Jodoh Yang Salah

Bilsyah Ifaq
Chapter #9

Sempurna dalam Retak

Aris memutar cincin di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia terjebak dalam keheningan ruang tamu yang pengap oleh sisa pertengkaran. Matanya tertuju pada Maya yang sedang melipat pakaian dengan gerakan kaku, seolah setiap helai kain adalah beban masa lalu yang enggan dilepaskan. "Mungkin kita memang dua orang asing yang dipaksa berbagi atap, May," gumam Aris dengan nada rendah yang bergetar, mencerminkan keraguan yang selama ini ia simpan rapat di balik senyum palsunya.

Maya berhenti bergerak, tangannya meremas kemeja Aris hingga kusut masai sebelum akhirnya ia menarik napas panjang yang terdengar berat. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang biasanya mampu meruntuhkan pertahanan Aris, namun kali ini ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di sudut matanya. "Bukan dipaksa, Ris, tapi kita yang memilih untuk saling memungut serpihan ini," sahutnya dengan suara serak yang memecah kesunyian malam di antara mereka berdua.

Ketegangan memuncak saat Aris berdiri dan menghampiri meja kayu tua yang menjadi saksi bisu perdebatan mereka tentang hak asuh anak-anak dari pernikahan sebelumnya. Ia menggebrak meja itu pelan, bukan karena marah, melainkan karena rasa frustrasi atas egonya sendiri yang selalu membandingkan Maya dengan bayang-bayang masa lalu yang kelam. "Aku lelah mencari kesempurnaan pada dirimu yang jelas-jelas tidak ada, sama seperti kau yang terus menuntutku menjadi pahlawan tanpa celah," seru Aris lantang.

Penerimaan sepenuhnya terhadap kekurangan masing-masing akhirnya mulai merayap masuk ke dalam sanubari mereka saat Maya mendekat dan menyentuh lengan Aris dengan lembut. Sentuhan itu terasa dingin namun menenangkan, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa mereka berdua hanyalah manusia yang penuh dengan luka dan cacat karakter. Di bawah temaram lampu gantung, mereka mulai menyadari bahwa kedamaian abadi dalam rumah tangga hanya bisa diraih jika mereka berhenti berperang melawan cermin diri sendiri.

Namun, saat suasana mulai mencair, Maya menarik tangannya kembali dengan tiba-tiba seolah baru saja tersengat aliran listrik yang mengejutkan. Ia menatap sebuah amplop cokelat yang terselip di bawah tumpukan dokumen milik Aris, sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan dengan sangat rapi dari jangkauan penglihatannya. "Jadi, selama ini kau masih mengirimkan uang kepada mantan istri yang kau bilang sudah tiada itu?" tanya Maya dengan nada suara yang berubah menjadi dingin dan penuh kecurigaan.

Aris terpaku, mulutnya terkunci rapat sementara jantungnya berdegup kencang melawan rasa malu yang tiba-tiba menyerang seluruh sendi tubuhnya. Kebohongan yang ia bangun sebagai fondasi keamanan rumah tangga barunya kini runtuh seketika, meninggalkan lubang besar yang mengancam akan menelan semua harapan yang baru saja mereka pupuk. Ia menyadari bahwa kejujuran pahit jauh lebih berharga daripada ketenangan palsu yang selama ini ia banggakan di hadapan istrinya yang kini menatapnya dengan penuh kekecewaan.

Maya melangkah mundur, menjauh dari jangkauan tangan Aris yang mencoba meraihnya untuk memberikan penjelasan yang mungkin sudah terlambat untuk didengarkan. Di antara bayang-bayang senja yang memudar di pelupuk mata, ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan lagi soal menyatukan dua hati yang patah, melainkan tentang bertahan hidup di tengah badai pengkhianatan yang baru saja dimulai. Ia membalikkan badan, meninggalkan Aris sendirian di ruang tamu yang kini terasa jauh lebih luas dan asing daripada sebelumnya.

Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden yang tersingkap, membasuh meja kayu tua dengan cahaya keemasan yang hangat. Di atas permukaan meja yang mulai kusam itu, dua cangkir teh masih mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma melati yang menenangkan ke seluruh penjuru ruangan. Maya menyesap tehnya perlahan sembari memandangi Aris yang masih terlelap di sofa ruang tengah, terlihat begitu rapuh namun sekaligus tenang tanpa beban masa lalu yang biasanya menghantui.

