Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #20

BAB 18 — PERMINTAAN MAAF DI ALUN-ALUN KIDUL

Firza mendarat di Yogyakarta pada sore hari, dan alih-alih langsung pulang ke rumah sewaannya untuk beristirahat setelah perjalanan panjang, ia justru mengirim pesan pada Ami begitu pesawatnya mendarat: "Aku udah sampai Jogja. Bisa ketemu sebentar malam ini? Aku pengen minta maaf langsung, bukan lewat teks."

Balasan Ami datang setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang bagi Firza: "Oke. Alun-alun Kidul jam 8?"

Firza tersenyum lega membaca balasan itu, meski masih ada kekhawatiran yang mengganjal tentang bagaimana pertemuan itu akan berjalan. Ia bergegas pulang, membersihkan diri, dan tiba di Alun-alun Kidul beberapa menit lebih awal dari waktu yang disepakati, duduk di salah satu bangku sambil memperhatikan orang-orang yang menikmati suasana malam—anak-anak muda bermain sepeda hias berlampu warna-warni, keluarga yang duduk lesehan menikmati jajanan kaki lima, dan pasangan-pasangan yang berjalan santai mengelilingi dua pohon beringin besar di tengah alun-alun.

Sambil menunggu, Firza berulang kali memeriksa jam di ponselnya, merasa waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Ia menyusun ulang kalimat permintaan maafnya dalam kepala, mencoba memastikan tidak ada satu pun kata yang terdengar defensif atau seolah mencari pembenaran, mengingat pelajaran yang baru saja ia dapatkan dari refleksinya sendiri tentang pernikahannya yang gagal.

Ami tiba tepat waktu, mengenakan hijab warna dusty pink yang dipadukan dengan gamis sederhana, wajahnya menunjukkan campuran antara kelelahan dan kehati-hatian yang belum sepenuhnya hilang sejak insiden foto itu. Ia berjalan pelan, tidak seperti biasanya yang penuh semangat, membuat Firza sedikit gugup melihat perubahan itu.

"Hai," Ami berkata singkat, duduk di bangku yang sama namun menjaga jarak yang terasa lebih jauh dari biasanya.

"Hai," Firza membalas, merasakan kecanggungan yang belum pernah ia rasakan sejak mereka mulai dekat. "Makasih udah mau ketemu."

Ada penjual wedang ronde yang lewat mendorong gerobaknya, menawarkan dagangan dengan suara khas yang menggema di keheningan malam. Firza sempat berpikir untuk membeli dua gelas sebagai pemecah kecanggungan, tapi mengurungkan niatnya, merasa belum pantas menawarkan sesuatu yang menyenangkan sebelum permintaan maafnya benar-benar tersampaikan.

Mereka duduk dalam diam sejenak, suara tawa anak-anak yang bermain sepeda hias mengisi keheningan di antara mereka, sebelum Firza akhirnya memutuskan untuk langsung ke inti pembicaraan, seperti yang sudah ia rencanakan sepanjang penerbangan.

"Ami, aku minta maaf soal foto itu," Firza memulai, menatap langsung ke mata Ami. "Aku nggak mikir panjang waktu upload, dan itu salah aku sepenuhnya. Aku seharusnya nanya dulu ke kamu, apalagi aku tahu kamu orangnya hati-hati soal privasi."

Ami mendengarkan tanpa menyela, ekspresinya masih sulit dibaca.

"Aku juga sadar," Firza melanjutkan, "kalau ini mungkin bukan cuma soal foto. Aku nggak tahu detailnya, tapi aku curiga ini nyentuh sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum kamu ceritain ke aku. Dan aku minta maaf kalau tindakan aku bikin kamu ngerasa nggak aman."

Mendengar kata-kata itu, mata Ami mulai berkaca-kaca, dan ia menghela napas panjang sebelum akhirnya bicara. "Kamu bener. Ini bukan cuma soal foto." Ia terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian. "Dulu, di Solo, mantan pacarku sering nyebar hal-hal pribadi tentang aku ke orang lain tanpa izin—foto, cerita, bahkan hal-hal yang seharusnya cuma kami berdua yang tahu. Dia bilang itu 'nggak sengaja' juga, sama kayak alasan kamu. Tapi lama-lama aku sadar, itu caranya dia kontrol aku, bikin aku ngerasa nggak punya privasi sama sekali."

Lihat selengkapnya