Firza berdiri di balkon lantai tiga rumahnya di Balikpapan, menatap laut yang sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan mungkin seribu kemarin sebelum itu. Angin membawa bau garam bercampur asap pabrik dari kejauhan. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul enam lewat dua puluh menit pagi—waktu yang sama ia bangun sejak entah kapan, waktu yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya seperti detak jantung yang tidak pernah ia minta tapi selalu ada.
Empat puluh tahun.
Angka itu tidak terasa istimewa ketika ia menuliskannya di formulir, tapi terasa berat ketika ia mengucapkannya dalam hati, di pagi-pagi seperti ini, sendirian, sebelum dunia lain mulai bergerak.
Ia bekerja sebagai konsultan lepas untuk sebuah perusahaan tambang—pekerjaan yang cukup fleksibel untuk membuatnya bisa bekerja dari mana saja, tapi cukup menuntut untuk membuatnya tidak pernah benar-benar pergi ke mana-mana. Rumahnya besar untuk ukuran orang yang tinggal sendiri, dengan tiga kamar kosong yang dulu ia bayangkan akan terisi—oleh anak-anak, oleh keramaian, oleh alasan untuk pulang lebih awal dari kantor. Tapi rumah itu tetap sunyi, dan ia sudah lama berhenti membayangkan.
Ia menceraikan Rasti enam tahun lalu. Bukan karena ada orang ketiga, bukan karena pertengkaran besar yang meledak dalam satu malam. Perceraian mereka lebih mirip air yang menguap perlahan dari gelas yang dibiarkan terbuka terlalu lama—tidak ada yang benar-benar memperhatikan sampai suatu hari gelas itu kosong, dan keduanya hanya bisa saling menatap, bertanya-tanya kapan persisnya itu terjadi.
Sejak itu Firza tidak pernah benar-benar mencoba lagi. Bukan karena patah hati yang belum sembuh—luka itu sudah lama mengering, meninggalkan bekas yang tidak lagi terasa sakit kalau disentuh. Tapi ada semacam kelelahan yang lebih dalam dari sekadar patah hati: kelelahan karena mencoba dan gagal, mencoba dan gagal, sampai akhirnya mencoba itu sendiri terasa seperti pekerjaan tambahan yang tidak sanggup lagi ia kerjakan.
Ia masuk ke dalam, menyeduh kopi seperti biasa—dua sendok, tanpa gula, air panas yang tidak boleh terlalu mendidih. Ritual kecil yang sudah ia ulang ribuan kali, sampai gerakannya menjadi otomatis, tangan bekerja tanpa pikiran ikut campur. Ia duduk di meja makan yang terlalu besar untuk satu orang, membuka laptop, memeriksa email seperti setiap pagi.
Semuanya berjalan. Pekerjaan datang tepat waktu. Klien-klien puas. Rekening bank sehat. Rumah terawat—ia membayar orang untuk membersihkannya dua kali seminggu, meski sebenarnya rumah itu jarang berantakan karena hanya ada satu orang yang menghuninya.
Teman-temannya masih ada, meski jumlahnya menyusut setiap tahun—bukan karena pertengkaran, tapi karena hidup membawa orang ke arah yang berbeda-beda. Beberapa sudah punya cucu. Beberapa pindah kota. Beberapa hanya menjadi nama di grup WhatsApp yang jarang dibuka.
Rutinitasnya pun masih sama seperti bertahun-tahun lalu: bangun jam enam, kopi, kerja sampai siang, makan siang sendirian di warung langganan, kerja lagi sampai sore, olahraga ringan di rumah, makan malam seadanya, tidur sebelum jam sepuluh. Setiap hari seperti fotokopi dari hari sebelumnya, hanya tanggalnya yang berbeda.
Pukul sembilan pagi itu, seperti biasa, ia melakukan panggilan video dengan salah satu kliennya, sebuah perusahaan tambang batu bara yang sedang menyusun ulang strategi efisiensi operasional mereka. Firza berbicara dengan lancar, menjelaskan proyeksi angka dengan grafik yang sudah ia siapkan semalam, menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit tanpa perlu berpikir lama—kemampuan yang sudah mendarah daging setelah lebih dari lima belas tahun bekerja di bidang yang sama. Di ujung panggilan, kliennya memuji presentasinya, mengatakan bahwa Firza selalu bisa diandalkan, selalu tepat waktu, selalu memberikan hasil yang lebih baik dari ekspektasi.