Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #13

BAB 11 — KAMERA DAN RAHASIA KECIL

Beberapa hari setelah malam di Malioboro, rutinitas Firza dan Ami kembali seperti biasa—bertemu di Sarasa Coffee, sesekali makan siang bersama, bertukar pesan sepanjang hari tentang hal-hal kecil yang tidak terlalu penting tapi entah kenapa selalu terasa menyenangkan untuk dibagikan. Namun ada satu kebiasaan baru yang mulai terbentuk: Firza mulai membawa kameranya setiap kali bertemu Ami, dan tanpa diminta, mulai memotretnya diam-diam di sela-sela momen yang tidak disadari—tangan yang menggenggam gelas kopi, tawa yang pecah karena lelucon receh, kepala yang miring ketika sedang berpikir keras tentang sesuatu.

"Kamu ngapain sih tiap kali motret aku diem-diem gitu?" Ami akhirnya bertanya suatu sore, ketika ia memergoki Firza mengangkat kamera ke arahnya untuk yang ketiga kalinya hari itu.

"Kebiasaan fotografer," Firza menjawab santai, meski di dalam hati ia tahu ada alasan lain yang lebih personal. "Kadang momen candid itu lebih jujur daripada foto yang dipersiapkan."

"Jujur gimana maksudnya?"

"Kalau kamu tahu lagi difoto, kamu bakal otomatis pasang ekspresi terbaik. Tapi kalau nggak sadar, yang keluar itu ekspresi asli kamu. Yang lebih... kamu banget."

Ami terdiam sejenak, memikirkan kalimat itu. "Jadi menurutmu, versi aku yang asli itu yang kayak gimana?"

Firza membuka galeri kameranya, menunjukkan salah satu foto—Ami yang sedang tertawa lepas sambil menutup mulut dengan tangan, matanya menyipit, kepala sedikit mendongak ke belakang. "Ini. Versi kamu yang lupa kalau lagi dijaga image-nya."

Ami memperhatikan foto itu lama, dan untuk sesaat wajahnya menunjukkan sesuatu yang jarang Firza lihat—keterkejutan yang tulus, seolah ia baru saja melihat dirinya sendiri dari sudut pandang yang belum pernah ia sadari sebelumnya. "Aku nggak pernah ngerasa secantik itu di foto manapun," katanya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.

"Karena kamu terlalu sibuk mikirin gimana kelihatannya di kamera, daripada ngerasain momennya," Firza menjelaskan. "Foto-foto formal kamu pasti bagus, tapi yang kayak gini—yang lupa lagi difoto—ini yang paling hidup."

Ami menatap Firza sejenak, ekspresinya sulit dibaca, campuran antara terharu dan sesuatu yang lebih dalam yang belum ia siap ungkapkan. "Kirim ke aku fotonya?"

"Nanti aku kirim semua yang bagus."

Percakapan itu berhenti sejenak ketika pesanan mereka datang, tapi topik tentang foto dan kejujuran dalam gambar terus menggantung di udara, seolah membuka pintu kecil menuju percakapan yang lebih dalam.

"Firza," Ami berkata setelah beberapa saat, nadanya berubah lebih serius. "Kalau misalnya aku minta kamu jangan pernah nunjukin foto-foto itu ke orang lain, kamu bakal nurut, kan?"

"Tentu. Kenapa emangnya?"

Ami menghela napas, memainkan sedotan di gelasnya. "Aku cuma... aku nggak suka kalau ada foto aku yang beredar tanpa aku tahu. Ada alasan tersendiri kenapa aku hati-hati soal itu."

Lihat selengkapnya