Empat hari di Balikpapan terasa jauh lebih panjang dari yang Firza bayangkan. Rapat dengan direksi berjalan lancar setelah ia berhasil menjelaskan detail proyeksi yang sempat dipertanyakan, tapi di sela-sela kesibukan itu, pikirannya terus melayang kembali ke Jogja, ke rutinitas kecil yang selama sebulan terakhir menjadi bagian penting dari harinya.
Rumahnya di Balikpapan terasa lebih dingin dari yang ia ingat, meski AC-nya sama sekali tidak diubah pengaturannya. Ia berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain pada malam pertama kepulangannya, memperhatikan perabotan yang tersusun rapi tanpa jejak kehidupan, foto-foto lama di dinding yang sudah lama tidak benar-benar ia perhatikan, dan kesunyian yang dulu ia anggap wajar, kini terasa begitu mencolok setelah sebulan terbiasa dengan keramaian kecil kehidupan di Jogja.
Rekan-rekan kerjanya di kantor cabang menyambutnya dengan hangat, beberapa bahkan bercanda tentang "wajah Firza yang keliatan lebih segar" setelah sebulan bekerja dari Jogja. Ia hanya tersenyum menanggapi candaan itu, tidak sepenuhnya menjelaskan bahwa kesegarannya bukan hanya soal perubahan suasana kerja, tapi juga soal seseorang yang telah mengisi kembali ruang kosong dalam hatinya yang sudah lama ia kira tidak akan pernah terisi lagi.
Salah satu rekan kerjanya, Yanti, yang cukup dekat dengannya sejak bertahun-tahun bekerja bersama, sempat menggoda lebih jauh saat mereka makan siang bersama di kantin kantor. "Firza, jujur deh, ada apa sih di Jogja sana? Dari dulu kamu nggak pernah seceria ini abis dinas ke luar kota."
"Nggak ada apa-apa, kok," Firza menjawab, mencoba terdengar biasa saja meski senyum kecil yang muncul tanpa sadar sedikit membocorkan kebohongannya.
"Ah, bohong. Mata kamu tuh beda pas ngomong soal Jogja," Yanti tertawa, tidak memaksa lebih jauh tapi jelas tidak sepenuhnya percaya pada jawaban Firza yang terlalu singkat itu.
Komunikasi dengan Ami tetap berjalan, meski dengan ritme yang berbeda—pesan-pesan singkat di sela kesibukan masing-masing, sesekali panggilan video singkat sebelum tidur. Semuanya terasa baik-baik saja, sampai suatu sore ketika Firza, saat istirahat makan siang di kantor cabang Balikpapan, mengunggah sebuah foto ke media sosial pribadinya—foto pemandangan sawah di Kaliurang yang ia ambil bersama Ami beberapa minggu lalu, dengan siluet Ami yang samar di kejauhan, cukup jelas untuk dikenali oleh siapa pun yang cukup mengenalnya.
Ia tidak berpikir panjang saat mengunggah foto itu, hanya menambahkan keterangan sederhana: "Salah satu momen terbaik bulan ini." Ia tidak menandai Ami, tidak menyebut namanya, hanya sebuah foto yang menurutnya indah dan layak dibagikan.
Reaksi datang lebih cepat dari yang ia duga. Sekitar satu jam kemudian, pesan dari Ami masuk, nadanya jelas berbeda dari biasanya: "Firza, kenapa kamu upload foto itu tanpa bilang-bilang dulu?"
Firza terkejut membaca pesan itu, tidak menyangka unggahan sederhana itu akan menjadi masalah. "Maaf, aku nggak mikir bakal jadi masalah. Aku nggak sebut nama kamu kok, cuma foto pemandangan aja," ia membalas, mencoba menjelaskan.