Seminggu berlalu sejak pertengkaran video call itu, dan komunikasi antara Firza dan Ami nyaris terhenti total—hanya sesekali pesan singkat formal, kabar bahwa ayah Ami sudah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah, tapi tidak ada lagi obrolan hangat yang biasa mewarnai hari-hari mereka selama berbulan-bulan terakhir.
Firza mendapati dirinya terjebak dalam rutinitas yang terasa hampa—bangun pagi, bekerja, sesekali keluar memotret tanpa semangat yang biasa menyertainya, kembali ke rumah sewaan yang kini terasa jauh lebih sunyi tanpa pesan-pesan dari Ami yang biasa mengisi hari-harinya. Sarasa Coffee, yang dulu menjadi tempat favorit mereka berdua, kini terasa seperti ruang kosong yang penuh kenangan yang menyakitkan untuk dikunjungi sendirian.
Bu Wening, pemilik rumah sewaan yang sudah cukup akrab dengannya setelah berbulan-bulan tinggal di sana, sempat menegurnya suatu pagi ketika melihat Firza duduk termenung lama di teras. "Mas Firza kok akhir-akhir ini keliatan murung? Ada masalah?"
"Ah, nggak apa-apa, Bu. Cuma lagi banyak pikiran aja," Firza menjawab, mencoba tersenyum meski tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kesedihannya.
"Kalau soal Mbak Ami, biar waktu yang nyembuhin, Mas. Namanya juga hubungan, kadang ada aja ujiannya," Bu Wening berkata bijak, membuat Firza tersadar bahwa bahkan tuan rumahnya pun sudah cukup memperhatikan pola kunjungan Ami yang tiba-tiba terhenti.
Ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan, menerima lebih banyak proyek dari kliennya di Balikpapan sebagai cara untuk mengalihkan pikiran, tapi bahkan di tengah kesibukan itu, pikirannya terus kembali pada Ami—bagaimana keadaannya di Solo, apakah ia sudah kembali ke Jogja, apakah kemarahannya sudah mereda atau justru semakin membesar seiring waktu.
Suatu sore, Firza memutuskan menghubungi Bram, mencari sedikit perspektif dari luar tentang situasi yang semakin membebani pikirannya. "Bram, aku bener-bener nggak tau harus gimana. Udah seminggu, dan dia masih belum mau ngobrol panjang."
"Kamu udah minta maaf dengan jelas?" Bram bertanya, suaranya penuh perhatian meski dari jarak jauh.
"Udah, berkali-kali malah. Tapi setiap kali aku coba, responnya selalu singkat, formal," Firza mengaku, frustrasi mulai terdengar jelas dalam nadanya.
"Za, kadang orang butuh waktu lebih lama dari yang kita kira buat proses sesuatu, apalagi kalau itu nyentuh trauma lama," Bram menjelaskan dengan bijak. "Coba pikir dari sisi dia. Dia baru aja ngadepin ayahnya sakit, ketemu lagi sama masa lalu yang dia takutin selama bertahun-tahun, terus di tengah semua itu, orang yang dia percaya malah ngelanggar batasan yang udah dia tetapin. Itu beban yang berat banget buat diproses sekaligus."
Firza terdiam, mencerna kata-kata Bram dengan perasaan campur aduk antara pengertian dan keputusasaan. "Jadi aku harus gimana? Cuma nunggu aja tanpa ngapa-ngapain?"