Senin sore, Kirana muncul kembali di Sarasa Coffee, kali ini dengan seorang laki-laki yang belum pernah Firza temui—tinggi, berkacamata, mengenakan kemeja flanel yang terlihat rapi meski kasual, membawa tas kamera yang tidak kalah besar dari milik Firza sendiri.
"Firza, kenalin, ini Bagas. Temen kuliahku dulu, sekarang jadi fotografer lepas juga," Kirana memperkenalkan, duduk di meja yang sama tanpa diminta, seolah sudah terbiasa menyusup ke dalam momen Firza dan Ami.
"Firza," ia mengulurkan tangan, disambut jabatan tangan yang cukup kuat dari Bagas.
"Denger-denger dari Kirana, kamu juga suka motret," Bagas berkata, matanya melirik ke arah tas kamera Firza yang tergeletak di samping kursi. "Pake apa biasanya?"
Percakapan mereka dengan cepat berubah menjadi diskusi teknis tentang kamera, lensa, dan gaya fotografi—sesuatu yang awalnya membuat Firza senang karena menemukan seseorang dengan minat yang sama, tapi lama-lama terasa seperti sebuah kompetisi terselubung, terutama ketika Bagas mulai menunjukkan portofolionya lewat ponsel, foto-foto pernikahan dan pre-wedding yang jelas menunjukkan keahlian profesional yang jauh melampaui hobi amatir Firza.
"Ini pake lighting external ya?" Firza bertanya, mencoba terlihat kompeten meski dalam hati mulai merasa gentar melihat kualitas gambar yang begitu rapi dan konsisten.
"Iya, dua flash eksternal plus reflektor. Standar sih buat acara indoor," Bagas menjawab santai, seolah peralatan semahal itu adalah hal yang biasa saja, membuat Firza semakin sadar betapa jauh jarak antara hobi kasualnya dengan dunia profesional yang digeluti Bagas.
"Wah, ini keren banget," Ami berkomentar, memperhatikan salah satu foto Bagas dengan antusias yang membuat sesuatu di dalam dada Firza terasa sedikit menyempit—perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sejak bertemu Ami, sesuatu yang, jika ia jujur pada dirinya sendiri, terasa seperti kecemburuan.
"Bagas emang udah sering handle acara-acara gede. Kalau kamu, Firza, motret buat apa aja biasanya?" Kirana bertanya, tanpa maksud jahat, tapi pertanyaan itu terasa seperti sindiran halus di telinga Firza yang sedang tidak dalam kondisi terbaik untuk menerimanya dengan lapang dada.
"Cuma hobi," Firza menjawab, mencoba terdengar santai meski di dalam hati ia merasa kecil dibandingkan pencapaian profesional Bagas. "Nggak sebesar itu levelnya."
"Nggak apa-apa, kok. Hobi juga bagus," Bagas berkata dengan nada yang terdengar sedikit merendahkan meski mungkin tidak ia maksudkan seperti itu, membuat Firza semakin merasa tidak nyaman.
Sepanjang sisa sore itu, Firza mendapati dirinya semakin diam, memperhatikan bagaimana Ami dan Bagas mengobrol dengan lancar tentang dunia fotografi yang sepertinya sudah lama mereka geluti bersama—tertawa pada lelucon-lelucon internal yang tidak sepenuhnya Firza pahami, membicarakan nama-nama tempat dan acara yang terdengar asing baginya.
Ia mencoba ikut nimbrung sesekali, melontarkan komentar tentang salah satu teknik pencahayaan yang pernah ia baca, tapi tanggapan Bagas terasa datar, seolah komentarnya terlalu dasar untuk dianggap serius oleh seorang profesional. Firza merasa semakin kecil, teringat kembali pada masa-masa awal kariernya di dunia konsultan, ketika ia sering merasa harus membuktikan diri di antara orang-orang yang jauh lebih berpengalaman—perasaan lama yang sudah lama ia kira sudah ia atasi, tapi ternyata masih bisa muncul kembali dengan mudah dalam konteks yang sama sekali berbeda.
Ketika Bagas dan Kirana akhirnya pamit lebih dulu, meninggalkan Firza dan Ami berdua di meja yang sama, keheningan canggung menggantung di antara mereka untuk beberapa saat.