Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #5

BAB 3 — KOTA YANG MENYAMBUT TANPA BASA-BASI

Bandara Adisutjipto—yang belakangan lebih dikenal sebagai Yogyakarta International Airport meski letaknya berbeda—menyambut Firza dengan udara yang terasa berbeda dari yang ia bayangkan. Bukan panas menyengat seperti Balikpapan, tapi hangat yang lebih lembut, bercampur dengan aroma tanah yang baru saja diguyur hujan ringan.

Ia menyeret kopernya keluar dari area kedatangan, mencari mobil sewaan yang sudah ia pesan sebelumnya. Sopirnya, seorang pria paruh baya bernama Pak Slamet, menyambutnya dengan senyum ramah dan logat Jawa yang kental.

"Bapak dari mana asalnya?" tanya Pak Slamet sambil memasukkan koper ke bagasi.

"Balikpapan, Pak."

"Wah, jauh juga. Mau berapa lama di Jogja?"

"Sebulan, Pak. Kerja jarak jauh."

Pak Slamet mengangguk-angguk, seperti mendengar hal yang sudah biasa ia dengar. "Sekarang banyak yang begitu, Pak. Kerja sambil liburan. Katanya apa itu... digital nomad?"

Firza tertawa kecil. "Kira-kira begitu, Pak. Meskipun saya nggak terlalu muda lagi untuk istilah itu."

"Ah, nggak ada batasan umur untuk cari suasana baru, Pak. Saya aja umur enam puluh masih semangat nyupir keliling kota."

Percakapan ringan itu entah kenapa membuat Firza merasa lebih santai. Ada sesuatu dari cara orang-orang di sini berbicara—tidak terburu-buru, penuh dengan jeda yang nyaman, seolah waktu di kota ini bergerak dengan kecepatan yang berbeda dari kota-kota lain yang pernah ia kunjungi.

Sepanjang perjalanan, Pak Slamet terus bercerita—tentang anaknya yang kuliah di UGM jurusan pertanian, tentang istri yang berjualan jajanan pasar setiap subuh, tentang bagaimana kota ini berubah drastis sejak pandemi, lebih ramai dari sebelumnya, tapi katanya keramaian itu justru bikin Jogja makin hidup, bukan makin sesak. Firza mendengarkan sambil sesekali menimpali, merasa nyaman dengan obrolan yang tidak menuntut apa-apa darinya, tidak seperti obrolan-obrolan basa-basi di acara networking yang biasa ia hadiri di Balikpapan, yang selalu terasa seperti pertukaran kartu nama berbalut kalimat sopan.

Lihat selengkapnya