Ada satu titik di Jalan Tirtodipuran, tepat di depan sebuah tembok tua bercat putih yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian, tempat cahaya sore jatuh dengan sudut yang nyaris sempurna setiap hari, sekitar pukul setengah lima, selama kurang lebih dua puluh menit sebelum akhirnya bergeser dan kehilangan keajaibannya.
Firza tidak tahu itu ketika pertama kali berdiri di sana, mengangkat kameranya untuk membidik motif bayangan daun yang jatuh di atas tembok. Ia hanya tahu bahwa cahaya sore itu bagus, dan sesuatu di dalam dirinya—naluri yang sudah lama tidur, naluri seorang pemotret yang tahu kapan harus menekan tombol rana—mengatakan bahwa momen ini tidak boleh dilewatkan.
Ia tidak tahu bahwa dalam bidikan itu, di sudut kanan bawah bingkai, ada seorang perempuan berhijab warna mustard yang dipadukan dengan jaket denim, sedang berjalan sambil tertawa, kepalanya sedikit menoleh ke belakang seolah baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu dari seseorang yang tidak terlihat dalam foto.
Ia tidak tahu bahwa perempuan itu bernama Ami, bahwa tawa yang tertangkap kamera itu sebenarnya tawa yang ia paksakan, bahwa di baliknya ada sesuatu yang sedang retak pelan-pelan tanpa ada yang tahu, termasuk teman-teman terdekatnya sekalipun.