Maya meletakkan cangkirnya, lalu jemarinya mulai memilin ujung taplak meja--sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia merasa ragu atau terjebak dalam pikiran yang buntu. "Kita sudah sejauh ini, Ris," bisiknya nyaris tak terdengar, seolah takut suaranya akan memecahkan kedamaian semu yang sedang mereka nikmati pagi ini. Ia teringat bagaimana pernikahan mereka sebelumnya menyisakan luka yang menganga, membuat keputusan untuk bersatu kembali terasa seperti pertaruhan nyawa.

Ketegangan tiba-tiba menyeruak saat ponsel Aris yang tergeletak di samping bantal bergetar hebat, memecah kesunyian yang baru saja terbangun dengan begitu indah. Sebuah pesan singkat muncul di layar yang menyala terang, berasal dari mantan istri Aris yang menuntut hak asuh anak mereka secara penuh mulai bulan depan. Maya merasakan dadanya sesak, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu tidak akan pernah benar-benar pergi meski mereka sudah berusaha membangun benteng baru.

Aris terbangun dengan kaget, matanya langsung tertuju pada ponselnya sebelum beralih menatap Maya yang kini berdiri kaku di dekat jendela sambil memungguhinya. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri mendekati Maya dengan langkah yang berat, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk meredam badai yang mulai mengintai.

Namun, Maya justru berbalik dengan tatapan tajam yang penuh dengan kekecewaan, seolah-olah semua janji manis semalam hanyalah bualan kosong belaka.

Suasana mendadak mendingin saat Maya melepaskan pegangannya pada kain taplak dan menatap Aris lurus ke dalam matanya yang tampak lelah. "Kamu bilang dia sudah setuju dengan kesepakatan kita, tapi ternyata kamu membohongiku lagi soal ini, kan?" tanya Maya dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman. Ia tidak lagi melihat kedamaian di wajah Aris, melainkan hanya melihat seorang pria yang masih terikat erat pada rantai kegagalan masa lalunya sendiri.

Tanpa menunggu jawaban, Maya meraih tasnya dan melangkah menuju pintu keluar, meninggalkan Aris yang terpaku sendirian di tengah ruangan yang kini terasa begitu mencekam. Kebenaran pahit itu baru saja terungkap bahwa Aris sebenarnya telah menandatangani surat pelepasan hak asuh demi bisa menikahi Maya tanpa gangguan hukum. Langkah kaki Maya berhenti di ambang pintu, menyadari bahwa pernikahan ini dibangun di atas fondasi pengorbanan yang justru akan menghancurkan mereka berdua selamanya.

Suara tawa Dino dan Kia yang saling berebut spatula di dapur merambat hingga ke ambang pintu kamar, menjadi melodi pagi yang paling dinanti oleh Aris. Ia berdiri mematung sembari membetulkan letak kacamata yang sedikit miring, memperhatikan bagaimana sinar matahari menyusup di antara uap nasi goreng yang mengepul hangat. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya, sebuah campuran antara syukur dan ketakutan yang selalu ia simpan rapat di balik senyum tenangnya.

Maya tampak sibuk menguncir rambut Kia sambil sesekali mengaduk bumbu di wajan, gerakannya gesit namun matanya tetap waspada memantau setiap gerak-gerik Dino. Aris mendekat, lalu dengan kebiasaan khasnya, ia mengetukkan jemari ke meja kayu sebanyak tiga kali sebelum menarik kursi untuk duduk. Ia selalu memilih untuk mengamati terlebih dahulu, sebuah kecenderungan untuk memastikan bahwa harmoni yang ia lihat saat ini bukanlah sekadar fatamorgana yang akan pecah.

"Mas, jangan cuma diam, bantu Dino ambilkan piring kecil di rak atas," ujar Maya tanpa menoleh, suaranya yang lembut namun tegas memecah lamunan Aris seketika. Aris bangkit, merasakan kehangatan lantai dapur di telapak kakinya yang polos, sebuah detail kecil yang membuatnya merasa benar-benar berpijak di rumah yang nyata. Ia menyadari bahwa keluarga ini dibangun dari puing-puing kegagalan masa lalu yang pernah menghancurkan mereka tanpa ampun.

