Aris memutar cincin di jari manisnya, sebuah kebiasaan kecil yang muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh bayang-bayang masa lalu yang mendadak hadir tanpa diundang. Di sudut ruang tamu yang temaram, ia menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah pesan singkat dari mantan istrinya, menuntut waktu lebih untuk bertemu anak mereka akhir pekan ini. Suara detak jarum jam dinding seolah mengejek kesunyian yang mulai merayap di antara ia dan Maya, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun terasa begitu nyata dan dingin.
Maya sendiri hanya terpaku di depan jendela, membelakangi Aris sambil meremas ujung daster batiknya hingga buku-buku jarinya memutih, sebuah gestur yang selalu ia lakukan saat menahan amarah yang meluap. Aroma kopi yang mulai mendingin di atas meja tidak lagi menenangkan, justru menambah kesan pahit pada atmosfer ruangan yang biasanya penuh dengan tawa kecil dan rencana masa depan. Bayangan mantan suaminya yang tiba-tiba muncul di depan gerbang sekolah tadi siang masih menghantui pikirannya, membawa kembali trauma lama yang ia kira sudah terkubur rapat.
"Kita tidak bisa terus begini, May. Setiap kali mereka mengusik, kita seperti orang asing yang saling menyalahkan atas kegagalan yang bukan milik kita berdua," suara Aris terdengar berat, dengan ritme bicara yang lambat dan penuh penekanan pada setiap kata yang keluar. Ia cenderung mengambil keputusan untuk menghadapi masalah secara frontal, meskipun ia tahu kejujurannya sering kali melukai perasaan Maya yang masih sangat sensitif terhadap isu pengkhianatan. Aris berdiri, mencoba mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu Maya yang sedikit bergetar karena isakan tertahan.
Maya membalikkan badan dengan mata yang memerah, menatap Aris dengan tatapan yang sulit diartikan, perpaduan antara rasa lelah yang amat sangat dan keraguan yang mulai tumbuh kembali di hatinya. "Kau bicara seolah ini mudah, Ris, sementara setiap kata dari laki-laki itu selalu mengingatkanku pada alasan kenapa aku pernah merasa tidak berharga sebagai seorang wanita dan ibu." Ia berbicara dengan nada yang bergetar, mencerminkan kerapuhan yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum manisnya sebagai seorang istri baru yang mencoba tegar menghadapi badai.
Ketegangan itu memuncak ketika sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Maya, dan nama yang muncul di layar adalah sosok yang paling ia hindari selama tiga tahun terakhir, membuat suasana semakin mencekam. Aris merebut ponsel itu dengan gerakan cepat, sebuah bias keputusan yang impulsif demi melindungi wilayahnya, namun tindakan itu justru memicu ledakan emosi yang selama ini terpendam di antara mereka. Ruang tamu itu menjadi saksi bisu bagaimana dua orang yang saling mencintai bisa terjebak dalam pusaran ego dan luka lama yang belum sepenuhnya mengering.
Di tengah keributan itu, anak lelaki Maya muncul di ambang pintu kamar dengan wajah bantal dan mata mengantuk, memegang robot mainan yang salah satu lengannya sudah patah, menatap kedua orang tuanya dengan bingung. Kehadiran bocah itu seketika membungkam amarah yang hampir meledak, memaksa Aris dan Maya untuk menelan kembali kata-kata tajam yang sudah berada di ujung lidah mereka masing-masing. Namun, rahasia besar yang baru saja terungkap melalui pesan singkat di ponsel Aris mengubah segalanya, sebuah pengkhianatan kecil yang melibatkan mantan istrinya dan rencana rahasia mereka.
Aris terdiam seribu bahasa saat Maya membaca pesan yang menyatakan bahwa Aris diam-diam masih membiayai utang lama mantan istrinya tanpa pernah berdiskusi sedikit pun dengan pasangan hidupnya yang sekarang. Kepercayaan yang mereka bangun dengan susah payah selama setahun terakhir runtuh seketika dalam satu malam yang penuh dengan air mata dan kekecewaan yang mendalam. Maya melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangan Aris, menyadari bahwa pernikahan ini ternyata dibangun di atas fondasi yang penuh dengan lubang-lubang rahasia yang mematikan.
