Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #4

BAB 2 — KEPUTUSAN YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Dua minggu setelah menekan tombol beli tiket, Firza duduk di ruang tamu rumahnya, dikelilingi oleh tiga koper yang belum sepenuhnya terisi dan satu tas kamera yang sudah rapi sejak tiga hari lalu—satu-satunya barang yang ia kemas dengan kesungguhan hati, sementara pakaian dan perlengkapan lain masih berserakan di atas sofa seolah menunggu keputusan terakhir.

"Kamu yakin, Za?" Tanya Bram, sahabatnya sejak SMA, yang datang untuk membantu—atau lebih tepatnya, untuk memastikan bahwa keputusan mendadak ini bukan bagian dari krisis paruh baya yang akan berakhir dengan Firza pulang membawa tato besar atau motor gede yang tidak perlu.

"Yakin apa?" Firza balik bertanya, melipat kemeja untuk kesekian kalinya karena lipatan pertama tidak rapi.

"Yakin mau pergi selama itu. Sebulan, Za. Kerjaan gimana? Klien-klien kamu?"

"Semua bisa dikerjakan dari mana saja. Kamu tahu itu."

"Iya, tapi... tiba-tiba banget. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba kamu bilang mau ke Jogja sebulan."

Bram mengambil salah satu kaus dari tumpukan di sofa, melipatnya asal-asalan, lalu duduk sambil memperhatikan sahabatnya yang tampak sibuk sendiri dengan pikirannya. Mereka sudah berteman lebih dari dua puluh lima tahun—cukup lama untuk Bram tahu kapan Firza sedang menyembunyikan sesuatu di balik jawaban-jawaban singkatnya.

"Za," katanya lagi, kali ini lebih pelan, "ini soal Rasti, ya?"

Firza berhenti melipat, menatap keluar jendela sebentar. Ia sudah mengantisipasi pertanyaan ini, tapi tetap saja sulit menjawabnya dengan kalimat yang terdengar masuk akal.

"Bukan," jawabnya akhirnya, meski nadanya tidak terlalu meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri. "Rasti sudah lama selesai buatku. Ini bukan soal dia."

"Terus soal apa?"

"Aku juga nggak tahu persis, Bram. Makanya aku mau pergi. Kalau aku tahu jawabannya, mungkin aku nggak perlu ke mana-mana."

"Aku cuma... capek, Bram. Bukan capek kerja. Capek dengan semua yang sama. Aku bangun setiap hari dan tahu persis apa yang akan terjadi sampai aku tidur lagi. Nggak ada kejutan. Nggak ada yang bikin aku penasaran sama besok."

Bram diam sejenak, lalu duduk di sofa, menyingkirkan tumpukan kaus yang menghalangi tempat duduknya. "Itu namanya midlife crisis, Za."

"Mungkin," Firza tertawa kecil. "Tapi kalau midlife crisis-ku cuma berupa liburan kerja sambil motret-motret, kayaknya nggak terlalu buruk, kan? Dibanding orang lain yang beli mobil sport atau nikah lagi sama yang lebih muda."

Lihat selengkapnya