Jodoh Yang Salah

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Janji di Atas Puing

Aris memutar-mutar cincin perak di jari manisnya, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh keraguan. Di hadapannya, Maya duduk terpaku menatap sisa kopi yang mendingin, sementara suara tawa anak-anak mereka dari ruang tengah justru terdengar seperti dentum lonceng peringatan. "Kita ini dua nakhoda yang pernah karam, May," gumam Aris dengan suara berat yang tertahan di tenggorokan.

Maya melepaskan pandangannya dari cangkir, matanya berkaca-kaca mencerminkan ketakutan yang sama besar dengan harapan yang ia simpan. Ia selalu merapikan ujung taplak meja saat merasa terpojok, sebuah ritual kecil untuk mencari keteraturan di tengah kekacauan emosi yang meluap. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan sebuah pertaruhan besar atas stabilitas mental anak-anak yang masih membawa luka perceraian orang tua mereka.

Bayangan tentang bagaimana putra Aris akan menerima kehadiran Maya sebagai ibu sambung, atau bagaimana putri Maya akan melihat Aris, terus menghantui setiap rencana masa depan mereka. Aris cenderung mengambil keputusan berdasarkan logika perlindungan yang kaku, seringkali mengabaikan bahwa perasaan tidak bisa diatur seperti jadwal kantor. "Aku tidak ingin mereka merasa dikhianati untuk kedua kalinya hanya karena ego kita," tegas Aris sambil mengepalkan tangan di atas meja.

Ketegangan memuncak ketika suara pecahan kaca terdengar dari arah kamar anak, diikuti oleh teriakan protes yang sudah lama terpendam. Konflik bukan lagi sekadar bayangan batin, melainkan ledakan nyata yang memaksa mereka menghadapi kenyataan bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup untuk menyatukan dua trauma yang berbeda. Maya berdiri dengan gemetar, menyadari bahwa setiap langkah maju yang mereka ambil bisa berarti luka baru bagi jiwa-jiwa kecil yang mereka cintai.

Di tengah perdebatan sengit tentang hak asuh dan penyesuaian rumah tangga, sebuah rahasia lama terkuak melalui surat yang terselip di tas sekolah sang anak. Ternyata, rencana pernikahan mereka telah memicu aliansi rahasia antara mantan pasangan mereka untuk menggagalkan kebahagiaan baru ini dengan cara yang sangat kotor. Pengkhianatan ini memutarbalikkan segalanya, mengubah perjuangan cinta mereka menjadi medan perang hukum yang mempertaruhkan keberadaan anak-anak di sisi mereka.

Aris menatap Maya dengan tatapan yang kini kosong, menyadari bahwa keputusan mereka untuk bersatu justru menjadi senjata bagi masa lalu untuk menghancurkan apa yang tersisa. Tidak ada jalan kembali, karena kepercayaan anak-anak mereka telah hancur berkeping-keping akibat manipulasi yang selama ini tidak mereka sadari. Kini, mereka berdiri di ambang kehancuran yang lebih hebat daripada kegagalan pernikahan pertama yang pernah mereka lalui masing-masing.

Maya hanya bisa terduduk lemas saat menyadari bahwa putri kecilnya telah mengemas tas dan berdiri di pintu depan dengan mata yang penuh kebencian. "Kalian bilang ini untuk kami, tapi kalian hanya peduli pada diri sendiri," ucap bocah itu dengan suara yang memutus seluruh harapan yang tersisa di ruangan itu. Malam itu, senja di pelupuk mata mereka benar-benar meredup, menyisakan kegelapan yang tak lagi menjanjikan fajar bagi keluarga baru yang mereka impikan.

Lampu taman yang meremang menciptakan bayangan panjang di atas rumput yang masih basah oleh sisa hujan sore tadi. Aris menyesuaikan letak kacamatanya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan saat dadanya terasa sesak oleh debaran yang tak menentu. Di hadapannya, Maya berdiri mematung, jemarinya terus memilin ujung syal wol berwarna gading yang melingkar di lehernya. Suasana begitu sunyi, hanya deru napas mereka yang bersahut-sahutan dengan suara jangkrik di kejauhan yang memecah keheningan malam di sudut kota yang mulai terlelap.

