Tiga minggu setelah malam kejujuran di Sarasa Coffee, hubungan Firza dan Ami sudah terasa seperti sepasang kekasih tanpa status resmi—bertemu hampir setiap hari, saling menjaga, saling mendukung, meski kata "pacaran" belum pernah benar-benar terucap di antara mereka. Firza mulai merasa yakin bahwa apa pun rahasia besar yang selama ini Ami sembunyikan, cepat atau lambat akan terungkap dengan sendirinya, tanpa perlu ia paksa.
Ia tidak menyangka bahwa keterungkapan itu akan datang secepat dan setiba-tiba yang terjadi sore itu.
Sore itu langit Jogja mendung, memberi firasat aneh yang tidak bisa Firza jelaskan sejak ia berjalan menuju Sarasa Coffee. Ia memesan kopi seperti biasa, membuka laptop untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sambil menunggu Ami yang biasanya datang setengah jam setelahnya.
Firza sedang menunggu Ami di Sarasa Coffee seperti biasa ketika ponsel Ami, yang tertinggal di meja karena Ami sedang ke kamar kecil, bergetar berkali-kali menampilkan panggilan masuk dari kontak bernama "Ibu". Firza tidak berniat menjawabnya, hanya melirik sekilas, tapi panggilan itu terus berulang dengan intensitas yang membuatnya sedikit khawatir—seolah ada sesuatu yang mendesak di baliknya.
Ketika Ami akhirnya kembali dan melihat riwayat panggilan tak terjawab dari ibunya, wajahnya langsung berubah pucat. Ia segera menelepon balik, dan Firza, meski mencoba memberi privasi dengan berpura-pura sibuk dengan laptopnya, tidak bisa sepenuhnya menghindari mendengar sepotong-sepotong percakapan yang semakin lama semakin menegangkan.
"Bapak kenapa, Bu?" Ami bertanya, suaranya mulai bergetar. "Sejak kapan? Kok nggak langsung dikabarin ke aku?"
Firza memperhatikan wajah Ami yang semakin pucat, tangannya yang mulai gemetar memegang ponsel, air mata yang mulai menggenang di sudut matanya meski ia berusaha keras menahannya.
"Iya, Bu. Aku... aku usahain secepatnya," Ami berkata lagi, suaranya nyaris pecah, sebelum akhirnya menutup telepon dan duduk terdiam, menatap kosong ke arah meja di depannya.
"Ami," Firza berkata pelan, mendekat, "ada apa? Kamu baik-baik aja?"
Ami menatapnya, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. "Bapak aku kena serangan jantung tadi pagi. Sekarang di rumah sakit, kondisinya masih kritis."
Firza merasakan dadanya sesak mendengar kabar itu, segera memindahkan kursinya lebih dekat, mencoba memberi kehadiran yang menenangkan meski tidak yakin kata-kata apa yang bisa membantu dalam situasi seperti ini. "Kamu harus pulang ke Solo sekarang."
"Iya," Ami mengangguk, tangannya masih gemetar saat mencoba mengetik pesan ke seseorang di ponselnya. "Tapi... ada hal lain yang belum aku ceritain ke kamu, Firza. Tentang kenapa aku takut banget pulang ke Solo."