Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #31

Malam Terbalut Kecewa

Derap langkah jalan pasti teratap sinar rembulan terang dengan kilauan jutaan kerlap kerlip bintang bertaburan dilangit semakin setianya mengiringi langkah jalan Firman.

Dengan berjaket tebal hitam, bercelana jeans biru dongker bersepatu kets hitam. Sesaat dua matanya melirik kehalaman dalam Buckingham Palace, dari tepian jalan.

Tampak sepi sunyi berpayung cahaya lampu tiang sepanjang taman Buckingham Palace. Malam itu Firman baru saja dari klinik yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Lihat saja sejak dari tadi tangan kirinya tidak penah lepas dengan kantong plastik putih, pastinya isinya obat-obatan yang harus diminum teratur bila maagnya tidak akan lagi menyerang.

"Gua berharap Salwa akan tahu dengan keberadaan gua disini dari Ambu dan Abah. Gua berharap dan yakinin hati gua, bila Salwa itu adalah jodoh pilihan Allah," sumringah tersenyum kembali berjalan lagi Firman sesaat dirinya terhenti ditepian jalan berpagar hitam setlah perhatikan pelataran luas halaman Buckingham Palace.

"Gua harus yakinin diri gua, bila Salwa itu benar adalah jodoh plihan Allah. Gua janji setelah gua selesai kuliah disini. Gua akan segera melamar Salwa. Nyesal gua selalu mengabaikan mengindahkan nasehat Salwa. Nyatanya semua nasehat bawel Salwa, benar adanya buat gua," guman tersenyum dalam hatinya Firman berjalan susuri tepian jalan sepanjang jalan kawasan Buckingham Palace.

"Gua pikir benaran, kalau Salwa itu benaran jadi sahabat baik gua. Nyatanya Salwa sama aja kayak mantan calon suami gua, dia sama-sama nyakitin perasaan gua!" terus gerutu Atika makin kesal dengan tingkah Salwa, dirinya tidak menyangka telah mengenal Salwa.

Yang awalnya Atika yakin, bila dirinya berteman dengan Salwa bisa mengembalikan Atika kembali lagi percaya pada Allah dan bisa dibimbing Sholat lagi.

Malam makin larut, tampak sepi sekali tepain jalan kawasan Buckingham Palace. Tidak banyak kendaraan lalu lalang, hanya satu dua kendaraan yang lewat itu dengan sorotan sinar cahaya lampu samar saja.

Lirikin sinis mata kirinya Atika masih sempatnya melirik kedalam pelataran Buckingham Palace yang rasanya hanya terbalut sepi saja.

"Rugi gua kalau tahu begini kenal sama Salwa!" terus berjalan kesal menggerutu sambil berjalan menunduk kedingingan, lihat saja dua tangannya bersedakap mendarat di dadanya. Terus berjalan dan terus berjalan menahan dinginnya angin malam, kebetulan didepan ada tiang lampu, tapi cahaya lampu redup sekali.

"Hiihhh! Loe punya mata ngak si?! Kalau jalan lihat-lihat dong! Sakit tahu main tubruk aja!" tuding kesal Atika sinis perhatikan lelaki yang menubruk dirinya barusan karena cahaya lampu jalan tidak terlalu terang.

"Heiii! Loe budek ya?! Apa tuli?" tuding lagi Atika sontak menarik jaket hitam yang dipakai lelaki yang sesaat membelakanginya itu.

"Hiihhh! NIh orang emangan ngak punya mulut ya?! Cuman diam aja kayak gagu loe!" samar-samar terlihat wajah lelaki yang terus dituding Atika makin penasaran menariknya kebawah tiang lampu yang agak terangan sedikit cahayanya.

Hanya tersenyum menahan tawa saja, ternyata lelaki itu Firman. "Kenapa loe tawa-tawa aja? Firman? Kamu benaran Firman?" kesalnya terhenti berganti malu, ketika Firman maju berdiri dibawah tiang lampu bercahaya terang.

"Maaf, aku pikir siapa?" tersipu malu wajah Atika perhatikan wajah Firman memang tampan sekali.

Rada bingung dan ketakutan Atika mundur kebelakang sudah pikiran macam-macam saat Firman buka jaket hitamnya. Firman masih pakai kemeja lengan panjang kotak-kotak biru tua. Firman hanya tersenyum saja, tahu apa yang sedang di pikirkan dalam hatinya Atika ketakutan.

"Pakai jaket ini, Atika. Kamu kedingin'kan?" jaket di sodorkan tangan kanan Firman cepat di ambilnya tangan kiri Atika lalu memakai jaket itu.

"Kamu ngapain di sini, Atika?" tanya Firman berjalan pelan mengiringi langkah jalan Atika tersenyum malu.

"Aku kesal saja sama temanku tadi, Fir. Ternyata aku salah memilih teman!" sahut Atika terhenti langkahnya melirik kantong plastik putih yang masih ditenteng tangan kirinya Firman.

"Kamu dari mana, Firman?" tanya Atika sambil menarik reseleting jaket pinjaman Firman.

"Aku baru dari klinik. Maagku kambuh tadi siang, Atika?" jawab Firman sambil tunjukan kantong plastik kewajah Atika.

"Tempat tinggal kamu masih jauh dari sini? Gimana aku antarkan saja. Soalnya sudah malam, tidak baik kamu pulang sendirian," ujar Firman cemas bila Atika pulang sendirian.

Lihat selengkapnya