Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #9

BAB 7 — KOPI YANG SAMA, DUA KALI

Setelah pertemuan di Sarasa Coffee, Firza mendapati dirinya kembali ke kedai yang sama keesokan harinya, dan lusanya, dengan alasan yang selalu ia bungkus rapi sebagai "wifi yang bagus" atau "suasana yang cocok untuk kerja"—alasan yang secara teknis benar, tapi jauh dari alasan sesungguhnya yang enggan ia akui bahkan pada dirinya sendiri.

Selama dua hari itu, Ami tidak muncul, dan Firza mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya—sebuah usaha yang gagal total setiap kali pintu kedai berdenting dan ia mendapati dirinya secara refleks mendongak, berharap menemukan sosok berhijab yang sudah mulai familiar baginya.

Pada hari ketiga, harapan itu akhirnya terkabul. Ami masuk sore itu dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding pertemuan terakhir mereka, mengenakan hijab warna dusty pink yang serasi dengan kaus oversized bermotif garis-garis. Ia langsung menuju meja kasir, memesan sesuatu, lalu—alih-alih duduk di meja yang berbeda seperti sebelumnya—berjalan ke arah meja Firza.

"Boleh gabung?" tanyanya, sudah menarik kursi sebelum Firza sempat menjawab.

"Silakan," Firza berkata, menutup laptopnya sedikit—bukan sepenuhnya, karena ia tidak ingin terlihat terlalu antusias, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia lebih tertarik pada percakapan dibanding pekerjaannya.

Ami duduk dengan gerakan santai, meletakkan tas kanvasnya di kursi kosong sebelah, lalu menyandarkan dagunya di atas kedua tangan yang bertumpu di meja, mengamati Firza dengan tatapan jenaka. "Kamu tuh orangnya rajin ya, dari kemarin-kemarin aku lewat sini, selalu ada di meja yang sama, laptop kebuka."

"Kerjaan nggak bisa ditinggal," Firza menjawab, meski dalam hati ia tahu betul bahwa alasan sebenarnya bukan sepenuhnya soal pekerjaan.

"Atau jangan-jangan," Ami menyipitkan mata, nada suaranya menggoda, "kamu sengaja nongkrong di sini terus, berharap ketemu aku lagi?"

Firza tertawa, mencoba menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul karena tebakan itu ternyata tidak sepenuhnya salah. "Kepedean amat."

"Habis kamu keliatan kaget banget waktu aku dateng tadi," Ami menyeringai puas, jelas menikmati momen menggoda ini. "Muka kamu langsung berubah."

"Itu karena kamu masuk sambil buru-buru, bukan karena aku nunggu kamu," Firza berkilah, meski tawa yang menyertai kalimat itu cukup untuk mengkhianati kebohongannya sendiri.

"Aku udah cek Instagram kamu," Ami berkata langsung, tanpa basa-basi, sesuai dengan apa yang sudah ia katakan tentang dirinya sendiri. "Fotomu bagus-bagus. Nggak nyangka."

Firza sedikit tersipu, meski berusaha menyembunyikannya. "Nggak nyangka kenapa? Karena saya kelihatan tua buat hobi begituan?"

Lihat selengkapnya