Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #37

Cinta Itu Makin Terbayar Dusta

Terduduk sedih diatas sazadah panjang, berusaha tegar tidak meneteskan rintik air mata walau dua mata Dila makin tidak tahan menahan bendungan kesedihan.

Bibirnya bergetar ikut merasakan pilu terhenti sesaat kumandangan Maha SegalaNya yaitu Allahu Akbar, dalam setiap untaian tasbih yang jari jempol tangan kanannya terus menggelindingkan bola kecil disertai kumandang Maha SegalaNya.

Raut wajahnya makin tidak tahan sudah jatuh sembab basahi oleh setiap tetesan rintik air mata sebentar-sebentar diseka dengan ujung mukenah putih mendarat pada wajah Dila.

Mungkin malam itu dirinya hanya bisa pasrah saja pada Allah, dengan keinginan hatinya tidak akan lagi pernah terwujud untuk menikahkan Salwa dan Firman.

Ponsel di letakan kembali pada meja nakas, setelah Bagyo mendapatkan kabar dari Firman tentang segala kegundahan perasaan hatinya yang makin tidak menentu tentang hubungannya dengan Salwa.

Tapi untung saja Bagio sudah menunaikan dirinya jadi Imam Sholat Magrib malam itu, baru saja Firman memberitahukan bila Bagyo dan Dila agar tidak terlalu berharap lebih dengan renacana pernikahan mereka berdua lagi.

Tentu wanita mana yang tidak sedih ketika mendengar anaknya tidak lagi ingin melanjutkan rencana pernikahannya, pastinya wanita itu akan sangat sedih sekali.

"Abah?" beranjak bangun Dilla walau berat dirinya untuk beranjak bangun meninggalkan sazadah, dimana sazadah itu setiap hari dalam 5 waktu di pakainya sebagai alas dirinya mengadu semakin mendekatkan dirinya pada Allah.

"Tidak mungkin Salwa memberikan dusta cintanya pada Firman. Ambu tahu betul gimana cinta mereka berdua, Abah," tidak percaya Dila berdiri dihadapan Bagyo hanya terdiam lalu terduduk perhatikan raut wajah ketidak yakinan Dila dengan keputusan Firman ingin menyudahi hubungannya dengan Salwa.

"Ambu sangat yakin kalau Salwa adalah jodoh pilihan Allah yang terbaik buat Firman, Abah," makin sedih, makin bercucuran air mata pilu kesedihan Dila sontak terduduk wajahnya kirinya berpangku mendarat pada belahan dua paha Bagyo terbungkus celana panjang putih.

"Abah juga tidak yakin Ambu cinta Firman terbayar dengan dusta," belaian hangat halus telapak tangan Bagyo berapa kali mengelus kepala Dila terbalut mukenah putih, makin deras kesedihan air mata membasahi celana panjang putih.

"Abah juga tidak mengerti kenapa Salwa dan Firman bisa bertemu disana? Dan Abah juga tidak habis pikir kenapa Salwa mengkhianati cintanya Firman?" makin sedih Bagyo dan makin tidak percaya sembari sekali bibir tebalnya mendarat menciumi kepala Dila seraya hanya memberikan kesejukan dan ketenangan agar air matanya tidak lantas mengalir deras terus.

Lihat selengkapnya