Tanpa aba-aba, Aris merendahkan tubuhnya hingga satu lutut menyentuh tanah yang dingin, sebuah gestur yang terasa asing sekaligus sakral bagi pria seusianya. Ia tidak membawa kotak beludru merah atau rangkaian bunga yang mencolok, melainkan hanya sebuah tatapan mata yang tajam namun penuh dengan kerentanan. "May, aku bukan pria yang bisa menjanjikan istana tanpa badai," ucapnya dengan ritme bicara yang lambat dan berat, sebuah ciri khas yang selalu muncul setiap kali ia membuat keputusan besar dalam hidupnya yang penuh luka.

Maya terpaku, matanya menatap lekat pada jemari Aris yang sedikit gemetar di atas lutut sang pria sendiri. Ingatan tentang kegagalan pernikahan pertamanya mendadak melintas seperti kilat, membawa aroma kepahitan yang dulu hampir menghancurkan jiwanya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa sesak yang merayap di tenggorokan, sementara hatinya berperang antara keinginan untuk lari atau menetap. Ketakutan akan pengkhianatan yang pernah ia alami seolah menjadi hantu yang menolak pergi dari balik punggungnya malam ini.

Aris melanjutkan bicaranya dengan nada yang lebih rendah, hampir menyerupai bisikan yang tulus di tengah embusan angin malam. "Kita berdua sama-sama tahu bahwa sisa senja di mata kita sudah tidak lagi jernih karena terlalu banyak debu masa lalu yang hinggap di sana," katanya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan cerita tentang kesepian panjang. Ia memilih untuk jujur tentang ketidaksempurnaannya, sebuah kecenderungan yang selalu ia ambil daripada harus memoles kenyataan dengan kebohongan manis yang fana.

Butiran bening mulai menggenang di pelupuk mata Maya, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak menangis karena duka, melainkan karena rasa takut yang begitu hebat akan kemungkinan bahwa kebahagiaan ini hanyalah fatamorgana yang akan menguap saat matahari terbit. Setiap kata yang diucapkan Aris terasa seperti sembilu yang menyayat lapisan pelindung yang selama ini ia bangun dengan susah payah untuk menjaga hatinya yang pernah hancur berkeping-keping.

Maya teringat akan wajah putrinya yang sering bertanya mengapa ibunya selalu menatap kosong ke arah jendela setiap kali hujan turun di sore hari. Bayangan tentang bagaimana menyatukan dua keluarga yang masing-masing membawa luka batin dan ego dari masa lalu membuat kakinya terasa lemas. Namun, di hadapannya, Aris tetap bergeming dalam posisinya, menunjukkan keteguhan hati yang jarang Maya temui pada pria manapun setelah perceraiannya yang menyakitkan beberapa tahun yang lalu.

Aris meraih tangan Maya yang dingin, menggenggamnya dengan kehangatan yang seolah mampu mencairkan kebekuan di hati wanita itu. "Aku tidak meminta kamu untuk melupakan masa lalu, karena itu adalah bagian dari siapa kita hari ini," bisiknya dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan. Keputusannya untuk melamar Maya di tempat yang sederhana ini adalah bukti bahwa ia lebih menghargai substansi daripada sekadar seremoni mewah yang sering kali berakhir dengan kepalsuan di balik pintu rumah tangga.

Maya mencoba mencari celah keraguan di mata Aris, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang telanjang dan tekad yang bulat untuk membangun sisa hidup bersama. Ia merasakan dorongan kuat untuk percaya sekali lagi, meskipun risiko untuk hancur kembali tetap membayangi setiap langkah yang akan mereka ambil nantinya. Ketulusan Aris yang tidak berusaha menutupi kekurangan diri justru menjadi daya tarik yang paling mematikan bagi pertahanan diri Maya yang selama ini sangat kokoh.

Angin malam berembus lebih kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Maya yang menutupi wajahnya yang basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ia menatap langit malam yang tanpa bintang, seolah mencari jawaban dari semesta tentang nasib yang sedang ia pertaruhkan di bawah lampu taman ini. Keheningan di antara mereka bukan lagi sebuah kecanggungan, melainkan sebuah ruang tunggu bagi sebuah jawaban yang akan mengubah arah hidup dua jiwa yang pernah tersesat dalam kegelapan.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel Aris memecah suasana, sebuah pesan singkat dari mantan istrinya yang menanyakan perihal hak asuh anak yang kembali memanas di pengadilan. Aris terdiam sejenak, rahangnya mengeras, namun ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Maya, seolah menegaskan bahwa badai apa pun yang datang tidak akan membuatnya goyah. Konflik yang sedang mengintai di depan mata terasa begitu nyata, mengancam fondasi yang baru saja ingin mereka letakkan dengan penuh harapan dan doa.

