Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #32

Aku Tak Bisa

"Tidak, Fir! Jangan kamu kejar Salwa sekarang!" sentuhan tangan halus Atika serasa seketika menyalur seluruh urat nadi sampai jantungnya ikut bergetar.

Tatapan sendu dua mata Firman saat menatap senyuman wajahnya Atika rasanya tidak ingin Firman beranjak jalan menyusul Salwa.

"Biarkan Salwa pergi bersama Renol," sentuahan tangan halus Atika seketika di lepaskan, mungkin dirinya berpikir tidak mau jadi penghalangan bagi Firman bila sentuhan hangat tangannya kanannya masih menggengam erat tangan kiri Firman.

"Renol?" seluruh nadinya mulai mengalir kedalam darah makin ikut rasa bersalah dan ketidak yakinan dalam tubuhnya dan menyambar benak hatinya, serasa dua kakinya bergetar lemas ikut merasakan ada ketidak yakinan dengan Salwa.

Raut wajah Firman hanya terdiam memandangi gelap pelataran Buckingham Palace bersekat pagar besi.

"Apa? Salwa sekarang?" guman setengah hati disertai perasaan Firman ketidak yakinannya dengan Salwa makin memuncak tidak yakin lagi.

"Aku tidak bisa mengatakannya, Fir?" sahut Atika masih ada etikanya dengan tidaknya memberitahukan sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan hatinya Salwa.

"Ingin sekali hati ini semakin dekat denganmu, Firman. Tapi aku tahu diri, bila sekarang ini hati sedang marah memuncak dengan ketidak yakinanmu dengan sikap Salwa yang mulai berpaling pergi dari hatimu. Inginnya aku masuk kedalam relung hatimu yang terdalam untuk menggantikan Salwa, tapi rasanya aku tidak bisa. Karena aku tahu, relung hati kecil terdalammu masih mencintai, Salwa," guman panjang dalam hati Atika hanya berani mengungkapkan senyuman saja pada wajahnya menatap wajah kebingungannya Firman.

"Aku tak bisa, aku tak bisa diam saja disini, Atika. Aku harus yakinkan hati ini, agar gunung ketidak yakinanan itu semakin memuncak ingin meluapkan ketidak percayaanya," terasa yakin perasaan Firman cepat berlari meninggalkan Atika.

"Firman ..." saat tangan kanan Atika akan menyambar tangan kiri Firman langsung menghentakannya dan mendorong minggir Atika spontan memanggil Firman berlari sambil melempar kantong plastik obat.

"Aku tak bisa membiarkan hati ketidak yakinan ini makin membelengguku terus. Aku takin Salwa dan Renol hanya teman biasa saja," guman dalam hati Firman berlari, padahal maagnya belum di obatinya dan takutnya kumat lagi.

Lihat selengkapnya