Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #17

BAB 15 — SISI LAIN AMI

Sepuluh hari menjelang pertengahan masa tinggal Firza di Jogja, sebuah kejadian tak terduga membuka celah kecil menuju rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Ami. Firza, yang berencana memberikan kejutan kecil dengan membawakan makanan favorit Ami dari sebuah warung yang baru mereka temukan bersama, memutuskan untuk datang langsung ke kos-kosan Ami tanpa memberi kabar terlebih dahulu—sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tapi terasa seperti ide yang menyenangkan pada saat itu.

Ia sampai di depan kos Ami sekitar pukul delapan malam, dan ketika hendak mengetuk pintu kamarnya, ia mendengar suara isak tangis dari balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup rapat. Firza terdiam, ragu antara masuk atau pergi, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk pelan.

Sepanjang perjalanan ke sana, ia sempat membayangkan berbagai skenario menyenangkan—Ami yang terkejut senang melihat kejutan kecilnya, mungkin tawa lepas seperti biasa, atau setidaknya senyum lelah karena hari yang panjang. Tidak satu pun dari bayangan itu mempersiapkannya untuk suara isak tangis yang kini terdengar jelas dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka.

"Ami? Ini aku, Firza," ia berkata pelan, mencoba tidak terdengar mengganggu.

Ada jeda cukup lama sebelum pintu terbuka, menampilkan Ami dengan mata sembab dan wajah yang jelas menunjukkan bekas tangisan, mengenakan kaus longgar tanpa hijab, rambutnya yang biasanya tersembunyi kini tergerai bebas—sebuah momen yang membuat Firza menyadari betapa personalnya ruang ini, dan betapa tidak siapnya ia menghadapi kerentanan yang tiba-tiba terpampang di depannya.

"Firza," Ami berkata, suaranya serak, buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Kenapa kamu ke sini? Aku... aku lagi nggak siap keliatan kayak gini."

"Maaf, aku harusnya kabar-kabar dulu," Firza menjawab, merasa bersalah karena mengganggu momen yang jelas sangat pribadi. "Aku bawain makanan, tapi kalau kamu mau sendirian, aku bisa taruh di depan pintu aja."

Ami menatapnya lama, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Nggak apa-apa. Masuk aja."

Kamar Ami sederhana namun rapi, dengan beberapa foto keluarga tertempel di dinding dan sebuah meja kecil dipenuhi buku-buku yang tersusun tidak beraturan. Firza duduk canggung di kursi yang ditawarkan, meletakkan bungkusan makanan di meja, sementara Ami kembali duduk di tepi ranjangnya, memeluk lututnya sendiri.

Firza memperhatikan sekeliling kamar itu sekilas—sebuah kamar yang meski kecil, terasa sangat personal, penuh dengan jejak-jejak kehidupan Ami yang selama ini tersembunyi darinya. Ada foto seorang perempuan paruh baya yang wajahnya mirip Ami, kemungkinan ibunya, tersenyum dalam bingkai kayu sederhana di atas meja belajar. Ada juga sebuah buku catatan usang dengan sampul yang sudah lecek, tergeletak di sudut meja, seolah sering dibuka dan ditutup berkali-kali.

"Kamu nggak perlu cerita kalau belum siap," Firza berkata pelan, meski jelas terlihat kekhawatiran di wajahnya.

Ami terdiam lama, menatap ke arah jendela kecil kamarnya yang menampilkan pemandangan gang sempit di luar. "Hari ini tanggal berapa yang bikin kamu nggak tahu artinya," ia akhirnya berkata, suaranya nyaris berbisik. "Tapi buat aku, ini hari yang berat setiap tahunnya."

Lihat selengkapnya