Pagi itu, ponsel Firza berdering lebih awal dari biasanya, menampilkan nama Pak Hardi, direktur utama salah satu perusahaan tambang yang menjadi klien terbesarnya selama bertahun-tahun terakhir. Firza mengangkat panggilan itu dengan sedikit cemas, mengingat Pak Hardi jarang menelepon langsung kecuali ada sesuatu yang mendesak.
"Firza, maaf ganggu pagi-pagi," suara Pak Hardi terdengar serius di ujung telepon. "Ada masalah sama laporan efisiensi yang kamu kirim minggu lalu. Direksi mau rapat khusus bahas ini, dan mereka minta kamu hadir langsung, bukan lewat video call."
"Kapan rapatnya, Pak?" Firza bertanya, merasakan sedikit ketegangan mulai menjalar di dadanya.
"Minggu depan. Aku tahu kamu lagi di Jogja, tapi ini penting banget, Za. Bisa diusahain?"
Firza menghela napas, menatap keluar jendela rumah sewaannya yang menampilkan pemandangan gang kecil yang mulai ia hafal setiap detailnya. "Bisa, Pak. Saya atur tiketnya."
Setelah menutup telepon, Firza duduk terdiam beberapa saat, mencerna kenyataan bahwa dunia lamanya—dunia kerja, target, laporan, dan tekanan yang selama sebulan ini terasa jauh—kini kembali memanggil dengan suara yang tidak bisa ia abaikan. Dan yang lebih membuatnya gelisah, ia tahu perjalanan mendadak ke Balikpapan berarti berpisah sementara dari rutinitas yang selama ini ia bangun bersama Ami, sesuatu yang entah kenapa terasa jauh lebih berat dibanding urusan pekerjaan itu sendiri.
Ia membuka laptopnya, mulai memeriksa detail laporan yang dipermasalahkan direksi, mencoba memahami di mana letak kesalahpahaman yang membuat semua ini harus dibahas secara langsung. Semakin lama ia membaca, semakin ia menyadari bahwa masalahnya tidak sesederhana yang ia kira—ada perbedaan angka signifikan antara proyeksi efisiensi yang ia ajukan dengan data lapangan terbaru yang baru masuk minggu itu, sesuatu yang membutuhkan penjelasan detail dan mungkin revisi menyeluruh terhadap strateginya.
Ia menghabiskan sisa pagi itu menyusun ulang beberapa poin presentasi, sesekali berhenti untuk menyesap kopi yang mulai dingin, pikirannya terbagi antara kekhawatiran soal pekerjaan dan kegelisahan yang lebih personal soal apa yang akan terjadi pada rutinitasnya bersama Ami selama ia pergi.
Ia sempat menelepon Bram, sahabatnya di Balikpapan, untuk memastikan beberapa hal teknis soal jadwal rapat dan siapa saja yang akan hadir. "Kamu kedengarannya beda, Za," Bram berkomentar di ujung telepon, nada suaranya penuh rasa ingin tahu. "Biasanya kalau ada masalah kerjaan kayak gini, kamu bakal panik duluan. Sekarang kok kedengeran lebih santai?"
"Nggak tau juga," Firza menjawab jujur, sedikit terkejut menyadari kebenaran dari komentar itu. "Mungkin Jogja emang ngubah cara aku liat masalah."
"Atau ada orang yang bikin kamu lupa sejenak sama masalah kerjaan," Bram menggoda, tawanya terdengar jelas meski lewat telepon. "Ceritain dong, siapa perempuan yang bikin sahabatku ini jadi kalem gini."
Firza tertawa, tidak sepenuhnya menyangkal tapi juga belum siap membuka semuanya lewat telepon. "Nanti pas ketemu langsung aja aku cerita, Bram. Sekarang fokus dulu ke rapat ini."
"Oke deh, tapi awas aja kalau kamu nggak cerita pas ketemu nanti," Bram mengancam bercanda, sebelum akhirnya menutup telepon dengan janji akan menjemput Firza di bandara.
Ia mengirim pesan pada Ami sore itu, memberi tahu tentang kepulangannya yang mendadak. Balasan Ami datang cukup cepat: "Berapa lama di sana?"