Dua hari berlalu, dan foto perempuan berhijab mustard itu masih tersimpan di folder khusus di laptop Firza, sesekali ia buka lagi tanpa alasan yang jelas—sekadar melihat, sekadar mengingatkan dirinya bahwa ada momen kecil yang menarik perhatiannya di tengah rutinitas kerja yang mulai terbentuk lagi meski di kota yang berbeda.
Sore itu, seperti kebiasaan yang mulai ia bangun sejak beberapa hari terakhir, Firza keluar rumah membawa kamera, berniat mencari cahaya sore yang sama seperti dua hari lalu. Ia tidak benar-benar berencana kembali ke Jalan Tirtodipuran—atau setidaknya begitu ia meyakinkan dirinya sendiri—tapi kakinya, seolah punya kehendak sendiri, membawanya ke arah yang sama, melewati jalan yang sama, menuju tembok putih tua yang sama.
Sepanjang perjalanan, ia sempat berhenti di sebuah warung angkringan untuk membeli teh hangat, duduk sebentar di kursi panjang sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Ada sepasang mahasiswa yang sedang berdebat serius soal skripsi, seorang ibu yang menggendong anaknya sambil menawar harga gorengan, dua orang tukang ojek daring yang saling bercerita sambil menunggu orderan. Firza menyesap tehnya perlahan, menikmati momen sederhana itu tanpa perlu mengangkat kamera sama sekali—kali ini ia hanya ingin menjadi penonton, bukan pemotret.
Setelah menghabiskan tehnya, ia melanjutkan langkah menuju Tirtodipuran, dan entah kenapa, dalam perjalanan itu pikirannya terus kembali pada foto blur seorang perempuan yang tersimpan di laptopnya. Ia bertanya-tanya, dengan setengah menertawakan dirinya sendiri, apakah ada kemungkinan—betapa pun kecilnya—untuk bertemu perempuan itu lagi secara kebetulan. Pikiran itu terasa konyol, tapi tetap saja tidak bisa ia usir sepenuhnya dari kepalanya.
Cahaya sore hari itu tidak sebagus dua hari lalu—langit sedikit berawan, membuat bayangan daun di atas tembok tidak sejelas sebelumnya. Firza tetap mengangkat kameranya, mencoba beberapa bidikan, meski dalam hati ia tahu hasilnya tidak akan sebaik yang sebelumnya. Ia terlalu sibuk menyesuaikan pengaturan exposure ketika sebuah suara tiba-tiba memecah konsentrasinya.
"Permisi, itu tembok orang lho, Mas. Bukan objek wisata."
Firza menurunkan kameranya, terkejut, dan menemukan seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya, tangan terlipat di dada, alis terangkat dengan ekspresi setengah bercanda setengah serius. Ia mengenakan hijab warna hijau army hari itu, dipadukan dengan kemeja oversized dan celana kargo, tas kanvas tersampir di bahu kirinya. Butuh waktu beberapa detik bagi Firza untuk menyadari bahwa wajah di depannya ini—meski kini jelas dan tidak blur seperti dalam foto—adalah wajah yang sama dengan yang tertangkap kameranya dua hari lalu.
"Maaf," Firza buru-buru menjawab, agak gelagapan, "saya nggak tahu ini tembok pribadi. Nggak ada tanda apa-apa."
"Ya kali semua tembok pribadi dikasih tanda, Mas," perempuan itu menjawab, kali ini dengan nada yang lebih ringan, hampir menggoda. "Saya cuma bercanda, kok. Tembok itu emang bukan punya siapa-siapa. Tapi ekspresi Mas tadi lucu banget, jadi saya iseng aja."
Firza menghela napas lega sekaligus merasa sedikit bodoh karena termakan candaan sesederhana itu. "Oh. Ya udah, saya kira beneran ganggu properti orang."
"Nggak kok. Malah saya penasaran, Mas motret apa sih dari tembok butut begini?" Perempuan itu melangkah mendekat, mengintip ke arah kamera Firza dengan rasa ingin tahu yang tidak berusaha ia sembunyikan.