Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #30

Misi Awal Makin Terlupakan

"Apa salahnya aku, Atika?! Bila pertemuanku dengan Renol, membuat aku prihatin dan menyukainya?! Selama ini aku tidak pernah merasakan ada getaran cinta, saat aku bersama dengan Firman. Walau aku sering mendengar rencana Abahku serta Abah dan Ambunya Firman. Mereka selalu membicarakan rencana pernikahanku dengan Firman. Selalu terbesit dalam relung hati terdalamku, Atika. Seakan aku di yakinin Allah, bila Firman itu adalah jodoh pilihanNya. Tapi hubunganku antara Firman ibarat bunga mawar yang berduri lebat. Saking aku percaya yakin dengan belaian cinta Firman, tapi seringnya Firman menebar duri dalam kesetiaan cintaku ini, Atika." panjang lebar ungkapan kesedihan pilu derita hati Salwa terduduk diatas dipan bersepri putih.

Linangan air mata semakin dasyat, semakin bebas deras keluar dari liang kubangan dua mata lentik berkaca-kaca memerah penuh amarah. Ada kalahnya hati gundah bersalut kecewa tertahan di sesaknya dada Salwa selama dirinya berhubungan dengan Firman.

"Selama ini aku sudah sangat bersabar sekali, Atika. Saat menghadapi sikap lembutnya Firman. Sering aku selalu mengingatkan Firman, tentang segala kecemasanku dengan keadaannya. Tapi terkadang semua itu tidak di gubrisnya. Rasa kecewa dan jengkel makin menjamur dalam hatiku ini, tapi masih menyimpan cinta pada Firman. Tapi setelah bertemu dengan Renol, hatiku seakan bertambah yakin Atika. Bila bunga mawar yang akan di berikan Renol, tidaklah berduri," makin sedih Salwa, makin teringat kesabarannya selama ini pada Firman.

"Iya, gua ngertiin loe, Salwa. Tapi loe engak bisa begini juga. Misi awal loe itu makin terlupa'kan! Loe lupain Intan, adik loe yang berharap bangat loe bisa bawa pulang Renol. Tapi ini loe malahan sekarang suka sama Renol, lelaki yang udah hamilin Intan, adik loe itu!" rada sewot juga Atika kayak makin tidak peduli ada dengan Salwa wajahnya makin sembab basah dengan deraian air mata makin terjun bebas jatuh basahi pipinya.

"Atika, Atika harusnya kamu ngertin saya. Kamu sama saya, sama-sama punya perasaan naluri seorang wanita. Dan pastinya kamu pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta. Cinta itu terlahir dari rasa ketidak pedulian kita pada siapapun, karena saking cintanya aku pada Renol sampai-sampai aku melupakan misiku datang kesini untuk mencari Renol. Tapi malahan aku yang jatuh cinta dan suka dengan Renol!" sedih bercampur bingung Salwa beranjak bangun lalu mengambil tasnya yang tergeletak diatas meja rias, sempat terlihat wajah kesedihan Salwa di cermin.

"Salwa ... Salwa! Loe mau kemana?!" terkejut Atika saat Salwa akan pergi.

"Brak" tidak sempat mengejar Atika, Salwa sudah keburu keluar dan tutup pintu kamar hotel kencang sekali.

"Salwa ... Loe mau kemana ...?" teriak panggil Atika berusaha mengejar Salwa, padahal diluar tampak sudah malam gelap. Kamar 201, selama berapa hari ini Salwa dan Atika menginap di Hotel Renaissance London Heathrow, begitu saja di tinggalkan.

"Salwa ..." teriak mengejar Atika berlari susuri lorong kecil hotel berlantai dengan diselimut karpet tebal made in Italia bercorak kembang dengan warna dasar merah bercampur hitam. Kiri kanan pintu hotel berwarna kayu oak tua hanya tertutup dari dalam, seakan tamu hotel yang sedang berada didalam seakan tidak peduli dengan teriakan panggilan Atika terus mengejar Salwa makin tidak terlihat.

Berjalan kecil jalur kerikil dua setengah mil , beraut wajah sedih bercampur gundah gulana. Pijaran cahaya tiang lampu berjejer sepanjang jalan The Garden at Buckingham Palace adalah taman pribadi besar yang terhubung dengan kediaman Raja London. Terletak dibelakang Istana Buckingham, menempati situs seluas 42 hektar di Kota Westminster.

Sinar cahaya rembulan bulat sempurna sebentar-sebentar terhalang gumpalan awan hitam nakal, tapi sinar rembulan malam sangat tahu malam itu ingin sekali menerangi langkah kecil dalam kesedihan Salwa melewati jalan setapak kerikil kecil. Rerumputan kecil hijau seakan mulai mengantuk terlelap dalam tidurnya, tapi tidak dengan dedaunan pohonan masih terlihat bahagia menyambut kedatangan hembusan semilir angin.

Sorotan samar cahaya tidak terlalu terang makin menyoroti desain interiornya yang di dominasi oleh hiasan yang berasal dari awal abad ke-19, dimana masih banyak juga yang terpajang hingga sekarang. Termasuk penggunaan warna-warna cerah yang dikenal dengan teknik scagliola dan biru serta merah jambu lapis.

"Maaf'in Teteh, Ntan. Teteh, bakalan ngak bisa bawa pulang Renol buat kamu. Walau Teteh pernah berjanji akan membawa pulang Renol buat kamu," kesedihannya makin mendera wajah Salwa melirik sinar cahaya rembulan menatap wajah sedihnya.

Lihat selengkapnya