Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #22

BAB 20 — JEJAK MASA LALU FIRZA MULAI TERKUAK

Seminggu setelah malam wayang di Kotagede, Firza mendapati dirinya semakin sering memikirkan pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab malam itu—pertanyaan Ami tentang "kalau misalnya perasaan kita udah lebih dari sekadar teman", yang meski sudah direspons dengan kejujuran, masih menggantung tanpa kepastian arah yang jelas. Ada semacam kesepakatan tak terucap di antara mereka untuk membiarkan hubungan itu berjalan alami, tanpa label, tanpa tergesa-gesa mendefinisikan sesuatu yang keduanya tahu sudah jauh melampaui pertemanan biasa.

Suatu sore, ketika mereka duduk di Sarasa Coffee seperti biasa, Ami tiba-tiba meletakkan cangkirnya dan menatap Firza dengan ekspresi serius yang jarang ia tunjukkan. "Firza, aku udah cerita banyak hal ke kamu—soal Solo, soal ketakutan aku, soal kenapa aku susah percaya sama orang. Tapi kamu sendiri belum pernah cerita detail soal pernikahan kamu dulu. Kamu selalu bilang 'kami cuma berhenti berusaha', tapi itu kedengarannya kayak jawaban yang udah kamu siapin, bukan cerita yang sebenarnya."

Firza terdiam sejenak, menyadari kebenaran dari pengamatan Ami. Selama ini, ia memang selalu menghindar dari detail lebih jauh soal perceraiannya, bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu yang memalukan, tapi karena ia sendiri belum sepenuhnya berdamai dengan bagian dari dirinya yang gagal mempertahankan pernikahan itu.

Ia mengaduk kopinya perlahan, mencoba menyusun kata-kata yang tepat, menyadari bahwa momen ini sudah lama tertunda—bukan hanya bagi Ami yang ingin memahaminya lebih dalam, tapi juga bagi dirinya sendiri yang selama bertahun-tahun terus menghindar dari kejujuran penuh tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Kamu benar," Firza akhirnya mengaku, menghela napas panjang. "Aku emang selalu ngasih jawaban permukaan aja. Bukan karena aku nggak percaya kamu, tapi karena... jujur aja, aku masih ngerasa bersalah soal itu, dan lebih gampang buat aku kalau nggak usah bahas detailnya."

"Kamu nggak harus cerita kalau belum siap," Ami berkata lembut, mengulang kalimat yang sama seperti yang pernah Firza ucapkan padanya berkali-kali. "Tapi kalau kamu mau, aku siap dengerin. Aku pengen ngerti kamu lebih dalam, bukan cuma versi kamu yang udah 'baik-baik aja'."

Firza menatap Ami lama, merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya—kesadaran bahwa perempuan di depannya ini benar-benar ingin mengenalnya, bukan sekadar menikmati kebersamaan yang menyenangkan tanpa kedalaman. Ia menghela napas sekali lagi, kali ini mempersiapkan diri untuk benar-benar jujur.

"Aku sama Rasti nikah waktu aku 28, dia 26. Awalnya semua terasa sempurna—kami sama-sama ambisius, sama-sama punya karier yang lagi naik, dan kami pikir itu artinya kami cocok," Firza memulai, suaranya perlahan menemukan ritme yang lebih tenang seiring cerita mengalir. "Tapi lama-lama, kesibukan kerja kami berdua bikin kami jarang punya waktu buat beneran ngobrol. Bukan berantem besar, bukan ada yang selingkuh. Cuma... pelan-pelan, kami jadi kayak dua orang asing yang kebetulan tinggal serumah."

Ami mendengarkan dengan seksama, tidak menyela, membiarkan Firza melanjutkan dengan kecepatannya sendiri.

"Yang paling nyesek itu," Firza melanjutkan, matanya menerawang jauh, "aku baru sadar semuanya udah terlalu jauh pas Rasti bilang dia mau cerai, dan aku nggak bisa mikirin satu alasan kuat pun buat ngebantah. Aku bahkan nggak bisa inget kapan terakhir kali kami beneran ketawa bareng, beneran ngobrol tanpa mikirin kerjaan."

"Itu pasti berat banget," Ami berkata pelan, tangannya nyaris terulur untuk menyentuh tangan Firza sebelum ia menariknya kembali, mengingat batasan yang masih mereka jaga.

Lihat selengkapnya