Maya melihat perubahan ekspresi di wajah Aris dan ia menyadari bahwa pernikahan ini tidak akan pernah menjadi perjalanan yang mudah bagi mereka berdua nantinya. Ada anak-anak yang harus dijaga hatinya, ada mantan pasangan yang mungkin akan terus mengusik, dan ada trauma yang sewaktu-waktu bisa kambuh tanpa peringatan. Namun, melihat sorot mata Aris yang tetap tenang meski sedang ditekan oleh beban masa lalu, Maya merasa bahwa pria ini adalah pelabuhan terakhir yang layak untuk ia tuju.

Perlahan, Maya mengangguk kecil sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan, sebuah gerakan yang membuat napas Aris yang tertahan akhirnya terlepas dalam sebuah kelegaan yang luar biasa. Namun, tepat saat Aris hendak berdiri untuk memeluknya, Maya membisikkan sesuatu yang membuat darah pria itu seolah berhenti mengalir seketika. "Aris, ada satu hal tentang masa laluku yang belum pernah kukatakan padamu, dan ini mungkin akan membuatmu menyesal telah berlutut di sini malam ini," ucap Maya dengan suara yang mendadak dingin dan penuh rahasia.

Lampu gantung di atas meja makan bergoyang pelan, membiarkan bayangan temaram menari-nari di atas piring porselen yang masih bersih. Aris berulang kali memutar cincin kawin di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh kegelisahan yang tidak menentu. Aroma rendang yang ia bawa dengan harapan bisa mencairkan suasana justru menguap sia-sia, tertahan oleh dinding tak kasat mata yang dibangun oleh gadis kecil di hadapannya.

Kia, putri tunggal Maya, duduk tegak dengan punggung kaku yang seolah tidak menyentuh sandaran kursi kayu jati tersebut. Matanya yang bulat tidak menunjukkan binar kekanak-kanakan, melainkan tatapan selidik yang tajam, seolah sedang membedah setiap gerak-gerik Aris untuk mencari celah kesalahan. "Aku tidak lapar," gumamnya pendek, suaranya datar tanpa intonasi, sebuah pola bicara yang ia gunakan hanya saat merasa terancam oleh kehadiran orang asing.

Maya mencoba menengahi dengan senyum yang dipaksakan, jemarinya mengelus lembut bahu Kia yang tampak tegang seperti busur panah. "Cobalah sedikit, Sayang, Om Aris sudah susah payah membelikan ini dari restoran favorit kita dulu," bujuknya dengan nada suara yang bergetar pelan. Namun, Kia justru semakin merapatkan bibirnya, sebuah keputusan keras kepala yang sering kali membuat Maya merasa gagal menjembatani masa lalu dan masa depan mereka.

Aris berdeham, mencoba memecah kesunyian yang mencekam, namun suaranya justru terdengar parau di telinganya sendiri. "Tidak apa-apa, Maya, mungkin Kia memang sedang ingin makan yang lain," ujarnya sembari berusaha menampilkan raut wajah yang tenang meskipun hatinya terasa seperti diremas. Ia selalu cenderung mengalah dalam konflik kecil, sebuah bias keputusan yang ia ambil demi menjaga kedamaian yang sebenarnya rapuh di rumah baru ini.

Suasana semakin dingin ketika Kia tiba-tiba mendorong piringnya hingga menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga di ruang makan yang sunyi itu. Ia menatap Aris lurus-lurus, seolah ingin menegaskan bahwa kehadiran pria itu di kursi yang biasanya kosong adalah sebuah pelanggaran wilayah yang tak termaafkan. "Dia bukan ayahku, dan dia tidak akan pernah bisa menggantikan Ayah," teriak Kia tiba-tiba sebelum berlari menuju kamarnya dengan langkah kaki yang menghentak keras.

Maya tertunduk lesu, air mata mulai menggenang di sudut matanya saat ia menyadari betapa dalamnya luka yang masih tersimpan di hati putrinya. Aris hanya bisa terpaku, tangannya yang gemetar kembali memutar cincin di jarinya, sebuah ritual bisu untuk menenangkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya sendiri. Ia tahu bahwa memenangkan hati seorang anak yang merasa dikhianati oleh keadaan jauh lebih sulit daripada sekadar berbagi atap dan janji pernikahan.

Lihat selengkapnya