Dering ponsel yang membelah keheningan pukul dua pagi itu terasa seperti dentuman godam di dada Aris. Cahaya biru dari layar gawai memantul di langit-langit kamar yang gelap, menampilkan deretan huruf yang membentuk nama "Siska". Aris tidak segera mengangkatnya, jemarinya bergetar pelan saat ia meraih benda pipih itu dari meja nakas dengan gerakan yang sangat berhati-hati.
Di sampingnya, Maya tetap bergeming dengan punggung menghadap Aris, namun napasnya yang semula teratur kini terdengar lebih pendek dan kaku. Aris tahu istrinya hanya berpura-pura terlelap demi menghindari konfrontasi yang melelahkan. Setiap kali nama Siska muncul, atmosfer di ruangan itu seolah tersedot habis, menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh kecurigaan dan luka lama yang belum sepenuhnya mengering.
Suara Siska di seberang sana langsung meledak tanpa salam pembuka, bernada tajam dan penuh tuntutan yang tidak masuk akal. Ia bersikeras ingin membawa Dino, putra mereka, untuk berlibur selama dua minggu penuh mulai besok pagi. Permintaan itu jelas melanggar kesepakatan hak asuh yang telah mereka susun dengan susah payah di hadapan pengacara setahun yang lalu demi menjaga stabilitas mental sang anak.
Aris memijat pangkal hidungnya, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh ego mantan istrinya yang meluap-luap. "Siska, ini sudah lewat tengah malam dan jadwal Dino sudah tetap," bisik Aris dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin agar tidak semakin mengusik Maya. Namun, ia tahu kata-katanya hanya akan dianggap sebagai tantangan oleh wanita di ujung telepon itu.
Siska terus mencecar dengan alasan-alasan yang menyudutkan, menuduh Aris sebagai ayah yang dingin dan tidak memedulikan kebahagiaan anak kandungnya sendiri. Kalimat-kalimat tajam itu menghujam jantung Aris, membuatnya merasa gagal sebagai orang tua sekaligus suami. Ia melirik bahu Maya yang sedikit menegang, menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan sedang dihakimi dalam diam oleh wanita yang kini mendampinginya.
Ketegangan di dalam kamar itu semakin memuncak saat Siska mulai mengancam akan melibatkan pihak berwajib jika keinginannya tidak dituruti segera. Aris merasa terjepit di antara dua dunia yang sama-sama menuntut loyalitasnya tanpa sisa. Di satu sisi ada masa lalu yang terus menariknya kembali ke dalam pusaran konflik, dan di sisi lain ada masa depan yang sedang ia bangun dengan penuh keraguan bersama Maya.
Maya tiba-tiba membalikkan badannya, matanya yang sembap menatap Aris dengan sorot yang sulit diartikan antara kemarahan dan keputusasaan. "Sampai kapan kita akan hidup seperti ini, Mas?" tanyanya dengan suara serak yang nyaris tak terdengar namun terasa lebih menyakitkan daripada hardikan Siska. Pertanyaan itu menggantung di udara, menuntut jawaban yang Aris sendiri tidak yakin mampu ia berikan saat ini.
Aris mematikan sambungan telepon tanpa pamit, membiarkan keheningan yang lebih mencekam mengambil alih ruang tidur mereka yang dingin. Ia ingin merengkuh Maya, menjelaskan bahwa cintanya tidak pernah terbagi, namun tangannya terasa kaku dan berat untuk sekadar menyentuh jemari istrinya. Jarak sepuluh sentimeter di antara mereka di atas ranjang terasa seperti jurang yang sangat dalam dan tak berdasar.
Bayangan Dino yang menangis setiap kali kedua orang tuanya berselisih mulai menghantui pikiran Aris, menambah beban di pundaknya yang sudah terasa remuk. Ia selalu berusaha menjadi penengah yang adil, namun seringkali ia justru menjadi penyebab luka bagi semua pihak yang ia cintai. Pernikahan kedua ini, yang ia harap menjadi pelabuhan terakhir, kini terasa seperti medan perang baru yang lebih rumit.
