Jogja, Aku kira Aku singgah

Bobby Mahmud
Chapter #28

BAB 26 — PENGAKUAN AMI

Tiga hari setelah kejadian di pameran, Ami akhirnya mengirim pesan yang sudah lama ditunggu Firza: "Bisa ketemu sore ini? Aku pengen cerita semuanya." Firza membalas secepat mungkin, mengiyakan tanpa ragu, meski hatinya dipenuhi campuran antara lega dan cemas membayangkan cerita apa yang akan ia dengar.

Mereka bertemu di rumah Ami kali ini, bukan di kedai kopi seperti biasanya—sebuah pilihan yang menandakan betapa personal dan pentingnya percakapan yang akan mereka lakukan. Ami menyambutnya dengan senyum tipis, mempersilakannya duduk di ruang tamu sederhana yang belum pernah Firza masuki sebelumnya sepanjang mereka saling mengenal.

Ruang tamu itu sederhana namun tertata rapi, dengan beberapa foto keluarga tergantung di dinding—foto Ami kecil bersama kedua orang tuanya, foto wisuda yang menunjukkan senyum bangga di wajah ayahnya. Firza memperhatikan detail-detail kecil itu, menyadari bahwa ini adalah pertama kalinya ia benar-benar diizinkan masuk ke ruang paling personal dalam kehidupan Ami.

"Firza, maaf soal kemarin. Aku tau itu pasti bikin kamu bingung dan mungkin khawatir," Ami memulai, tangannya meremas cangkir teh yang belum ia sentuh sejak diletakkan di meja.

"Aku nggak marah, Ami. Aku cuma khawatir sama kamu," Firza menjawab lembut, berusaha menciptakan ruang aman bagi Ami untuk bercerita dengan kecepatannya sendiri.

Ami menghela napas panjang, menatap ke luar jendela sejenak sebelum akhirnya mulai bercerita. "Reza itu... dia mantan tunanganku. Kami bertunangan delapan tahun lalu, waktu aku masih tinggal di Solo, sebelum aku pindah ke Jogja."

Firza mendengarkan dengan seksama, tidak menyela, membiarkan Ami melanjutkan dengan ritme yang nyaman baginya.

"Semuanya kelihatan sempurna waktu itu. Keluarga kami saling kenal, semua orang seneng, persiapan pernikahan udah jalan. Tapi dua minggu sebelum akad, keluarga Reza tiba-tiba ngebatalin semuanya," Ami melanjutkan, suaranya mulai bergetar mengingat kenangan yang jelas masih menyakitkan meski sudah bertahun-tahun berlalu.

"Kenapa?" Firza bertanya pelan, meski dalam hati ia sudah menduga bahwa alasan di baliknya pasti sangat berat bagi Ami untuk diceritakan.

"Ada gosip yang beredar, katanya Bapakku punya utang gede ke rentenir, dan itu bakal jadi aib buat keluarga Reza kalau tetep lanjut nikah sama aku," Ami menjelaskan, matanya mulai berkaca-kaca. "Sebagian gosip itu bener, Bapak emang sempet kesulitan keuangan gara-gara usaha yang gagal. Tapi cara mereka mutusinnya... di depan semua tamu undangan yang udah dateng buat acara lamaran ulang, Ibu Reza bilang langsung ke wajahku kalau aku 'nggak sepadan' buat anaknya."

Firza merasakan dadanya sesak mendengar cerita itu, membayangkan betapa menghancurkannya momen itu bagi Ami, dipermalukan di depan orang banyak karena masalah yang bahkan bukan sepenuhnya kesalahannya.

"Seluruh Solo tau soal itu dalam hitungan hari. Orang-orang mulai ngomongin aku di belakang, ada yang bilang aku emang nggak pantes, ada yang bilang keluarga aku emang bermasalah dari dulu," Ami melanjutkan, air matanya mulai mengalir meski ia berusaha menahannya. "Aku jadi bahan gosip di mana-mana. Setiap kali aku keluar rumah, aku ngerasa semua orang lagi ngeliatin aku, nyibir di belakang. Makanya begitu ada kesempatan kuliah di Jogja, aku langsung ambil, biar bisa lari dari semua itu."

Lihat selengkapnya