Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #25

BAB 23 — PERTENGKARAN PERTAMA YANG SESUNGGUHNYA

Dua hari berlalu tanpa kabar dari Ami, waktu terlama sejak mereka mulai dekat tanpa saling menyapa sama sekali. Firza mengirim beberapa pesan susulan, masing-masing lebih hati-hati dari sebelumnya, mencoba menjelaskan tanpa terdengar defensif, tapi balasan yang datang hanya berupa tanda "dibaca" tanpa jawaban, sebuah keheningan yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan langsung.

Selama dua hari itu, Firza mendapati dirinya berulang kali membuka aplikasi pesan, mengetik lalu menghapus kalimat yang sama berkali-kali, tidak yakin apakah lebih baik menunggu atau mencoba menjelaskan sekali lagi. Ia bahkan sempat membuka draf permintaan maaf panjang di catatan ponselnya, tapi setiap kali membacanya ulang, kalimat-kalimat itu terasa seperti pembelaan diri yang terselubung, bukan pengakuan tulus atas kesalahannya.

Pada hari ketiga, ponsel Firza akhirnya berdering—panggilan video dari Ami, wajahnya terlihat lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang lebih tajam dari sekadar kelelahan fisik.

"Ami," Firza menjawab cepat, lega sekaligus cemas melihat ekspresi wajahnya. "Kamu udah balik ke Jogja?"

"Belum. Masih di Solo," Ami menjawab singkat, suaranya datar. "Firza, aku perlu tanya sesuatu, dan aku pengen jawaban jujur."

Di belakangnya, Firza bisa melihat sekilas kamar yang asing—dinding krem dengan lemari kayu tua, sebuah jendela dengan gorden batik yang menandakan ia sedang berada di rumah keluarganya, bukan di kos yang biasa ia tinggali di Jogja. Suasana di sana terasa jauh lebih formal, lebih berat, seolah rumah itu sendiri menyimpan ketegangan yang sudah bertahun-tahun mengendap.

"Apa aja," Firza menjawab, merasakan firasat buruk mulai menjalar.

"Kamu nyari tau soal Reza lewat media sosial?" Ami bertanya langsung, tanpa basa-basi.

Firza terdiam sejenak, tergoda untuk berbohong atau setidaknya meminimalisir apa yang sebenarnya ia lakukan, tapi ia tahu kejujuran adalah satu-satunya jalan yang benar, meski akan menyakitkan. "Iya," ia mengaku. "Aku khawatir banget, Ami. Aku cuma pengen tau kamu baik-baik aja di sana."

Wajah Ami di layar berubah, matanya berkilat dengan kemarahan yang selama ini jarang ia tunjukkan. "Jadi kamu beneran nyari tau, sampe ke akun media sosial orang yang bahkan kamu nggak kenal? Firza, kamu tau nggak sih gimana rasanya itu buat aku?"

"Ami, aku—"

Lihat selengkapnya