Kenapa perasaan ini jadi kasihan dengan keadaan Renol? Seakan kemarahan ini berubah jadi rasa kasihan?" guman lagi dalam hati Salwa hanya menatap wajah sendu penuh ketakutan di wajahnya Renol akan menggeser pantatnya kebelakang.