Dua minggu telah berlalu sejak pertengkaran itu, dan Firza, yang mulai kehilangan harapan akan komunikasi normal dengan Ami, memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda—bukan pesan permintaan maaf lagi, bukan panggilan telepon yang mungkin akan ditolak, tapi sebuah tindakan yang bisa berbicara lebih jujur daripada kata-kata mana pun yang bisa ia rangkai.
Ide itu muncul suatu malam ketika ia sedang menggulir galeri fotonya, menemukan ratusan foto Ami yang telah ia ambil selama berbulan-bulan terakhir—momen-momen kecil yang candid, tawa yang lepas, ekspresi serius saat menjelaskan wayang, kesedihan yang tertangkap di Malioboro tengah malam, kebahagiaan sederhana saat berbagi wedang jahe di halaman sanggar. Setiap foto itu menceritakan sebuah kisah, sebuah perjalanan kedekatan yang tumbuh perlahan tapi mendalam.
Firza memutuskan untuk membuat pameran foto kecil, bukan dengan maksud romantis yang berlebihan atau grand gesture yang terkesan memaksa, tapi sebagai bentuk permintaan maaf yang jujur—sebuah pengakuan visual atas betapa berartinya Ami baginya, dan sekaligus bukti bahwa selama ini ia benar-benar memperhatikan, benar-benar menghargai setiap momen kecil bersama Ami, bukan sekadar mengejar kedekatan tanpa memahami maknanya.
Ia menghubungi Dhika, yang studio musiknya juga sering digunakan untuk acara-acara kreatif kecil, meminta izin untuk meminjam ruangan selama satu sore untuk memasang pameran sederhana. Dhika, meski awalnya bingung dengan permintaan itu, akhirnya setuju setelah Firza menjelaskan maksud sebenarnya di baliknya.
"Kamu yakin ini ide bagus, Mas?" Dhika bertanya, sedikit khawatir. "Ami masih belum sepenuhnya pulih dari kejadian kemarin."
"Aku nggak nyoba maksa dia balik lagi, Dhika," Firza menjelaskan. "Aku cuma pengen dia tau, seberapa besar aku menghargai dia, lewat cara yang nggak melanggar batasan yang udah dia tetapin. Dia bisa dateng atau nggak, itu terserah dia sepenuhnya."
Selama beberapa hari berikutnya, Firza mencetak puluhan foto terbaiknya—dipilih dengan hati-hati, memastikan tidak ada foto yang terlalu personal atau yang mungkin membuat Ami merasa tidak nyaman jika dilihat orang lain. Ia menata setiap foto dengan penuh perhatian, menambahkan keterangan singkat di bawah masing-masing, bukan tentang romantisme, tapi tentang momen dan makna yang ia tangkap—kejujuran tawa, keberanian dalam kerentanan, keindahan dalam kesederhanaan.
Proses memilih foto itu sendiri terasa seperti sebuah perjalanan emosional bagi Firza. Ia menghabiskan berjam-jam menatap setiap gambar, mengingat kembali detail momen yang tertangkap—percakapan yang menyertainya, cuaca hari itu, bahkan bau kopi atau wedang jahe yang menemani setiap pertemuan mereka. Beberapa kali ia harus berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca menyadari betapa banyak momen indah yang telah mereka lewati bersama, dan betapa besar risiko kehilangan semua itu akibat satu kesalahan yang bisa saja dihindari jika saja ia lebih sabar.
Ia mengundang Kirana, Dhika, dan beberapa teman Ami lainnya, meminta mereka menyampaikan undangan pada Ami tanpa memaksanya untuk hadir. "Kalau dia nggak mau dateng, nggak apa-apa," Firza menjelaskan pada Kirana saat menyerahkan undangan sederhana. "Aku cuma pengen dia tau, pamerannya ada, dan pintu selalu terbuka kapan pun dia siap."
Sore pameran itu tiba, dan ruangan studio Dhika yang biasanya dipenuhi alat musik kini disulap sederhana dengan puluhan foto tergantung di dinding, diterangi lampu-lampu kecil yang menciptakan suasana hangat. Beberapa teman Ami datang, memperhatikan setiap foto dengan seksama, beberapa bahkan terlihat terharu melihat betapa detail dan penuh perhatian Firza dalam menangkap setiap momen kecil kehidupan Ami.
Firza berdiri di sudut ruangan, gugup namun berusaha tenang, memperhatikan pintu masuk setiap kali ada suara langkah, berharap namun tidak berani terlalu berharap bahwa Ami akan muncul. Jam terus berjalan, dan meski beberapa pengunjung memuji hasil karyanya, kekosongan karena ketidakhadiran Ami terasa semakin nyata seiring sore berlalu.