Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #10

BAB 8 — NAMA YANG AKHIRNYA DIKETAHUI

Seminggu sudah berlalu sejak Firza tiba di Jogja, dan pertemuan-pertemuan dengan Ami di Sarasa Coffee perlahan berubah dari kebetulan menjadi semacam kebiasaan yang tidak pernah mereka rencanakan secara terbuka, tapi juga tidak pernah mereka hindari. Ami mulai datang lebih sering di sore hari, kadang membawa laptopnya sendiri untuk bekerja di meja yang sama dengan Firza, kadang hanya datang untuk minum kopi sambil mengobrol tanpa alasan lain selain ingin bicara.

Sore itu, ketika hujan turun cukup deras dan memaksa keduanya berteduh lebih lama dari biasanya di kedai yang mulai sepi, percakapan mereka mengalir ke arah yang lebih personal dari sebelumnya.

"Kamu tuh sebenarnya umur berapa sih?" Ami bertanya tiba-tiba, memutar-mutar sedotan di gelas es tehnya.

"Kenapa? Mau ngitung berapa tahun gap-nya sama kamu?" Firza balik bertanya, setengah bercanda.

"Nggak, cuma penasaran. Kamu keliatan kayak orang tiga puluhan, tapi cara ngomong sama caramu mikir kayak orang yang udah banyak makan asam garam kehidupan," Ami menjelaskan, matanya menyipit menilai.

"Empat puluh," Firza menjawab jujur, sedikit menahan napas menunggu reaksi.

"Serius?" Ami tampak sedikit terkejut, tapi bukan reaksi negatif yang Firza takutkan. "Wah, awet muda banget. Kirain paling tiga puluh lima."

"Makasih," Firza tersenyum, meski di dalam hati ia merasa lega bahwa angka itu tidak membuat Ami mundur atau berubah sikap seperti yang pernah terjadi pada beberapa kesempatan lain dalam hidupnya, ketika usia menjadi topik yang membuat orang-orang tertentu tiba-tiba menjaga jarak.

"Nggak masalah buat kamu, umur segitu masih sendiri?" Ami bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati, seolah menyadari topik itu bisa jadi sensitif.

"Awalnya berat," Firza mengaku. "Tapi lama-lama aku belajar nikmatin. Toh nggak semua orang harus punya timeline yang sama buat nikah, punya anak, atau apalah standar yang orang lain bikin. Aku cuma jalanin apa yang menurutku benar buat aku."

"Aku suka cara pikir kamu," Ami berkata, senyumnya tulus kali ini. "Kebanyakan orang di usia segitu udah panik banget kalau belum nikah."

"Kamu sendiri berapa?" Firza balik bertanya.

"Dua puluh sembilan," Ami menjawab, "hampir tiga puluh, dan aku masih merasa hidupku belum ke mana-mana."

"Kamu masih muda, Ami. Jangan buru-buru ngerasa gitu."

"Gampang buat kamu bilang gitu," Ami tertawa kecil, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di balik tawa itu, sesuatu yang membuat Firza ingin bertanya lebih jauh tapi memilih untuk tidak melakukannya—mengingat pelajaran dari hari-hari sebelumnya, bahwa Ami akan bicara ketika ia siap, bukan ketika didesak.

Lihat selengkapnya