Beberapa hari setelah pertemuan emosional di Alun-alun Kidul, hubungan Firza dan Ami terasa memasuki fase baru—lebih hangat, lebih jujur, dengan lapisan kehati-hatian yang perlahan mulai terkikis meski belum sepenuhnya hilang. Suatu malam, Ami mengajak Firza menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di sebuah sanggar kecil dekat Kotagede, sebuah acara yang menurutnya wajib disaksikan setidaknya sekali selama tinggal di Jogja.
"Kamu pernah nonton wayang sebelumnya?" Ami bertanya sambil mereka berjalan menuju sanggar yang sudah mulai ramai pengunjung, sebagian besar warga sekitar yang membawa tikar dan bantal kecil untuk duduk lesehan. Suasana malam itu terasa berbeda dari malam-malam biasa mereka habiskan bersama, lebih khidmat, lebih penuh dengan nuansa tradisi yang jarang Firza rasakan sejak kecil.
"Belum pernah beneran. Paling cuma liat sekilas di TV," Firza mengaku, merasa sedikit canggung dengan ketidaktahuannya.
"Nanti aku jelasin pelan-pelan," Ami tersenyum, memilih tempat duduk di bagian tengah, cukup dekat untuk melihat detail wayang tapi tidak terlalu dekat dengan gamelan yang mulai dimainkan para pengrawit.
Pertunjukan dimulai dengan lantunan gamelan yang mengalun pelan, diiringi suara dalang yang mulai menceritakan kisah pewayangan malam itu—lakon tentang perjalanan seorang ksatria yang harus memilih antara kewajiban dan cinta, antara masa lalu yang mengikatnya dan masa depan yang menawarkan kebebasan baru. Firza duduk terpaku, meski tidak sepenuhnya memahami bahasa Jawa halus yang digunakan sang dalang, ia merasakan sesuatu yang magis dari keseluruhan pertunjukan itu—bayangan wayang yang menari di layar kelir, permainan cahaya dan bayangan yang menciptakan dunia sendiri, suara gamelan yang seolah berbicara langsung pada jiwa penontonnya.
"Ceritanya tentang apa?" Firza berbisik pelan pada Ami di sela pertunjukan.
Ami mendekat, menjelaskan dengan suara pelan agar tidak mengganggu penonton lain. "Tentang Arjuna yang harus milih antara tugasnya sebagai ksatria atau cintanya sama Sembadra. Klasik banget temanya, tapi selalu related sama kehidupan, kan? Kadang kita juga harus milih antara apa yang 'seharusnya' kita lakuin sama apa yang bener-bener kita mau."
Firza menoleh menatap Ami, menangkap sesuatu yang lebih personal di balik penjelasan sederhana itu. "Kamu ngomongin wayang atau ngomongin sesuatu yang lain?"
Ami tersenyum tipis, tidak langsung menjawab, matanya kembali fokus pada layar kelir yang menampilkan pertarungan sengit antara dua tokoh wayang. "Mungkin dua-duanya," ia akhirnya mengaku, suaranya nyaris tenggelam oleh suara gamelan yang semakin riuh.
Mereka duduk berdampingan sepanjang pertunjukan, sesekali Ami menjelaskan detail-detail kecil tentang tokoh wayang yang muncul, tentang makna filosofis di balik setiap gerakan dan dialog, pengetahuan yang membuat Firza semakin kagum pada kedalaman pemahaman Ami tentang budaya Jawa, sesuatu yang jarang ia tunjukkan dalam percakapan sehari-hari mereka.
"Dari mana kamu belajar semua ini?" Firza bertanya, tulus terkesan dengan pengetahuan Ami yang begitu detail.