Beberapa hari setelah Ami menceritakan kisah Reza, hubungan mereka mulai kembali menghangat, meski keduanya menyadari ada lapisan kerentanan baru yang kini terbuka di antara mereka. Suatu malam, ketika mereka duduk di teras rumah Ami, ditemani secangkir wedang jahe yang mengepul hangat, Ami tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Firza tertegun.
Malam itu langit Jogja tampak cerah, dipenuhi bintang-bintang yang jarang terlihat begitu jelas di kota-kota besar. Suara jangkrik dan angin yang berdesir pelan di antara pepohonan menciptakan suasana yang tenang, seolah alam sendiri memberi ruang bagi percakapan penting yang akan segera terjadi di antara mereka.
Sebelum pertanyaan itu terlontar, mereka sempat berbincang ringan tentang hal-hal kecil—rencana Ami untuk mengunjungi pameran seni di Taman Budaya akhir pekan itu, keluhan Firza soal deadline pekerjaan yang menumpuk, candaan tentang wedang jahe buatan Ami yang menurutnya masih kalah enak dibanding buatan ibunya di Solo. Percakapan ringan semacam itu, meski terkesan sederhana, telah menjadi salah satu hal yang paling dinikmati Firza dari kebersamaan mereka—momen-momen kecil yang terasa begitu wajar, begitu nyaman, seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.
"Firza, kamu udah denger cerita aku soal Reza. Tapi aku masih penasaran satu hal—apa yang beneran bikin kamu takut soal hubungan? Bukan cuma soal Rasti, tapi apa yang bikin kamu masih ragu sekarang, sama aku?"
Firza terdiam sejenak, menyadari bahwa pertanyaan itu menuntut kejujuran yang lebih dalam dari yang pernah ia ungkapkan bahkan pada dirinya sendiri. Ia menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk benar-benar jujur.
"Aku takut aku bakal ngulang pola yang sama, Ami. Waktu sama Rasti, aku terlalu fokus kerja, terlalu yakin semuanya bakal baik-baik aja tanpa aku usahain secara sadar. Aku takut, kalau kita beneran serius, aku bakal jatuh ke pola yang sama—terlalu sibuk, terlalu yakin diri, sampai akhirnya kehilangan kamu kayak aku kehilangan Rasti," Firza mengaku, suaranya bergetar mengungkapkan ketakutan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Ami mendengarkan dengan seksama, matanya penuh empati. "Firza, kamu tau nggak bedanya? Kamu sekarang sadar soal pola itu. Dulu kamu mungkin nggak sadar sampai udah terlambat. Tapi sekarang kamu tau, dan itu udah jadi langkah besar buat nggak ngulang kesalahan yang sama."
"Aku juga sempet konsultasi ke psikolog beberapa bulan setelah cerai," Firza mengungkapkan, sebuah detail yang belum pernah ia bagikan pada siapa pun selain Bram. "Awalnya berat banget buat aku ngakuin butuh bantuan profesional. Tapi dari situ aku baru sadar, aku punya kecenderungan menghindar dari konflik, lebih milih diem dan kerja keras daripada beneran ngomongin masalah secara terbuka."
"Itu keberanian besar, Firza. Nggak semua orang mau ngakuin dan cari bantuan kayak gitu," Ami berkata tulus, menghargai kejujuran Firza soal prosesnya menghadapi diri sendiri.
"Aku juga takut soal umur, Ami," Firza melanjutkan, mengungkapkan kekhawatiran lain yang selama ini mengganjal pikirannya. "Sebelas tahun itu jarak yang nggak kecil. Aku takut suatu hari kamu bakal ngerasa aku terlalu tua buat ngertiin dunia kamu, atau aku bakal jadi beban buat kamu di masa depan."