Jodoh Pilihan Allah ~Novel~

Herman Siem
Chapter #39

Gua Hanya Mau Salwa

"Yakin kamu bisa sembuh, Ren." kata dr. Sabat seraya menyemangati setelah periksa Renol masih terbaring, hanya senyuman terpancar dari wajahnya itu juga terpaksa.

Lemparan senyumannya lalu melirik kearah jendela, di sugguhkan pemandangan indah beratap langit cerah namun sendu. Hanya kelihatan ujung menara Tower Brige dari kejauhan dua matanya memandang, terasa dalam hatinya tidak pernah bergeser sedikitpun tentang cintanya pada Intan.

"Saya harap pun begitu, Dokter. Saya bisa segera sembuh," sahut Renol kini dua matanya tegas menatap dr. Sabat berdiri disamping kiri bangsal sebentar ikut perhatikan kearah luar jendela.

"Saya tahu keadaan kamu bagaimana, Renol. Tapi paling tidak, kamu tetap ada niatan untuk sembuh. Ya, kalau pikiran kamu melayang seperti awan dilangit itu, tentu saja sakit yang kamu derita sekarang tidak akan pernah sembuh. Coba deh, kamu seperti Menara Tower Bridge itu, dia begitu kokoh berdiri walau diterjang panas dan hujan. Menara itu tetap terdiam berdiri kokoh, bah'kan selalu tersenyum memberikan keindahan pada orang yang mengaguminya." seraya ingin memberikan semnagat dr. Sabat tahu apa yang sedang dipikirkan Renol hanya terdiam saja.

"Siang Dokter," sudah melangkah masuk Firman ucapan sapaan terdengar halus terlontar dari bibir tipis beratap kumis tipis berdiri disamping kiri bangsal berhadapan dr. Sabat.

"Loe?" sahut sinis Renol palingkan wajahnya kearah dr. Sabat sontak tangan kirinya mengambil stetoskop dari lehernya ada rasa tidak enak hati bila dirinya terus berlama-lama menasehati Renol.

"Oke Ren. Saya visit kepasien dulu. Kamu harus tetap semangat," sebelum beranjak jalan dr. Sabat tidak bosan-bosan menasehati Renol.

Begitu inginnya seorang Dokter pada pasien yang segera bisa sembuh, namun semua itu diluar kendali kemampuan seorang dr. Sabat yang baki dan masih kelihatan tampan walau sudah berusia tua.

"Ngapaian loe datang?!" sinis pertanyaan Renol yang sebenarnya usia dirinya dengan Firman tidak terlalu jauh. Kedatangan Firman siang itu mungkin tidak tepat saja waktunya, mungkin saja Renol ingin tidak diganggu atau ingin melemaskan seluruh otot pikirannya agar tidak terlalu stres.

"Gua tahu kedatangan loe mau mastiin'kan? Apa benar hatinya Salwa mau ngebuang hati loe yang selama ini hati loe selalu bersama?" sambil pelan-pelan beranjak bangun masih berwajah sinis Renol makin tahu kedatangan Firman untuk apa.

Lihat selengkapnya