Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #8

BAB 6 — PEREMPUAN YANG TIDAK SUKA BASA-BASI

Tiga hari setelah pertemuan singkat di Jalan Tirtodipuran, Firza menemukan dirinya kembali berada di Sarasa Coffee, kali ini bukan sekadar untuk bekerja, tapi juga—meski ia enggan mengakuinya secara terbuka pada dirinya sendiri—dengan sedikit harapan bahwa ia akan bertemu lagi dengan perempuan berhijab yang belum sempat ia ketahui namanya itu.

Harapan itu, secara mengejutkan, terkabul lebih cepat dari yang ia duga. Sekitar pukul empat sore, ketika Firza sedang fokus menyelesaikan laporan untuk kliennya, pintu kedai berdenting dan seorang perempuan masuk terburu-buru, ponsel menempel di telinga, suara agak meninggi karena sedang berdebat dengan seseorang di seberang telepon.

"Nggak bisa, Kak. Aku bilang minggu depan itu udah mepet banget. Butuh waktu lebih. Iya, aku ngerti keadaannya urgent, tapi bukan berarti semuanya bisa dipaksain—"

Firza mendongak, mengenali suara itu sebelum benar-benar mengenali wajahnya. Perempuan itu—Ami, meski Firza belum tahu namanya—duduk di meja tak jauh darinya, masih berbicara dengan nada yang semakin tegang, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.

Panggilan itu berakhir dengan perempuan itu menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi, memejamkan mata sejenak seolah mencoba mengumpulkan energi yang baru saja terkuras habis. Ketika ia membuka mata, pandangannya bertemu dengan Firza yang, tanpa sadar, sudah memperhatikannya sejak tadi.

"Oh," perempuan itu berkata, agak canggung. "Ketemu lagi."

"Kelihatannya lagi nggak enak hari," Firza berkata, mencoba terdengar ramah tanpa terkesan ikut campur terlalu jauh.

"Nggak usah dibahas," jawabnya singkat, nadanya lebih tajam dari yang Firza duga. "Mas nggak kenal aku, jadi nggak perlu ikutan komentar soal hari aku."

Firza terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan respons yang tiba-tiba berubah dingin itu. Ia sudah cukup lama hidup untuk tahu kapan harus mundur dari sebuah percakapan yang tidak diinginkan lawan bicaranya, jadi ia hanya mengangguk pelan dan kembali fokus ke laptopnya, meski konsentrasinya sudah buyar sepenuhnya.

Ia teringat, sekilas, pada percakapan serupa dengan Rasti bertahun-tahun lalu—momen ketika istrinya waktu itu pulang kerja dengan wajah tegang, dan Firza, dengan niat baik yang salah waktu, mencoba bertanya apa yang terjadi, hanya untuk dibalas dengan nada ketus yang serupa. Waktu itu ia tidak tahu cara terbaik menghadapi situasi seperti itu, dan seringkali berujung pada pertengkaran kecil yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Pengalaman itu, meski pahit, mengajarkannya satu hal yang kini ia terapkan tanpa berpikir: terkadang, memberi ruang lebih berarti daripada memaksa seseorang bicara.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan canggung, hanya diisi suara mesin kopi dan musik pelan dari speaker sudut ruangan. Firza mencoba mengetik, tapi kata-kata di layar terasa tidak masuk akal, pikirannya masih tertinggal di respons dingin perempuan itu barusan. Ia tidak marah—lebih ke merasa bersalah, meski ia sendiri tidak yakin apa yang membuatnya perlu merasa bersalah.

Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ada sesuatu dari nada suaranya tadi yang terdengar seperti menghakimi atau ikut campur berlebihan. Ia memutar ulang kalimatnya dalam kepala—"Kelihatannya lagi nggak enak hari"—dan tidak menemukan sesuatu yang salah dari situ, tapi tetap saja perasaan tidak nyaman itu menempel, seperti kebiasaan lama yang sulit ia hilangkan: kecenderungan untuk selalu mempertanyakan diri sendiri setiap kali seseorang bereaksi negatif, meski reaksi itu sama sekali bukan salahnya.

Ketika pelayan mengantarkan pesanan perempuan itu—segelas es kopi susu—Firza memperhatikan bahwa tangannya sedikit gemetar saat mengambil gelas itu, gerakan kecil yang mungkin tidak akan disadari orang lain, tapi cukup jelas bagi seseorang yang sudah terbiasa memperhatikan detail lewat lensa kamera.

Lihat selengkapnya