Dua minggu setelah kesepakatan "hanya teman" mereka buat, Firza dan Ami sudah menjadi semacam pasangan tidak resmi dalam menjelajahi Jogja—bukan pasangan dalam artian romantis, tapi pasangan dalam artian selalu ada satu sama lain untuk diajak melakukan berbagai hal, dari sekadar makan malam hingga menjelajahi sudut-sudut kota yang belum pernah Firza kunjungi sebelumnya.
Malam itu, tanpa rencana matang, Ami mengirim pesan mendadak sekitar pukul sepuluh malam: "Susah tidur. Mau nemenin aku jalan-jalan ke Malioboro? Aku tau kamu udah tidur mungkin tapi coba aja."
Firza, yang memang belum tidur karena masih menyelesaikan sedikit pekerjaan, membalas dengan cepat: "Belum tidur. Kasih waktu 15 menit, aku samperin."
Mereka bertemu di ujung Malioboro yang mulai sepi dari pengunjung siang hari, hanya menyisakan beberapa pedagang kaki lima yang masih berjualan dan segelintir wisatawan yang menikmati suasana malam kota. Lampu-lampu jalan menciptakan bayangan panjang di trotoar, dan udara malam yang sejuk membuat langkah mereka terasa lebih santai dibanding biasanya.
Firza tiba lebih dulu, berdiri di dekat sebuah toko batik yang sudah tutup, memperhatikan Ami berjalan mendekat dari kejauhan dengan langkah agak lambat, tangan disembunyikan di dalam saku jaketnya. Ada sesuatu dari cara Ami berjalan malam itu—lebih pelan, lebih berat—yang membuat Firza langsung menyadari bahwa ini bukan sekadar ajakan jalan-jalan biasa.
"Hei," Ami berkata ketika sudah cukup dekat, suaranya lebih lirih dari biasanya.
"Hei," Firza membalas, mengamati wajah Ami di bawah cahaya lampu jalan—matanya sedikit sembab, meski ia jelas berusaha menutupinya dengan senyum tipis. "Kamu nangis?"
"Nggak," Ami menjawab cepat, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan. "Cuma capek aja. Yuk jalan."
Mereka mulai berjalan menyusuri trotoar, melewati deretan toko yang gelap dan sesekali gerobak angkringan yang masih menyalakan lampu petromaks. Firza sengaja tidak mendesak, membiarkan keheningan itu berjalan sampai Ami sendiri yang memutuskan untuk bicara, sebuah pelajaran yang sudah ia pahami betul dari minggu-minggu bersama perempuan ini.
Mereka berhenti sejenak di depan sebuah toko oleh-oleh yang etalasenya masih menyala meski tokonya sudah tutup, memantulkan cahaya keemasan ke wajah mereka berdua. Ami menatap pantulan dirinya di kaca etalase itu lama sekali, seolah mencari sesuatu di sana yang tidak bisa ia temukan.
"Kadang aku ngerasa capek jadi orang yang keliatan baik-baik aja terus," Ami akhirnya berkata, suaranya nyaris berbisa di tengah sepinya jalan. "Semua orang pikir aku kuat, aku ceria, aku bisa handle apa aja. Tapi kadang aku juga pengen ada yang nanya, 'Ami, kamu beneran baik-baik aja?' tanpa aku harus jawab 'iya' otomatis."
"Ami," Firza berkata pelan, "kamu beneran baik-baik aja?"
Ami menoleh, terkejut mendengar pertanyaan itu diucapkan persis seperti yang ia bayangkan, dan untuk sesaat matanya kembali berkaca-kaca. "Nggak," jawabnya akhirnya, suara nyaris pecah. "Tapi aku belum siap cerita kenapa."
"Nggak apa-apa," Firza menjawab, menahan diri untuk tidak memaksa lebih jauh. "Aku di sini kalau kamu butuh."