Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #36

Ada Rasa Keraguan

"Sal, Salwa maafin, gua." terhenti langkah Salwa hanya berdiri depan pintu hotel, Atika cepat menghadang dan berdiri dihadapan Salwa hanya diam tersenyum sinis saja, wajahnya hanya menoleh pada kawasan Kastil Windsor tampak asri sekali terlihat pepohonannya pada siang hari.

"Loe marah sama gua?" tangan kanannya Salwa terpaksa melepaskan handle tas koper saat ditarik tangan kanannya Atika berusaha merajuk agar tidak marah dengan dirinya.

"Bodohnya gua yang ingin jadiin loe sahabat gua, yang gua berharap loe bisa kembali nuntun gua gimana jadi gadis muslimah yang baik. Tapi nyatanya impian gua makin kandas saat kecewaan loe akan pergi meninggal'kan gua, Salwa. Betapa egosinya gua kenapa hati ini semakin yakin, bila ingin masuk paksa kedalam hatinya Firman. Nyatanya Firman sangat yakin bangat kalau loe itu adalah jodoh pilihan Allah," air mata kesalahan makin basahi wajahnya Atika, dirinya makin sadar tidak ingin lagi mencoba masuk kedalam hatinya Firman.

"Hak setiap insan mencintai siapapun saja, Atika. Termasuk loe buat mencoba masuk kedalam hatinya Firman, adalah hak loe. Gua juga ngak bisa ngelarang loe buat mencoba yakinkan hatinya Firman. Antara gua dan Firman, hanya rahasia Allah saja. Apakah gua dan Firman jodoh pilihan terbaiknya Allah. Hanya Allah saja yang tahu, Atika. Walau sepanjang jalan ini masih ada keraguan hati gua sama Firman. Tapi biarlah sekarang langkah jalan gua ini yang menentukan siapa jodoh terbaik pilihan Allah buat gua." tersenyum jawaban Salwa yakin dirinya akan pergi meninggalkan Atika makin sembab wajahnya dengan air mata penyesalannya sudah mencoba mengahsut dan mendobrak hatinya Firman agar meninggalkan Salwa.

"Salwa ... Salwa! Gua janji ngak akan lagi mencoba masuk kedalam hatinya Firman. Gua yakin loe juga masih sayang dan mencintai Firman ... Gua yakin loe jodoh pilihan Allah yang terbaik buat Firman ... Dan gua janji akan kembali jadi wanita muslimah yang baik ..." sedih hanya sedih terduduk berdeku Atika meyakinan Salwa yang makin tidak terlihat lagi berjalan dilorong hotel Heathrow London.

"Yakin ini tempatnya, Ntan?" tanya ragu Ayla sudah bosan sejak dari tadi dua matanya cuman clingak-clinguk perhatikan kawasan Buckingham Palace. Padahal kedua kakinya sejak dari tadi sudah pegal-pegal kecepakan berjalan.

"Lagian kalau loe ngak mau capek ya, jangan ikut Ayla! Dirumah saja temanin Abah!" sahut kesal Intan perhatikan kawasan Bunckingham Palace dari luar, dirinya hanya berdiri terhalang pagar besi jeruji. Hanya senyuman seraya memuji keindahan bangunan kokoh unik Bunckingham Palace, tapi dirinya tidak bisa menjangkaunya.

"Kalau tahu begini, lebih baik nemenin Abah saja deh!" gerutu Ayla terduduk diatas tas koper warna merah tuanya sambil punggung belakangnya sandaran tembok setengah pagar. Lirikan matanya kebawah, banyak ceceran obat tidak tahu obat siapa itu. Masa bodoh kayaknya dua matanya Ayla dengan ceceran obat yang ada didepan.

"Lagian juga mau nyusul Renol ngak tahu dimana alamatnya. Kenapa juga ngak minta sama Maminya Renol?" masih kesal dan tidak terima sejak dari tadi Ayla cuman duduk dan menggerutu saja.

"Kalau saja Maminya Renol mau menerima gua, mungkin gua ngak sampai disini, Ayla buat mencari dimana Renol!?" sahut kesal juga Intan lihat saja dress putih lengan panjanganya makin terlihat menyundul membungkus perutnya makin membuncit, tapi kali ini Intan sudah makin sadar dengan dirinya telah yakin akan terus memakai hijab.

Hijab hitam siang itu membalut wajah dan kepalanya, makin terlihat cantik Intan dengan sepatu teplek hitam membungkus dua kakinya.

Lihat selengkapnya