Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #38

Bukti Cinta & Kerisauan

Tidak biasanya Kyai Abdulah bersedih, tidak tahu kenapa setelah mendapatkan kabar dari Salwa yang memutuskan jika dirinya tidak akan pernah menikah dengan Firman.

Pakaian lengan panjang serba putih sangat berkilau ketika tersorot sinar cahaya lampu penerangan kamar, pakaian yang di kenakan Kyai Abdulah.

Tapi tetap saja hatinya malam itu tidak secerah putih pakaiannya, hanya tatapan kosong dua matanya memandang gelap malam langit.

Untung saja langit malam itu sangat indah sekali, lengkap dengan cahaya sinar rembulan malam dan jutaan kedipan bintang.

"Apa dan kenapa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Salwa?" guman dalam hati Kyai Abdulah risau, tangan kanannya menyela masuk kedalam jeruji jendela dan menarik daun jendela tertutup sudah.

Kyai Abdulah terasa hati dan raut wajahnya makin risau seakan ada sesuatu yang tengah terjadi pada Salwa. Yang padahal baru berapa hari saja Intan ditemani Ayla berangkat ke London.

"Ya Allah," guman dalam hati Kyai Abdulah makin risau hatinya berkecamuk, raut wajahnya makin berkerut. Hanya berdiri saja perhatikan kamar yang sunyi dan sepi, hanya seorang diri.

"Ya Allah, jauhkan prasangka buruk dan risau dalam hati ini," guman Kyai Abdulah sekekarang ini terduduk dikursi, tapi dua matanya masih tersirat kerisuan yang makin menjadi, walau sedikit panjantan doa terdengar terlontar dari mulutnya.

"Ustad, kapan mau ngajak saya temuin, Renol?" rada maksa Intan sambil melepit sazadah, makin kelihatan bangat perutnya membuncit dari balik balutan mukenah merah muda yang di pakainya malam itu waktu London.

"Iya nih Ustad Hamzah. Dari tadi jawabannya cuman nanti, tunggu waktu yang tepat. Memang ada apa si, Ustad? Kok sampai Intan ngak boleh cepat-cepat nemuin Renol? Memang Renol sakit apa? Atau jangan-jangan Renol udah di jodohin sama gadis lain ya, sama Maminya?" berondongan pertanyaan Ayla pada Ustad Hamzah hanya tersenyum sambil meletakan sazadah diatas meja.

Malam itu Udtas Hamzah baru saja jadi Iman Sholat, karena kedatangan Intan dan Ayla. Tersenyum Intan perhatikan foto Renol yang terpampang pada dinding, ada rasa sedih dan risau mulai mendarat pada wajahnya Intan.

"Apa kita cari saja, Ntan dimana Renol dirawat?" makin tidak sabaran Ayla karena jengkel bangat sama Ustad Hamzah dari tadi cuman senyum-senyum doang dan kali ini malahan terduduk sambil meneguk kopi hangat saat bibirnya mulai mengecup bibir cangkir warna biru tua.

Lihat selengkapnya