Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #24

BAB 22 — FIRZA MENCARI TAHU DIAM-DIAM

Dua hari berlalu sejak Ami berangkat ke Solo, dan komunikasi mereka hanya sebatas pesan singkat sesekali—kabar bahwa kondisi ayahnya sudah mulai stabil meski masih harus dirawat intensif, kabar bahwa Ami sibuk mengurus berbagai keperluan rumah sakit bersama ibunya. Tidak ada cerita lebih jauh soal Reza, soal bagaimana keluarga besar bereaksi terhadap kepulangannya, atau soal apa yang sebenarnya Ami rasakan menghadapi kembali kota yang penuh kenangan pahit itu.

Firza membaca ulang setiap pesan singkat itu berkali-kali, mencoba menangkap nada tersembunyi di balik kalimat-kalimat pendek yang dikirim Ami—apakah ia baik-baik saja, apakah ada sesuatu yang tidak diucapkan, apakah kesunyian di antara pesan-pesan itu menyimpan kekhawatiran yang lebih besar dari yang bisa disampaikan lewat teks.

Ia sempat membalas setiap pesan Ami dengan penuh perhatian, berusaha memberi dukungan tanpa terkesan menuntut informasi lebih. "Istirahat yang cukup ya. Jangan lupa makan meski lagi sibuk," tulisnya suatu malam, dan Ami hanya membalas dengan emoji sederhana, tanpa kalimat tambahan seperti biasanya—sebuah perubahan kecil yang tidak luput dari perhatian Firza yang sudah hafal betul pola komunikasi mereka selama berbulan-bulan terakhir.

Firza mencoba menahan diri untuk tidak terlalu banyak bertanya, mengingat Ami sedang dalam kondisi yang sangat berat, tapi rasa khawatirnya terus tumbuh seiring hari-hari berlalu tanpa kejelasan lebih jauh. Ia mendapati dirinya sulit berkonsentrasi bekerja, pikirannya terus melayang membayangkan berbagai skenario tentang apa yang mungkin sedang Ami hadapi di Solo—pertemuan canggung dengan keluarga Reza, tekanan dari keluarga besar, atau bahkan kemungkinan bahwa gosip lama soal utang Bapaknya akan kembali dibicarakan orang-orang gara-gara kondisi kesehatannya yang memburuk.

Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan bekerja, tapi setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya berdegup lebih cepat, berharap itu adalah kabar dari Ami dengan cerita yang lebih lengkap. Sebagian besar waktu, yang muncul hanyalah notifikasi email kerja atau pesan dari Bram yang menanyakan kabar, membuat kekhawatirannya semakin menumpuk tanpa jalan keluar.

Bram, yang sudah tahu sedikit banyak soal Ami dari cerita Firza sebelumnya, mencoba menenangkannya lewat telepon. "Za, aku ngerti kamu khawatir, tapi kamu juga harus inget, ini bukan urusan yang bisa kamu kontrol. Kadang yang paling dibutuhin orang itu bukan solusi, tapi cuma tau ada yang nunggu dengan sabar."

"Aku tau, Bram. Tapi susah banget rasanya cuma diem nunggu tanpa tau apa-apa," Firza mengaku, suaranya terdengar lelah lewat telepon.

"Justru itu ujiannya, Za. Kadang cinta itu bukan soal seberapa banyak yang bisa kamu lakuin, tapi seberapa sabar kamu nunggu tanpa maksa," Bram menjawab bijak, kata-kata yang terngiang lama di kepala Firza setelah panggilan itu berakhir.

Pada hari ketiga, tidak tahan lagi dengan ketidaktahuannya, Firza memutuskan menghubungi Kirana, berharap sahabat Ami itu bisa memberinya sedikit gambaran lebih jelas tentang situasi di Solo.

"Ki, boleh tanya sesuatu?" Firza memulai percakapan telepon itu dengan hati-hati, menyadari ia sedang berjalan di atas garis tipis antara kekhawatiran wajar dan pelanggaran privasi Ami.

Lihat selengkapnya