Di tengah keriuhan itu, Aris menangkap tatapan Dino yang mendadak meredup saat melihat sebuah foto lama yang terselip di balik magnet kulkas, sebuah rahasia kecil yang belum sempat mereka bicarakan. Aris berdehem pelan, pola bicaranya yang tertata mulai keluar saat ia berusaha mengalihkan perhatian anak tirinya itu dengan pertanyaan tentang tugas sekolah. Ia lebih memilih untuk menunda konfrontasi demi menjaga kedamaian meja makan yang selama ini sangat sulit untuk mereka wujudkan.

Namun, saat Maya hendak menuangkan air, tangannya gemetar hebat hingga tutup teko terjatuh dan pecah berkeping-keping di lantai porselen yang putih bersih itu. Suasana mendadak senyap, menyisakan deru napas yang memburu dan tatapan mata Maya yang tiba-tiba dipenuhi ketakutan mendalam yang tak pernah Aris lihat sebelumnya. Di antara pecahan keramik itu, terselip sebuah amplop cokelat yang jatuh dari saku daster Maya, menunjukkan nama pengirim yang seharusnya sudah lama menghilang dari hidup mereka.

Aris membeku saat membaca nama yang tertera di sana, menyadari bahwa ketenangan yang selama ini ia jaga hanyalah sebuah kebohongan besar yang dibangun di atas pasir. Maya segera berlutut untuk memunguti pecahan kaca, mengabaikan darah yang mulai merembes dari ujung jarinya yang gemetar karena panik yang luar biasa. Aris menyadari bahwa pria dari masa lalu Maya tidak pernah benar-benar pergi, dan pernikahan mereka kini berada di ujung tanduk yang siap menghujam jantungnya.

Lampu meja yang temaram membiaskan bayangan panjang di atas permukaan kayu jati yang mulai kusam. Maya duduk dengan punggung tegak, jemarinya menggenggam erat sebuah pena tua yang tintanya nyaris habis. Di hadapannya, buku harian bersampul kulit cokelat terbuka lebar, menampilkan lembaran-lembaran kosong yang menunggu untuk diisi oleh sisa-sisa kegelisahan yang masih mengendap di dasar hatinya yang terdalam.

Ujung pena itu akhirnya menyentuh kertas, menorehkan kalimat-kalimat yang mengalir seperti air mata yang tertahan. Maya menuliskan ucapan terima kasih yang tulus kepada luka-luka lama yang pernah mencabik jiwanya hingga tak bersisa. Baginya, rasa sakit di masa lalu adalah peta yang secara perlahan namun pasti telah menuntun langkah kakinya menuju pintu rumah Aris, pria yang kini menjadi tempatnya pulang setiap senja tiba.

Setiap goresan tinta itu menjadi saksi bisu atas kesadarannya bahwa tanpa pengkhianatan yang dulu ia alami, ia mungkin tidak akan pernah bisa mengenali ketulusan. Kelembutan yang diberikan Aris setiap hari, mulai dari sapaan hangat di pagi hari hingga usapan lembut di kening saat ia terjaga, kini terasa begitu mewah. Ia menyadari bahwa rasa sakit adalah guru yang paling kejam namun paling jujur dalam mengajarkan arti sebuah kasih sayang yang sejati.

Luka-luka itu kini memang telah mengering dan sembuh, menyisakan bekas yang samar namun tetap terasa jika disentuh oleh ingatan. Bekas itu bukan lagi sumber penderitaan, melainkan sebuah alarm yang senantiasa berdering pelan untuk mengingatkannya agar selalu menjaga hati dengan penuh kewaspadaan. Ia tidak ingin lagi gegabah dalam memberikan kepercayaan, karena ia tahu betapa mahalnya harga sebuah kesetiaan yang dibangun di atas reruntuhan masa lalu.

Suara langkah kaki Aris yang mendekat dari arah dapur membuat Maya sedikit tersentak, namun ia tidak berusaha menutup bukunya dengan terburu-buru. Aris meletakkan secangkir teh hangat di sudut meja, lalu berdiri diam di belakang kursi Maya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kehadiran pria itu selalu membawa aroma kayu cendana dan ketenangan yang mampu meredam badai emosi yang seringkali melanda pikiran Maya tanpa peringatan terlebih dahulu.

Lihat selengkapnya