Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #11

BAB 9 — ATURAN TIDAK TERTULIS

Percakapan lewat pesan singkat antara Firza dan Ami berkembang pesat dalam beberapa hari berikutnya. Dari sekadar berbagi foto pelangi, obrolan mereka meluas ke berbagai topik—rekomendasi tempat makan, lelucon receh yang mereka temukan di media sosial, hingga keluhan-keluhan kecil tentang hari yang melelahkan. Firza mendapati dirinya menunggu setiap notifikasi dari ponselnya dengan antusiasme yang sudah lama tidak ia rasakan, sebuah kebiasaan yang membuatnya merasa sedikit konyol mengingat usianya, tapi tidak cukup konyol untuk membuatnya berhenti.

Suatu malam, ketika mereka berjanji bertemu di sebuah warung makan kecil yang direkomendasikan Ami sebagai tempat gudeg "yang benar-benar otentik", percakapan mereka mengarah ke topik yang lebih serius.

"Firza," Ami memulai setelah mereka selesai memesan makanan, nadanya lebih hati-hati dari biasanya. "Aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan salah paham ya."

"Oke," Firza menjawab, meletakkan gelas air minumnya, memberikan perhatian penuh.

"Aku seneng banget kita bisa deket kayak gini dalam waktu singkat. Tapi aku juga mau jujur, aku lagi nggak dalam kondisi buat mikirin hubungan yang lebih dari pertemanan," Ami berkata, matanya menghindari kontak langsung dengan Firza, lebih fokus pada gelas es tehnya. "Bukan karena kamu nggak menarik atau apa. Cuma... hidupku lagi ribet banget sekarang. Aku nggak mau bikin harapan yang nggak bisa aku penuhi."

Firza mendengarkan dengan seksama, mencoba menahan kekecewaan kecil yang muncul—kekecewaan yang mengejutkannya sendiri, karena ia tidak menyadari seberapa jauh harapan itu sudah tumbuh tanpa ia sadari sepenuhnya. Tapi ia juga menghargai kejujuran Ami, kejujuran yang jauh lebih baik daripada dibiarkan berharap tanpa arah yang jelas.

"Aku ngerti," Firza menjawab, mencoba terdengar setenang mungkin. "Dan sebenarnya, aku juga sama. Aku ke sini bukan buat cari pacar atau apa. Aku cuma... butuh waktu buat diri sendiri."

"Beneran nggak apa-apa?" Ami bertanya lagi, seolah masih ragu apakah Firza jujur atau hanya berusaha menjaga perasaannya. "Aku nggak mau kamu ngerasa aku PHP atau apa."

"Ami," Firza menatapnya dengan serius, "aku orang dewasa. Aku bisa bedain mana yang harus dijaga jaraknya. Lagian, kejujuran kayak gini jauh lebih aku hargai dibanding pura-pura nggak ada apa-apa terus ujung-ujungnya jadi runyam."

Ami tersenyum lega, tampak sedikit terbebas dari beban yang tampaknya sudah ia pikirkan sejak beberapa hari sebelum mengucapkannya. "Ya udah. Kita sepakat ya."

Makanan mereka datang tak lama kemudian, dan untuk beberapa menit percakapan mereka teralihkan oleh aroma gudeg yang menggoda, ayam kampung yang empuk, dan sambal krecek yang pedasnya pas di lidah. Firza memperhatikan Ami makan dengan lahap, sesekali menutup mata menikmati rasa, sebuah pemandangan sederhana yang entah kenapa membuatnya merasa tenang—seolah, di luar semua kerumitan yang mungkin tersembunyi di balik senyumnya, Ami tetaplah seseorang yang bisa menikmati hal-hal kecil dalam hidup dengan tulus.

Lihat selengkapnya