Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #6

BAB 4 — PEREMPUAN DI DALAM BINGKAI

Hari kelima di Jogja dimulai seperti empat hari sebelumnya: Firza bangun pukul enam, menyeduh kopi dengan cara yang sama seperti di Balikpapan—dua sendok, tanpa gula—lalu duduk di meja kerja kecil dekat jendela, membuka laptop, dan memulai rutinitas kerjanya. Panggilan video pagi dengan klien, email yang harus dibalas, laporan yang harus diperiksa. Semuanya berjalan lancar, seperti biasa, seolah lokasi tidak benar-benar mengubah apa pun dari cara ia bekerja.

Tapi ada satu hal yang berbeda, dan itu terjadi begitu jam kerjanya selesai sekitar pukul dua siang. Alih-alih langsung menyiapkan makan siang seperti biasa, Firza mengambil kameranya, memeriksa baterai dan memory card, lalu keluar rumah tanpa tujuan pasti—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan lagi sejak bertahun-tahun terakhir di Balikpapan, ketika hidupnya sudah terlalu penuh jadwal untuk sekadar berjalan tanpa rencana.

Ia berjalan menyusuri Jalan Prawirotaman, melewati galeri-galeri kecil, toko suvenir, dan kafe-kafe dengan desain yang sengaja dibuat instagramable. Ia berhenti sesekali untuk memotret—sebuah sepeda tua yang disandarkan di depan toko batik, uap yang mengepul dari gerobak angkringan, bayangan pohon yang jatuh di atas trotoar berbatu. Tidak ada yang istimewa, tapi setiap bidikan terasa seperti latihan kecil untuk mengembalikan naluri yang sudah lama tertidur.

Di salah satu sudut jalan, ia berhenti cukup lama memperhatikan seorang tukang becak tua yang sedang menunggu penumpang, duduk santai di atas becaknya sambil merokok kretek, matanya menerawang entah ke mana. Firza mengangkat kameranya perlahan, mengambil beberapa bidikan dari kejauhan agar tidak terlalu mengganggu, mencoba menangkap keriput di wajah pria itu yang menyimpan cerita puluhan tahun mengayuh becak di jalanan yang sama. Ia teringat, dulu, betapa ia senang mengejar momen semacam ini—wajah-wajah yang jarang diperhatikan orang, kehidupan kecil yang berjalan di pinggir keramaian.

Ada satu momen ketika si tukang becak menyadari dirinya difoto, dan alih-alih marah atau risih, pria tua itu justru tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang sudah tidak lengkap lagi, dan mengangkat jempolnya ke arah Firza. Firza membalas senyum itu, mengangguk berterima kasih, dan melanjutkan langkahnya dengan perasaan hangat yang menjalar tanpa bisa ia jelaskan—kepuasan sederhana dari sebuah interaksi singkat dengan orang asing yang tidak menuntut apa-apa selain pengakuan sesaat bahwa keberadaannya diperhatikan.

Sekitar pukul setengah lima, langkahnya membawanya ke Jalan Tirtodipuran, sebuah jalan yang lebih sepi dibanding Prawirotaman, dengan bangunan-bangunan tua yang catnya mulai mengelupas dan pohon-pohon besar yang membentuk kanopi alami di beberapa bagian jalan. Cahaya sore jatuh di sana dengan cara yang membuat Firza berhenti melangkah—sudut yang tepat, warna yang hangat, bayangan daun yang jatuh membentuk pola di atas tembok putih tua.

Ia mengangkat kameranya, menyesuaikan pengaturan, membidik tembok itu dengan hati-hati. Ia menekan tombol rana beberapa kali, mencoba beberapa komposisi berbeda—dari sudut rendah, dari jarak dekat, dengan sedikit blur di bagian latar. Ia begitu fokus pada tembok dan cahaya sehingga tidak menyadari ada seseorang yang lewat di kejauhan, tepat ketika ia menekan tombol rana untuk yang keempat kalinya.

Lihat selengkapnya