Setiap orang punya kota yang mengubah mereka, meski mereka tidak pernah berniat tinggal di sana.
Novel ini lahir dari pertanyaan sederhana: apa yang terjadi pada seseorang yang sudah berhenti berharap, ketika ia dipertemukan dengan tempat—dan seseorang—yang memaksanya berharap lagi, tepat di saat ia paling tidak menyiapkan diri untuk itu?
Firza dan Ami bukan tokoh yang sempurna. Mereka datang dengan luka masing-masing, dengan pertahanan yang mereka bangun bertahun-tahun, dan dengan alasan yang sah untuk takut mencintai lagi. Tapi justru dari situlah cerita ini berangkat—bukan dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian dua orang yang tidak sempurna untuk tetap membuka diri, walau hanya sedikit, walau hanya untuk sementara.
Jogja dipilih bukan sekadar sebagai latar tempat, tapi sebagai karakter tersendiri dalam cerita ini—kota yang tidak terburu-buru, yang membiarkan orang menemukan diri mereka kembali di sudut-sudut kecilnya yang tidak selalu tercatat dalam peta wisata: di kedai kopi yang sepi di gang sempit, di sudut alun-alun yang gelap tapi ramai oleh obrolan, di jalanan yang basah selepas hujan sore.
Kepada pembaca yang pernah merasa hidupnya berjalan di tempat yang sama terlalu lama—novel ini untuk kalian. Semoga di suatu titik, kalian juga menemukan kota, orang, atau momen yang mengingatkan bahwa belum terlambat untuk kembali menanti hari esok.
Selamat membaca, dan selamat tersesat sebentar di Jogja bersama Firza dan Ami.