Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #14

BAB 12 — PERJALANAN SPONTAN KE KALIURANG

Hari Minggu tiba dengan cuaca yang tidak biasa—langit Jogja yang biasanya panas terik pagi itu terasa lebih sejuk, awan tebal menggantung rendah di ufuk utara, ke arah Gunung Merapi yang berdiri gagah di kejauhan. Firza baru saja menyelesaikan sarapan ketika ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Ami yang datang tanpa peringatan sama sekali.

"Mau ke Kaliurang nggak? Kirana batal ikut, katanya harus urus keluarga. Aku udah kepalang siap, sayang kalau nggak jadi."

Firza tersenyum membaca pesan itu, membalas cepat: "Boleh. Jam berapa jemput?"

"Aku bawa motor. 30 menit lagi di rumahmu?"

Tiga puluh menit kemudian, Ami tiba di depan rumah sewaan Firza dengan motor matic berwarna merah, mengenakan hijab abu-abu yang dipadukan dengan jaket parasut dan celana jeans, tampak jauh lebih santai dibanding penampilannya yang biasa ia lihat di kedai kopi.

"Naik, Firza. Kita bisa sampai sebelum siang kalau berangkat sekarang," Ami berkata sambil menyerahkan helm cadangan.

Perjalanan menuju Kaliurang memakan waktu sekitar satu jam, melewati jalanan yang perlahan menanjak, udara yang semakin sejuk seiring mereka mendekati kaki Gunung Merapi. Firza duduk di belakang, menikmati pemandangan sawah hijau yang terbentang di kedua sisi jalan, sesekali mengangkat kameranya untuk memotret pemandangan yang berlalu, meski hasil fotonya sedikit blur karena kecepatan motor.

"Pegangan yang bener, Firza! Jangan sok berani motret sambil aku ngebut," Ami berteriak dari depan, tertawa ketika merasakan Firza sedikit oleng karena terlalu fokus pada kameranya.

"Iya, iya," Firza tertawa, akhirnya memilih menyimpan kameranya dan benar-benar menikmati perjalanan, merasakan angin sejuk pegunungan menerpa wajahnya, sebuah sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan sejak masa-masa mudanya di Balikpapan, ketika ia dan teman-temannya sering melakukan perjalanan motor tanpa rencana matang seperti ini.

Sesampainya di kawasan Kaliurang, mereka memarkir motor dan berjalan menuju salah satu bukit kecil yang menawarkan pemandangan langsung ke arah Gunung Merapi, meski puncaknya tertutup awan tebal pagi itu. Udara di sana jauh lebih dingin dibanding pusat kota, membuat mereka berdua harus merapatkan jaket masing-masing.

"Sayang banget puncaknya ketutup awan," Ami berkata, sedikit kecewa menatap ke arah gunung yang samar-samar terlihat.

"Nggak apa-apa. Kadang yang tersembunyi justru lebih menarik dibayangkan daripada dilihat langsung," Firza menjawab, mencoba menghibur.

"Itu kalimat filosofis banget buat orang yang tadi hampir jatuh dari motor gara-gara motret sambil jalan."

Firza tertawa, mengakui kekonyolannya sendiri. Mereka duduk di sebuah warung kecil di pinggir bukit, memesan mendoan hangat dan teh manis, menikmati suasana pegunungan yang jauh berbeda dari hiruk-pikuk kota Jogja yang biasa mereka nikmati bersama.

Lihat selengkapnya