Flash Back
Dua pasang mata saling bertatapan disertai dedaunan kering berguguran lagi terbang diatas mereka berdua. "Kenapa perasaan hati seakan ingin menghkianati cintanya Intan?" guman dalam hati Salwa masih tidak sadar berapa saat tangan kanannya masih menggenggam tangan kanannya Renol.
"Maaf, maaf Salwa." merasa tidak enak hatinya Renol menghentakan pelan tangan Salwa hanya tersenyum menatap wajah tampan Renol.
"Kok perasaan gua makin bergetar, makin terasa bila ada sesuatu yang tersembunyi didalam relung hati Salwa?" pikiran yang sama dalam hatinya Renol hanya berani berguman saja dalam hatinya.
Langit makin teduh, hembusan semilir angin makin terasa sejuk menggerakan bunga-bunga dan dedaunan seraya ikut bahagia sumringah tahu apa yang sedang di pikikan dua insan siang menjelang senja di St James Park.
Masih teringat kejadian tadi di St James Prak, Salwa hanya tersenyum berdiri, tentu saja bingung Atika ingin bertanya kenapa, tapi tidak ada enak hati.
Atika kayaknya tahu apa yang sedang di pikirkan Salwa makin cengar-cengir tidak karuan sendirian berhadapan kaca tebal bulat London Eye, perhatikan sepanjang Sungai Thames das Kota London.
"Semoga dugaan gua ngak salah dengan yang terjadi pada Salwa?" ucap dalam hatinya Atika melempar senyuman pada waga lokal.
"Kenapa hati gua kok jadi keingatan Renol terus? Apa gua jatuh cinta? Apa benaran ini getaran cinta yang sesungguhnya? Kenapa saat gua bersama dengan Firman, kok beda bangat ketika gua bertemu dengan Renol? Ngak? Ngak mungkin gua jatuh cinta dengan Renol. Gua ngak mau khianati Firman?" hanya berdiri saja, dua mata Salwa perhatikan sekitar Kota London dari tabung kapsul kaca London Eye.
London Eye atau di sebut juga Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar d dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar diatas Sungai Thames, London, Britania Raya dan mulai beroperasi pada akhir 1999.
"Andai saja dia ada disini?" guman keceplosan Salwa.
"Siapa, Salwa?" sontak disela Atika berdiri di sampingnya. Lagi-lagi hanya diam, dua matanya Salwa hanya perhatikan Kota London dan padatnya Sungai Thames banyak perahu berjalan diatas permukaan tenangnya riak air.
"Aneh loe, Salwa!" kesal juga Atika di cuekin Salwa makin tidak jelas senyumannya, kesal Atika melirik Salwa makin cengar-cengir bikin sebal saja.
"Salwa, gua ngerti dan kayaknya gua tahu deh kalau cengar-cengir loe itu punya arti. Gua harap misi loe masih sama dengan keberangkatan loe dari Bandung. Kalau loe datang kesini, cuman mau nyari Renol dan loe ajak pulang dia buat Intan, adik loe! Jangan loe bilang, kalau loe udah jatuh cinta sama Renol, karena keaadaanya sekarang! Lantas gimana Firman?!" makin terlontar ocehan kesal Atika siang itu pakai kaos putih ketat dengan celana jeans hitam bersepatu kets putih.
Baru sadar Salwa dengan semua ocehan Atika, wajahnya menoleh kearah Atika yang kini malahan dia acuh cuek dan menahan kesalnya. Terus berputar pelan tabung kapsul kaca London Eye, tadi diatas kini berada dibawah makin jelas terlihat bantaran Sungai Thames dari tatapan dua mata Salwa sudah terduduk dikursi kayu yang berada di tengah-tengah kapsul kaca besar berselimut kaca tebal.