Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #33

Menanti Rindu Dalam Kedustaan

Ada rasa kegelisahan makin melobangi ketidak yakinan hati perasaan Kyai Abuldah, lihat saja raut wajahnya terasa makin cemas dan gelisah. Kyai Abdulah hanya berdiri ditengah lapangan sepi, biasanya banyak sekali santriwati bercanda tawa setelah melepas penat seharian belajar, tidak lagi terdengar suara lantunan Ayat Suci Alquran dari dalam kelas, tidak lagi terdengar suara guru sedang mengajar dan tidak adalagi terdengar suara halus sapaan santri pada Kyai Abdulah.

Kumis dan jenggot makin melintang panjang, terasa hanya di biarkan saja menghiasi wajahnya, terasa banyak beban pikiran makin menggelayuti pikiran sampai lingkaran kelopak matanya menghitam karena kurang tidur.

Tentu saja sebagai peran orang tua, sebagai Abah terasa malu disandang pada Kyai Abdulah telah gagal mendidik Intan, anaknya yang kini kehamilannya makin membesar.

Lereng Gunung Burangrang terlihat makin indah menghijau dari kejauhan beratap langit yang sebentar lagi diselimuti serpihan awan kelabu.

Siang terasa makin cepat berlalu dengan sebentar lagi senja datang membawa kesunyian membawa serta merta dalam tidur sesaat mengajak rindu yang pastinya terbayar dengan kedustaan.

Bangunan Pesantren Al Nur Iman kini semakin sunyi, apalagi sebentar lagi akan terselimuti dengan senja perlahan mengajak gelapnya malam datang.

Serpihan senyuman haru bercampur sedih segara terajak dengan langkah berat Kyai Abdulah saat lirikan dua matanya menatap kelas-kelas kosong.

Benar saja rintik kecil hujan mulai bermain menari-nari bahagia basahi raut wajah Kyai Abdulah cepat berjalan kearah selasar rumah yang bersampingan dengan bangunan pesantren.

"Barangkali saja Teh Salwa belum nemuin dimana, Renol?" celetuk Ayla seraya ingin membantah ketidak yakinkan Intan berdiri dibalik jendela. Wajah Intan hanya terdiam tidak percaya melihat rintik hujan semakin basahi rumput kecil hijau makin terasa bahagia.

"Hampir semingguan Teh Salwa mencari Renol, di London. Tapi sudah semingguan juga Teh Salwa ngak kasih kabar," sahut Intan dua tangannya pegang jeruji jendela, terasa hatinya makin terpenjara dalam penantian ketidak pastian. Dua matanya mulai mengajak bermain bersama rintik hujan diluar makin deras.

Lihat selengkapnya