Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #16

BAB 14 — TEMAN-TEMAN BARU

Minggu-minggu berikutnya membawa perubahan kecil namun berarti dalam kehidupan Firza di Jogja—lingkaran pertemanannya perlahan meluas melampaui Ami dan Kirana, seiring ia mulai diperkenalkan pada teman-teman lain yang menjadi bagian dari kehidupan sosial Ami di kota ini.

Suatu malam Jumat, Ami mengajak Firza bergabung dalam acara kumpul-kumpul kecil di rumah salah satu temannya, Dhika, seorang pemilik studio musik indie yang sering menjadi tempat berkumpul anak-anak muda kreatif Jogja. Firza awalnya ragu, mengingat perbedaan usia yang cukup jauh dengan sebagian besar orang yang akan hadir, tapi Ami meyakinkannya bahwa tidak akan ada yang mempermasalahkan hal itu.

"Mereka orangnya asik-asik, kok. Nggak akan ngerasa canggung," Ami meyakinkan sambil mereka berjalan menuju rumah Dhika yang tidak jauh dari Prawirotaman.

Rumah itu penuh dengan dekorasi eklektik—poster band vinyl tua, lampu-lampu string yang menciptakan suasana hangat, dan alat musik yang tersebar di berbagai sudut ruangan. Sekitar delapan orang sudah berkumpul ketika mereka tiba, duduk melingkar di ruang tamu sambil ditemani kopi dan camilan sederhana.

"Ini Firza, temenku dari Balikpapan," Ami memperkenalkan, dan Firza memperhatikan bagaimana kata "temen" itu diucapkan dengan penekanan yang sedikit berbeda dari biasanya, seolah Ami sendiri sedang mencoba meyakinkan diri sendiri akan definisi kata itu.

Satu per satu teman-teman Ami memperkenalkan diri—ada Randy yang bekerja sebagai desainer grafis lepas, Tata yang mengelola akun media sosial untuk beberapa usaha kuliner lokal, dan sepasang kekasih bernama Alif dan Nadia yang baru saja pulang dari perjalanan mendaki Gunung Sumbing. Semua orang tampak akrab satu sama lain, tertawa dan bercanda dengan mudah, menciptakan suasana yang membuat Firza, meski awalnya canggung, perlahan merasa diterima sebagai bagian dari lingkaran itu.

Perkenalan berjalan lancar, dan Firza mendapati dirinya diterima dengan hangat oleh teman-teman Ami, jauh dari kekhawatirannya sebelumnya tentang perbedaan usia atau latar belakang. Dhika, sang tuan rumah, bahkan langsung tertarik ketika mengetahui Firza membawa kamera, mengajaknya berbicara panjang lebar tentang fotografi dokumenter yang menjadi minat mereka berdua.

"Ami cerita banyak soal kamu, lho," Dhika berkata di sela obrolan mereka, membuat Firza sedikit terkejut.

"Cerita apa aja?" Firza bertanya, penasaran.

"Yah, macem-macem. Katanya kamu orangnya sabar banget, nggak pernah maksa dia cerita hal-hal yang dia belum siap," Dhika menjawab, sambil melirik ke arah Ami yang sedang asyik mengobrol dengan teman-teman lainnya di seberang ruangan. "Itu penting banget buat Ami, tau. Dia orangnya susah percaya sama orang baru, apalagi setelah semua yang terjadi."

Firza mengerutkan kening, menangkap petunjuk kecil yang baru saja terlontar tanpa sengaja. "Semua yang terjadi apa maksudnya?"

Dhika tampak sedikit gugup, menyadari ia mungkin sudah bicara terlalu banyak. "Ah, itu... mendingan tanya langsung ke Ami aja. Bukan cerita aku buat disebarin."

Firza mengangguk, menghargai batasan yang Dhika tetapkan, meski rasa penasarannya semakin membesar. Ia sudah cukup lama mengenal Ami untuk tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik sikap hati-hatinya, tapi setiap kali ia mendekati topik itu, selalu ada tembok tak kasat mata yang menghalangi.

Lihat selengkapnya