Tanpa peringatan, Maya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela, menatap jalanan kompleks yang sepi di bawah temaram lampu merkuri. "Aku tidak keberatan dengan kehadiran Dino, Mas, tapi aku keberatan jika bayang-bayang Siska selalu punya kunci untuk masuk ke kamar kita kapan saja ia mau," ucap Maya tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun penuh dengan ketegasan yang mematikan.
Aris terduduk di tepi ranjang, menundukkan kepala sambil meremas rambutnya sendiri, mencoba mencari celah untuk memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur berantakan. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu lunak pada tuntutan Siska karena rasa bersalah, tanpa menyadari bahwa kebaikan hatinya justru menjadi racun bagi hubungannya dengan Maya. Keputusan besar harus segera diambil sebelum fondasi rumah tangga mereka benar-benar runtuh.
Ketika Aris melangkah mendekati Maya untuk mencoba bicara sekali lagi, ponselnya kembali bergetar di atas kasur, namun kali ini bukan sebuah panggilan telepon. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, berisi foto Dino yang sedang terduduk lesu di teras rumah Siska dengan tas sekolah di sampingnya. Aris tertegun melihat tanggal pada foto itu, menyadari bahwa Siska telah menyembunyikan sebuah rahasia besar tentang kondisi anak mereka yang sebenarnya.
Aroma aspal basah setelah hujan sore itu menguap, menciptakan udara yang berat dan menyesakkan di depan gerbang sekolah Kia. Maya merapatkan jaket kremnya, jemarinya bergetar pelan saat ia merapikan rambut yang tertiup angin kencang. Di antara kerumunan orang tua yang menjemput anak-anak mereka, sebuah siluet berdiri tegak dengan keangkuhan yang sangat ia kenali. Jantung Maya seolah berhenti berdetak sesaat ketika matanya menangkap sosok pria bertubuh tegap yang menyandarkan punggungnya pada tiang listrik beton.
Pria itu adalah Rendy, mantan suaminya, yang kini berdiri di sana dengan kemeja biru muda yang disetrika licin, persis seperti sepuluh tahun lalu. Senyum simpul yang dulu pernah menjadi pelabuhan ternyaman bagi Maya kini tampak seperti luka lama yang dipaksa menganga kembali oleh sembilu tumpul. Rendy melambaikan tangan dengan gerakan santai seolah-olah mereka baru saja berpisah kemarin sore, bukan setelah bertahun-tahun penuh dengan drama pengadilan dan air mata yang mengering di bantal.
Maya membuang muka, mencoba mencari keberadaan Kia di balik pagar besi sekolah yang dicat hijau terang, namun langkahnya tertahan oleh suara bariton yang memanggil namanya. Pria itu mendekat, membawa aroma parfum kayu cendana yang dulu selalu
Maya beli setiap ulang tahun pernikahan mereka sebagai bentuk pengabdian. Langkah Rendy yang berirama konstan menciptakan tekanan psikologis yang membuat telapak tangan Maya berkeringat dingin di dalam saku jaketnya yang sempit.
"Kamu masih secantik dulu, May, bahkan setelah semua badai yang kita lalui bersama di masa lalu yang penuh gejolak itu," ucap Rendy dengan nada suara yang sengaja direndahkan. Ia mencoba membangun kembali keintiman yang telah lama mati dengan cara menatap langsung ke dalam manik mata Maya yang mulai memerah. Maya merasakan mual yang hebat merayap dari perutnya, sebuah reaksi fisik otomatis terhadap kehadiran pria yang pernah menghancurkan kepercayaan dirinya hingga berkeping-keping.
Rendy mulai mengoceh tentang kenangan manis saat mereka pertama kali membawa Kia pulang dari rumah sakit, mencoba menggali harta karun emosi yang sudah terkubur dalam. Ia menggunakan diksi-diksi manis yang dulu selalu berhasil meluluhkan kekerasan hati Maya, berharap bisa menemukan celah di balik pertahanan kokoh yang telah dibangun wanita itu. Maya hanya terdiam, memilin ujung lengan bajunya dengan ritme yang cepat, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh situasi.